PKLI (TUREN-MALANG) BAGIAN 4

Posted on 30 Juli 2010

0


Kawan-kawan PKLI semuanya, saya berharap kebersamaan ini menjadikan kita semakin baik. Tentu kawan sudah paham bahwa (dalam pelaksanaan PKLI) kita tidak hanya dituntut mampu menguasai materi. Namun kita juga dituntut mampu menguasai diri, pengusaan emosi, kultur, kehendak,dan ambisi. Keberadaan kita di sini tidak untuk saling mengunggulkan diri, ‘diri adalah yang terbaik’. Tapi kekompankalah yang akan mengantar kita pada satu momentum sejarah. Kekompakan merupakan satu kunci dalam meletakkan pondasi dimasa yang akan datang.
Kawan, Jika selama ini kita dicecar dengan teori, maka saat ini kita harus mampu mengaplikasikan teori yang telah sama-sama kita pelajari. Memang kalau bicara soal aplikasi ‘praktek’ akan berbeda dengan saat kita belajar di kampus. Jika pada saat belajar teori di kampus kita dapat memperluas analis dan argumentative, sesuai kadar bacaan kita. Hal itu akan berbeda pada dunia praksis. Di dalam dunia praksis argumentatif tidak lagi penting. Tapi yang lebih pengting adalah tindakan. Tindakan akan menentukan nilai masing-masing antara kita.
Saya senang saat melihat teman-teman antusias melaksanakan kewajiban-nya masing-masing. Seperti menggarap tugas dan berkenan hati masak buat teman-teman putra. Khusus bagi teman-teman putri dimohon kesabarannya dalam melayani anak putra. Bukan maksud saya untuk menempatkan teman putrid pada posisi yang lemah. Perlu teman ketahui hal itu dilakukan untuk menempatkan diri pada kadar dan porsinya. Dan yang lebih penting adalah untuk mengenal karakter antara satu dan yang lain. Jika putra membantu memasak bukan berarti tidak menghargai pekerjaan kalian ‘perempuan’, tidak. Gagasan makan bersama dilakukan agar paridigma dan egosentrisme antara kita bisa berkurang, itu saja.
Saya akui masih belum bisa seperti kalian. Kawan Jika dalam canda ‘perkataan’ antara kita ada yang menyinggung maka jangan diambil hati, semua hanya untuk menghidupkan suasana. Masak kita selalu serius, canda itu penting juga untuk mengendorkan ketegangan syaraf. Bila canda ‘gurauan kita tanpa sengaja telah melukai perasaan teman-teman yang lain “maka dengan kerendahan hati kita meminta maaf”. Oya barangkali sikap saya dan perkataan saya pribadi ada yang menyinggung teman-teman mohon dimaafkan. Bila teman sudi mohon diingatkan. Jika teman-teman bicara dengan baik-baik tentu saya akan senang sekali.
Ingat beras bersis lantaran adanya gesekan satu dengan yang lain. Maka saya pun berharap teman-teman mampu melakukan sagtu pendekatan konstruktif dalam melakoni sisa waktu yang singkat ini. Ingat kebersamaan kita hanya sekitar dua bulan setengah, hal itu bukan waktu yang panjang. Mari waktu yang singkat ini kita isi dengan muatan yang positif konstruktif. Kita adalah pelaku sejarah, dari itu mengapa kita menjadikan waktu yang sangat pendek ini dengan muatan sejarah positif konstruktif. Sejarah akan menghidupkan kita. Hitam putihnya kebersamaan ini kitalah yang menentukan bukan orang lain. Jika beberapa hari lalu kita dihadapkan pada kebiasaan yang berbeda, itu hal yang wajar. Biarkan opini-opini itu mengalir tapi kita tetap satu.
Jika ada perkataan saya yang kasar mohon dimaklumi, karena karakter saya memang seperti itu. sebenarnya saya ingin berlembut-lembut ria ‘bermanja-maja’ namun batin tidak dapat berkompromi. Entah kenapa mungkin saya perbanyak belajar dari teman-teman. Saya kira ini yang paling penting. Coba teman-teman bayangkan, dalam satu kelompok dengan karekter berbeda kita hampir termakan isu yang kurang enak dihati.
Berkat kedewasaan berfikir teman-teman akhirnya kita dapat mencairkan kebekuan menjadi sebuah akulturasi yang unik, dimnan antara satu dengan yang lain dapat menghargai. Kalau kita selalu oktimis insyaallah segala kesulitan dapat kita atasi sam-sama. Teman-teman adakala kita sering suka memanfaatkan teman dalam hal tertentu baik lewat canda atau yang lain, kuharap kita sama-sama bisa meletakkan pada porsinya.
Yang disangka busyuk itu bukan berarti tidak baik, dan jangan terlalu kita percaya pada simbolis. Mari kita sama-sama saling menjaga.
Wallahua’lam

Posted in: Uncategorized