INTERPRETSI TEKS TUHAN, KITA DAN KEBASAN

Posted on 26 Juni 2009

0


Srimonial kehidupan antara fakta dan realita

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali bila kaum yang bersangkutan berusaha mengubah sendiri keadaannya” (Qs. Ar-Ra’du : 11).

Saudaraku ….

Tabir telah tersingkap dan rahasia telah terungkap ini sungguh nyata dan begitu dekat, lebih dekat dari bayang-banyag khayalan. kalian direndahkan! malam-malam masa muda telah kalian sia-siakan dalam teriakan kegembiraa. ini benar-benar nayata.

Saudaraku seiman dan sekeyakinan. Saat nyalah kita membuka tabir kebekuan yang selama ini kita anggab tabu, kalau selama ini kita selalu berpangku tangan dan pasrah terhadap nasip dan takdir, maka kenapa kita tidak coba untuk mengubah takdir itu. Bukankan Tuhan sendiri telah memberikan kewenangan-Nya kepada kita, lalu untuk apa kita selalu apatis dan menganggap, apa yang kita jalani adalah semata-mata takdir-Nya, apakah itu dibenarkan menurut agama ? apakah agama (Tuhan ) kita sekejam itu ?.

Saudaraku sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita, itu semua adalah kemauan kita, dan kesalahan kita dalam menempatkan posisi kita. Lantas kenapa kita sering cepat memberikan kesimpulan bahwa apa yang terjadi terhadap kita (baik dan buruk) adalah kehendak Tuhan. Semudah itukah kita menyimpulkan persoalan kita, dengan melemparkan segala kewenagan kita dengan bahwa Tuhanlah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada kita.

Kalau kita mencermati dengan teliti dan melakukan telaah secara mendalam ayat di atas kita dapat memberikan sebuah simpulan tersendiri. Lantasa masihkah kita mengantungkan segala eksistensi kita kepa-Nya. Tidak salah jika Max dan Freud menganggab bahwa (orang yang meyakini keberadaan Tuhan) manusia itu gila, berada dalam kegilaan. Jika kita tetap mengantungkan apa yang kita lakukan itu semata-mata karna tuhan maka kita telah masuk dalam kata gori yang dikatan oleh Freud tersebut.

Ayat tersebut secara tegas memberikan ruag dan eksistensi manusia bagi manusia sendiri. Siapa yang tidak ingin hidupnya lebih baik, tentu setiap manusia normal menginginkan hal itu. Begtu juga saya, memiliki keinginan untuk hidup lebih baik. Saya hidup dan dibesarakan di kalangan keluarga yang serba berkekurangan. Bukan maksudnya saya untuk mengingkari nikmat Tuhan yang telah diberikan pada saya dan juga keluarga. Setidaknya meski saya hidup dalam keluarga yang sedrhana, saya bersyukur dengan segala yang telah Allah berikan pada saya juga keluarga, karna sampai saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mengenyam pendidikan sampai ke perguran tinggi, ini merupakan nikmat Tuhan yang tiadatara bagi saya.

Saya mengatakan demikian, karna orang-orang yang memiliki kemampupuan secara finansial mereka tidak melanjutkan pendidikan anaknya sampai kejenjang yang lebih baik/sampai pada tataran perguruan tinggi. Entah kenapa ?, kalau saya cermati diantara teman-teman saya mereka seperti terbelenggu dengan sebuah sistem dan teradisi yang lebih kuat dan mengakar, yang ada di masyarakat itu sendiri. Sebenarnya mereka memilki keinginan seperti halnya saya ”melanjutkan keperguruan tinggi/ sekedar menyelesaikan sampai SMA. Alih-alih keterbelakangan para orang tua menjadikan mereka pesimistis.

