IKLIMA

Posted on 25 Maret 2011

0


IKLIMA. Apa yang terbayang dipikiran anda saat mendengar nama IKLIMA, apakah anda melihatnya sebagai sosok yang hidup. Sebelum jauh menerjemahkan dan biar bayangan anda terarah saya perlu menegaskan IKLIMA bukan sosok orang. Apalagi sosok perempuan yang cantik keturunan Nabi atau para raja. Bukan, IKLIMA bukan perempuan. IKLIMA adalah organisasi yang menaungi individu-individu dengan dedikasi tinggi.

IKLIMA ada sekitar tiga tahun yang lalu (Agustus 2008) . Keberadaannya bukan tanpa disengaja atau tidak diniatkan. Akan tetapi IKLIMA sengaja dibentuk. Dibentuknya IKLIMA untuk mewadahi kegelisahan individu-individu yang selama ini tercecer dibeberapa lembaga perguruan tinggi baik yang di negeri atau pun swasta. Dibawah naungan Organisasi IKLIMA kami sama-sama berperoses untuk mengaktualisasikan diri.

Kami belajar berujar, mengujar, belajar menelaah fenoma baik dari segi tekstual dan kontekstual. Belajar mencari makna (agama, sosial, budaya, dan politik) sekaligus mendalami makna “subtansi” dari makna itu sendiri. Bahkan kata teman “kita pun bisa belajar soal Tuhan, dan menjadi Tuhan”. Di organisasi inilah semua kami dalami bersama. Organisasi telah banyak memberi pendidikan untuk bekal esok.
Ya, IKLIMA adalah organisasi, sebagai organisasi Ia pun tidak mampu membawa dirinya apalagi orang yang ada di dalamnya. IKLIMA hanya singkatan (Ikatan Alumni Al-in’am Malang). Sebuah singkatan yang dibentuk oleh kumpulan individu. Individu itu yang melahirkan ide “nama” IKLIMA. Kemudian IKLIMA menjadi satu wadah yang menaungi individu. Individu ini bertanggungjawab secara struktural, dan subtansi keorganisasian.

Pendevinisian IKLIMA lokalitas sekali. Terbatas pada lingkup Malang. Malang sebagai basis, basis kelahiran dan bermulanya basis juang. Basis juang apa ? kami memaknainya sebagai ekspirasi, atau pengaktualisasian diri. Lalu mengapa harus berbasis pada juang “perjuangan”. Ekspresi “mengekspresikan” diri merupakan perjuangan. Dan perjuangan itu adalah alat untuk membedah makna yang lebih luas.

Sebagai organisasi lokal tentu kelahiran itu pun harus dilihat dari rahim yang melahirkan–“kumpulan individu”-nya. Iklima lahir dari rahim individu-individu yang lokalitas jauh di ujung timur Madura palau garam, Sumenep tepatnya. Karena rahim itu terdiri dari kumpulan individu, keanekaragaman pun menjadi salah satu ciri dan karakter IKLIMA lebih unik.

Madura-Malang. Secara geografis Madura dan Malang berbeda. Namun keduanya tidak bisa lepas dari nilai kelokalan-nya “Madura dan Malang”. Kedua lokalitas berasimilasi atau diasimilasikan. Namun asimilasi tidak untuk merubah ciri dan karekter masing-masing. Karena bagaimana pun nilai lokalitas itu penting dan tidak harus sama, pasti ada banyak perbedaan. Akan tetapi kami tidak untuk membahas perbedaan. Kehadiran dan kelahiran organisasi berupaya membangun paradigma bertanggungjawab sesuai kepabilitas dan ekstabilitas SDM di dalamnya.

Mampukah roda organisasi ini bertahan?, sebuah pertanyaan yang perlu diutarakan dan mendasar sekali. Kalau berkaca pada kepengurusan IKLIMA di tahun 2010. Amat sangat pesimis organisasi ini mampu bertahan. Tahun 2010 jadi sejarah kelam, dan tanda-tanda kematian “mati” pun terbaca. Sang nahkoda tidak sanggup mencapai tujuan. Jangankan sampai pada tujuan, berjalan pun tidak.

