PARAMA’AN SUDAH PUNYA MASJID

Posted on 25 Juni 2010

0


Akhirnya Impian warga Dusun Parama’an untuk memiliki Masjid sendiri kini terwujud.
Pertama saya bersykur pada Allah swt yang telah memberikan hidayah bagi kita ummat islam. sejatinya Allah-lah yang merencanakan semua kejadian, termasuk apa yang terjadi di dusun paramaan. Kini warga tidak perlu lagi mender karena tidak punya Masjid. Karena dulu ada anggapan seperti ini, “kita malu terhadap warga dusun terlihat miskin namun punya Masjid megah sementara kita penduduknya yang tergolong punya miskin tempat ibadah”.
Saya berharap adanya Masjid tidak menjadikan warga menyempurnakan diri. Kalau sebelum punya masjed merasa malu lantaran tidak punya Masjid. Maka setelah dibangunannya Masjid tidak memberi peluang bagi warga unjuk diri, “kami kaya kami pun kini punya rumah ibadah ‘Masjid’ yang mengegah” akhirnya warga tidak merasa malu lagi dan merasa berhak mengangkat diri kepermukaan.
Dusun Parama’an benar-benar kaya dan menjadi salah satu simbolisme relegius yang super hero. Kedewasaan warga pun sangat terukur dan terarah. Bagaimana tidak percahan imam tidak menjadikan pertikaian fisik, mereka secara suka rela berpisah secara baik-baik, kemudian mendirikan jamaah masing-masing. Artinya dosis keterbukaan sangat terukur dengan baik dan mau menerima itu yang perlu jadi cata-tan.
Dalam perbedaan pandangan soal imam solat (mendidrikan dua solat jumat dalam satu kampong) pun masyarakat mendapat satu pendidikan agama yang jarang mereka dapat dan peroleh di tempat-tempat pengajian. Kalau selama ini pemahaman masyarat mengenai imam ‘solat’ jum’at harus satu imam dalam satu kampong, kini mereka pun terlihat dinamis dalam menyikapi masalah. Dan akhirnya mereka pun dengan kerelaan sama-sama mengakui dan tidak jatuh pada saling menyalahkan satu sama lain.
Kalau dulu Dusun Parama’an miskin tempat ibadah ‘tidak punya majid’. Kini berbeda dan boleh dikata kaya, ya Dusun Parama’an berbeda kalau dulu tidak punya tempat ibadah ‘majid’ kini dusun kita sudah punya dua Masjid sekaligus. Prestasi bukan. Kalau dulu masyrakat luar dusun memandang sebelah mata kini mereka harus berguru, bagaimana cara membangun Masjid dalam sekala yang hampis bersamaan. Masyakat tidak hanya harus berguru maslah pembanguan Masjid namun cara pandang soal agama pun mereka perlu banyak belajar dari dusun ini.
Namun di tengah kemeriahan pembangunan Masjid, dan kedinamisan berfikir masyarakat soal agama dan hokum. Ada sebagian yang masih tergantung dan merasa dipecundangi. Namun tidak perlu kita mempersoalkan itu. Bukankankah kita harus menatap kedepan. Kerena hidup ini selalu dinamis. Namun tak ada salahnya jika kita tetap peduli dan selalu melihat masa depan dengan memperhatikan sejarah masa lalu.
Kepada al-marhum K.H Abdul Azis, semuga Allah senantiasa mengampuni segala kesalahannya dan memberiakan tempat terindah disisinya. Berkat perjuangan al-marhimlah masyarakat dusun paramaan. Beliau dengan organisi sederhana waktu itu mengajak masyarakat berkumpul untuk mengaji dan belajar solat. Kemudian setelah upanya berhasil membimbing solat yang lima waktu K.H Abdul Azis mengajak masyarakat untuk mendirikan solat jum’at. Perjuangan itu pun berhasil dilewati dengan penuh kesbaran.
Jadi didirikan solat jumat pertama kali di dusun kita lantaran jasa al-marhum K.H Abdul Azis. Dari K.H Abdul Azis kita dapat belajar keteladan dan kepemimpinan yang tetap mengedepankan satu kesatuan ummat. Almarhum tidak pernah memfatwakan satu hokum yang asing. Dengan gayanya yang homuris dan tetap kharismatik dia mampu menciptakan masyakat yang berjiwa agamis penuh sahaja. K.H Abdul Azis bilang dating lebih awal saat solat jum;at (pada sof pertama) adalah paha, dial dia sendiri yang mempraltekkannya. Artinya antara apa yang disampaikan selalu sesuai dengan tidakan kesehariannya.
Kini masyarat sudah punya Masjid yang juga menjadi impian K.H Abdul Azis. Bahakan mungkin melebihi harapan al-marhum, karena sekarang warga Dusun Parama’an tidak hanya memiliki satu mesjid namun dua mesjid sekaligus. Entah kalu K.H Abdul Azis masih ada apa komentar beliau soal dinamika keberagamaan warga dusun paraan. Dulu ketika beliunya sehat saya berkesempatan diskusi dalam diskusi itu belia menyinggung watak warga dusun yang tidak mau mengerjakan solat jum’at, beliau ngomong seperti ini “kalau aku punya bom orang parmaan itu, sudah ku bom pertama kali”. Kemudian beliaunya tertawa.
Kita berhutang budi kepada K.H Abdul Azis, namun apakah kita mengakui akan hal itu. Atau bahkan tidak pernah mencoba mengingat jasa beliah lantaran kita telah memiliki idola baru. Semoga berdirinya dua Masjid di dusun kita semakin membaut kita lebih dekat kepada-Nya dan tentu juga ingat pada leluhur yang menggas jalan itu sendiri.
Mari kita buang sikap dan prasangka yang tidak baik, baik kumi timur atau pun kubu barat. Mempersoalkan itika Bergama sangatlah kurang etis seperti solat jum’at di barat lebih sahan dari solat jum’at kubu timur. Bukankah islam mari kita memaknai berdiri dua solat jum’at dalam satu kampong sebagai kedinamisan berfikir, agar tidak jatuh pada penghakinan dan merasa benar sendiri. Solat jumat baik di kubu timur atau barat sama-sama sah. Sekarang tugas generasi adalah mengajak mereka yang tidak solat.
Kemudian bagi yang sudah melaksanakan sulat jemaah di Masjid untuk semakin meningkatkan ibadahnya karena sudah punya rumah ibadah sendiri maka jangan sungkan untuk bermunajat disetiap saat. Penuhilah saf-saf Masjid itu. Meriahkan dengan berjemaah setiap waktu. Malulah pada kemegahan Masjid jika tidak berjemaah. Jadian setiap individu sebagai teladan jangan melihat pada kanan kiri dalam hal ibadah. Lakukan ibdah itu dengan keikhlasan karena Allah.

Posted in: Uncategorized