Benarkan SBY ditolak oleh Alam :Tanggul Situ Gintung v.s (Stunami) Aceh.

Terpilaihnya Susilo Bamang Yudoyono sebagai presiden tidak lepas dari kepiyawaianya dalam berkampanya dan strategi politiknya waktu itu. Gaya dan cara penyampaian fisi dan misi sontan menyedot perhatian masyarakat indonesia. Kalangan ibu-ibu terperangah dengan penampilan dan gaya SBY dalam berkampanya, maka tak heran jika dalam sponsor yang dilansir di beberapa stasiun TV mengait-ngaitkan dengan ketanpanan SBY.
SBY dengan Demokrat sebagai mesin politiknya mengalangan kerjasama dengan kalangan parpol lain. pada saat bursa pemilihan presiden secara langsung dilaksanan pada tahun 2005, SBY dinyatakan sebagai pemenang. Dan menoreh sejarah sebagai orang yang pertama dipilih langsung oleh masyarakat.
Seiring terpilihnya sby sebagi preseden baru, masyarakat yang dulunya disuguhi dengan janji berharap banyak janji itu direalisasikan. Pada masa pertama kepemimpinannya sby dihadapkan pada persoalan rekontruksi akibat sunami di acih. Selang beberapa kemudian beberapa musibah di tanah air terjadi. Banjir pandang di jakarta, dan beberapa banjir di daerah lain yang memakan korban yang tidak sedikit.
Pemerintahan SBY benar-benar di uji, terjadinya beberapa bencana di tanah air memunculkan beragam reaksi dari masyarakat, banyak berasumsi bahwa SBY ditolak oleh alam. Terlepas benar atau tidak pernyataan tersebut, setidaknya hal itu menjadi kreksi bersama, mengapa peristiwa bencana kerap menimpa negri ini.
Bernarkah bahwa pemerintahan SBY tidak mendapat restu bumi? Benarkah pemerintahan SBY banyak meminta tumbal, dan korban Jiwa..?. mungkin pertanyaan itu terkesan mistis dan tidak rasional sama sekali, tapi toh memang tidak semua persoalan dapat diinterpretasikan dengan logika.
Jum’at sekitar pukul 03.25 pagi 27/03/2009, bencana kembali menimpa masyarakat Cirende Tagerang, korban pun berjatuhan, akibat jebolnya Tanggul Situ Gintung yang terletak di Cirende Tagerang Jakarta. Rumah yang berada di sekitar jembatan rata dengan tanah. seluruh kontruksi dan jalan transportasi hancur luluh lantak.
Mobil-mobil mewah berserakan di mana-man terbawa arus air. Tangis pilu dari beberapa keluarga dan teman korban tidak dapat dibendung, ada yang pingsan melihat kondisi keluarga dan temannya terbujur kaku.
Korban jiwa diperkirakan lebih dari 200 orang, ratusan orang dirawat di rumah sakit sekitar, dan beberapa pos kesehatan, korban yang dirawat di rumah sakit sebagian mereka mengalami luka-luka, patah tulang, dan troma akibat peristiwa tersebut, lebih dari 100 orang dinyatakan meningal (kemungkinan korban masih terus bertambah), sedangkan yang lain masih dalam proses pencarian. Sementara korban yang selamat diungsikan tidak jau dari tanggul, seperti di universitas Muhammadiah Jakarta, yang letaknya tak jauh dari tanggul Situ Gitung.
Menurut konfirmasi dari beberapa midia di TV, awal terjadinya inseden jebolnya tanggul, diperkirakan dari merembesnya air dari bawah dan derasnya hujan pada kamis siang hingga malam. Karna volume air terus meningkat dan usia tanggul yang tua. Tanggul tidak bisan menahan volume/debet air maka sehingga jebol. Masyarakat sekitar tidak mengira akan terjadi pristiwa banjir pandang.
Pemerintah pun sigap dengan peristiwa Jebolnya Tanggul Situ Gintung. Hal itu bisa dilahat dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudoyono kelokasi kejadian pada pukul 13.35, “saya sebagai presiden dan kepala Negara menyatakan ikut berduka cita atas musibah yang menimpa masyarakat Cirende Tagerang” ungkap SBY kepada wartawa. Presiden juga mengatakan bahwa dia sempat melakukan komonikasi kepada Yusuf Kalla, yang pada saat itu juga ada di lokasi kejadian dan telah mengintruksikan kepada mentri-mentrinya terkait, seperti harta rajasa, mentri kesehatan, mentri sosial dan mentri yang lain untuk bertindak cepat”.
Seperti diberitakan di beberapa stasiun TV sebenarnya keberadaan tanggul Situ Gintung sempat dikeluhkan oleh masyarakat. Masayarakat meminta pada pemerintah terkait untuk merenovasi tanggul, akan tetapi permintaan mereka tidak direspon. Kini tanggul itu memakan korban banyak, pemerintah dituntut untuk bekerja ekstra dalam pemulihan, memberikan ganti rugi kepada masyarakat.
Situ Gintung yang sebagian menjadi kawasan wisata kini berubah menjadi luapan lumpur yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Mengapa pemerintah tidak memperhatikan kondisi tanggul itu, kenapa mereka lebih mementingkan keutuhan individu, dengan kelengkapan dikantor nan mengah, sementara keberadaan masyarakat tidak diperhatikan.
Pahal dinas PU telah mengalokasikan anggaran untuk merenovasi tanggul-tanggu termasuk Situ Gintung, tapai mengapa hal tidak di laksanankan, sedang dana untuk renovasi tidak sedikit, triliunan rupiah. Lalu dikenamanakan alokasi anggaran tersebut.
Peristiwa naas yang menimpa masyarakat tangerang, mengingatkan kita pada peristiwa stunami di Aceh, dan beberapa peristiwa lain seperti banjir dan lainnya. Tak pelak negri ini menjadi langganan bencana, mulai dari bencana yang bersekala kecil sampai sekala besar.
Kini saatnya kita untuk intro peksi diri. Begitu pula para memimpin kita. Mungkin selama ini kota lupa memperhatikan lingkungan, kita terlalu asyik dengan kemengahan personal hinggga mengabaikan dan lupa akan alam yang juga butuh perhatian kita.
Atau mungin alam sudah bosan melihat tingkah laku kita, yang hanya bisa mengeksploitasinya. Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Be the first to start a conversation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: