AGAMA DAN KEADILAN GENDER

Posted on 25 November 2009

0


“Perempuan adalah sahabat baik Agama, akan tetapi agama tidak pernah menjadi teman baik bagi perempuan”. Husain Muhammad.
Sebuah pertanyaan mendasar mengapa agama sering mempatologikan perempuan. Mengapa perempuan dipandang sebagai mahluk yang imperior, menjadi budak dari laki-laki (perempuan harus taat dan patuh pada suaminya). Benarkah islam menjadi bagian yang berperan mempatologikan perempuan. Pertanyaan tersebut merupakan persoalan mendasar dan klasik.
Keadilan terhadap perempuan dalam tataran praksis masih jauh dari harapan, intimidasi dan penyalah gunaan kewenangan masih kerap dilakukan oleh laki-laki. Dominasi laki-laki pada perempuan menjadi hal yang sangat rumit, kerena agama yang pada awalnya sebgai pembawa kabr gembira dan pembesan ternyata tidak untuk perempuan. Bahkan agama dalam hal ini sering dijadikan legitimasi oleh laki-laki sebagai pembenaran dari apa yang dilakukan.
Benarkah agama tidak adil ‘pemperlakukan’ terhadap perempuan ! kalau kita mengkaji persoalan ini maka kita akan menemukan beberapa ketidak adilan ‘kejanggalan’ terhadap perempuan. Contoh kasus kesaksian satu perempuan dipengadilan pandang lemah ‘tidak syah’ secara hokum. Mengapa agama memperlakukan perempuan sedemikian rupa.
Ketika kita mencoba mengangkat persoalan ‘penindasan’ perempuan banyak orang mengklaim bahwa itu paham sekuler, yang dipandang sebagai orang yang hendak mencedrai agma, karena menurut mereka ketentuan agama merupakan satu hal yang mutlak yang tidak dapat diganggugat. Sementara disisi lain laki-laki dengan kewenangannya telah menjadikan mereka berlaku tidak adil dan sering melanggar hak perempuan.
Contoh kasus missal dalam perceraiyan. Laki-laki yang mencerai istrinya dalam waktu tertentu bisa kembali apa bila dia mau, dalam hal ini perempuan sering mendapat perlakuan yang tidak adil. Apa bila perempuan melakukan kesalahan laki-laki berhak menceraikannya. Kalau laki-laki berbuat kesalahan terhadap perempuan tidak bisa berbuat banya dan hanya bisa pasrah.
Di dalam rumah tangga perempuan dibebani beberapa kewajiban, taat dan patuh terhadap suami. Ending dari cerita itu merupakan pahala dan balasan surge di hari kelak.
Keistimewaan laki-laki atas perempuan memang sangat teristemewa dengan legitimasi agama sekaligus. Dan apa bila ada yang mencoba mempertanyakan hal itu, maka klaim sesat dan beberapa argumentasi lain akan muncul seperti dalil-dalil agama. Apakah perempuan memang ditakdirkan untuk tersubordinasi oleh agama. Dimanakah letak keramahan “gama rahmatan lilamin” agama terhadap perempuan?
Apakah agama yang salah atau manusia yang tidak bijak dalam menafsiri agamanya. Ini merupakan sebuah persoalan yang urgen yang harus kita pecahkan.
Dalam buku islam Agama Ramah perempuan yang ditulis oleh K.H Husein Muhammad dikatakan bahwa penindasan yang dialami oleh perempuan merupakan ketidak fahaman dalam menafsirkan teks agama. Persoalan lain yang juga muncul dalam sosio kultur yang sering dijadikan acuan oleh kalangan masyarakat yang juga dilegalkan dengan dalil-dalil agama.
Of the recod

Posted in: Uncategorized