Kesadaran itu pun hadir. Sang nahkoda yang selama ini menutup telinga akhirnya bersedia mengawalinya. Saya pun membaca kemandekan “ketidak berjalanan organisasi” merupakan dinamika dalam berorganisasi, dan kasus semacam itu bisa terjadi di organisasi mana pun. Ini menunjukkan bahwa labelitas “organisasi IKLIMA” tidak mampu merepresentasikan dirinya sebagaimana terumuskan. Ketika individu itu kehilangan konstelasi Ia pun hanya jadi label yang kehilangan subtansinya. Untung saja individu-indivitu itu menghadirkan dirinya sehingga label itu kini hidup, dan kehidupan ini akan mengasilkan makna “sejarah” .

Semoga kesadaran ini terus tumbuh dan berkembang kedepannya. Dan kita pun harus memupuknya supaya mampu bertahan “hidup” dan lebih hidup.

saya sepakat dengan refleksi teman-teman. Bahwa organisasi ini sebagai wadah silaturahmi. Melalui silaturahmi kita bisa saling tahu keadaan satu dan yang lain. Tapi perlu teman-teman garis bawahi bahwa silaturahmi ini bukan sekedar silaturahmi yang tanpa syarat dan makna. Silaturahmi ini sebuah kontruksi nalar. Nalar kita diasah dan kita pun mencoba mengasah. Jika kegiatan semacam ini diintensifkan–konsisten, akan banyak manfaat yang bisa diambil dan kita dapat mempelajari lebih mendalam lagi soal itu.

Kuliah-oragnasasi, kita tidak bisa menyamakan kegiatan organisasi “IKLIMA” dengan kegiatan “kuliah” yang birokratis itu. Namun kita dapat mengambil manfaat lebih dari sekedar duduk dan mendengarkan kuliah dari dosen. Organisasi tidak mencetak nilai matematis, seperti halnya saat kita duduk di bangku kuliah. Tetapi bila kita hendak mengkalkulasikan dan menimbang kemanfaatannya, yakini organisasi itu lebih bermanfaat dari sekedar mengisi absen “kuliah”. Di organisasi kita dapat berperoses dengan bebas dan bertanggungjawab. Beda dengan kampus dimana setiap tindakan dan capayan dikalkulisan secara terbatas “kurikulum-pembelajaran”.

BELAJAR
Individu-individu itu pun mengikat kehendak dalam satu wadah keoraganisasian “IKLIMA”. Mengikat, bukan diikat. Keterikatan itu disebut loyalitas. Loyalitas ini dikontruks dan disandarkan pada apa yang tersepakati dalam butir AD/ART. Dan AD/ART pun sama-sama kami pelajari dan kami sepakat untuk belajar sampai titik tak terhingga.
Pergulatan bisa melahirkan kemerdekaan, meskipun humanisme yang mengagungkan kedigdayaan insani sering akhirnya gagal membebaskan manusia. Tapi yang gagal tak berarti bersalah. ”Kalau yang buruk jua yang datang, sesungguhnya memang bukan urusan kita lagi,” kata si ibu kepada suaminya (Catatan pinggir Goenawan Muhammad).

Melalui IKLIMA kami pun berbuat untuk lebih baik, namun kebaikan itu tidak menjamin sebuah konklusi yang tidak tersoal karena kami sadar ini sebuah peroses yang harus dilalui oleh manusia seperti kami. Semoga soal-soal itu nanti terjawabkan, andai tidak itu tidak berarti salah bukan!. “kalau jawaban yang diberikan manusia tidak memuaskan, itu bukan urusan kita lagi”. Bukankah begitu. Bahwa kerinduan akan kebersamaan sangat kodrati dan itu terjadi pada diri kami. Satuhal yang menurut saya membanggakan kita “IKLIMA” telah meletakan batu sejarah. Dan kita tengah membuat sejarah itu.
Salam juang untuk kita semua….!!!

Posted in: Uncategorized