Apala lagi ada sebuah selongan ”taat pada orang tua, adalah serminan anak yang baik, percuma melanjutkan (menuntut ilmu sampai jauh tapi tidak, dijalankan) sampai keperguruan tinggi, th nantinya hanya menjadi kuli biasa”. Secara garis besar teman-teman saya yang putus sekolah ”karna taat pada orang tua” takut kena laknat jika mengkal tidak patuh pada orang tua. Kedua karna mereka pesimis terhadap masa depan mereka, karna seperti apapun tingkat pendidikan yang diperoleh tidak bisa menjamin akan masa depannya, untuk lebih baik.

Jika alsan pertama tidaka melanjutkan sekolah ”pendidikan” karna ketaan atan mereka pada orang tua, hal itu dibenarkan oleh sistem dan kebiasaan yang berlaku, apakah hal itu dibenarkan ?. ada dua permasalahan yang sebenarnya perlu diluruskan disini, yaitu antara ketaan dan anggapan baik masayarakat terhadap anak itu sendiri. Taat bukan berarti selalu menuruti keinginan orang tua, karna bagai amanapun orang tua itu manusia biasa,mereka juga bisa salah, nabi saja pernah salah, apalagi orang tua kita tentu mereka juga bisa salah. Ketika mereka salah apakah kita memilki kewajiban untuk mentaati mereka. Apakah dalam agama ada anjuran taat secara buta.

Jika para orang tua beranggapan anaknya selalu enggeh dewo taat dan tidak pernah membantah ” adalah seutu kebanggaan ”baik” apakah itu juga benar dan dibenarkan. Mungkin dari kaca mata orang tua hal itu baik dan menjadi kebaggaan tersendiri bagi mereka. Pertanyaan sekarang apakah orang tua meresa bangga melihat anaknya tergilas oleh pradaban zaman. Ketaan mereka bukan jaminan kebaikan terhadap mereka. Baik untuk saat itu belum tentu untuk sekarang dan yang akan datang.

Disini dibutukan kesadran dari berbagai pihak baik itu dari para orang tua itu sendiri, lebih-lebih anak sebagai generasi penerus. Para orang tua harus lebih terbuka terhadap segala perkembangan. Begitupun seorang anak harus selelu peka melihat kondisi sosial yang semakain hari dipenuhi berbgai tantangan. Teradisi itu penting akan tetapi teradisi yang tidak berlandasa pada pendidikan juga perlu diwas padai.

Jika alasan kedua seorang anak pesimis untik melanjutkan pendidikan kejengjang SMA-PT (Perguruan Tinggi) karna tida ada jaminan kesuksesan di masa depan hal itu juga perlu diluruskan. Sukses bukan diukur dengan dia bisa menjadi pejabat /memperoleh posisi tertuntu. Sukses itu juga bukan diukur dengan dia mendapat pekerjaan dam memiliki gaji besar, sukses itu adalah ketia dia bisa menemptakan posisinya secara baik dan proporsional. Sukses itu ada dalam bingkai hati, sukses itu adalah jika dia merasa bahagia menjalani hidupnya, tenang, tentu hal itu tidak bisa diperoleh dengan materi dan limpahan harta. Hal itu bisa dicapai dengan kesadaran dan jejang pendidikan yang matang.

Tuttutlah ilmu walau sampai kenigri cina” Al-hadits

Himbawan itu dilontarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dia adalah ummat pilihan bapak dari segala bapak di muka bumi. Tentu banyak alasan mengapa Nabi melontarkan perkataan itu. Saya tidak akan mengulas secara detai; tentang eksistensi dan latar belakang munculnya hadits tersebut, tapi mari kita renungkan bersama dan dijadikan sebagai referensi bagi kita dan masa sepan generasi kita, agar jangan pesimis menatap pasa depan.

Kalau kita kaitkan anggapan orang tua ”tidak perlu menuntut ilmu jauh jauh-sampai keperguruan tinggi” maka himbawan itu termentahkan dengan sendirinya. Lantas bagai mana seorang anak menangkap dan mengafirmasi intruksi Nabi tersebut ?. Kutipan (Qs. Ar-Ra’du : 11) saya kira amat jelas,Tuhan memberikan seluas-luasnya pada manusia itu sendiri untuk menetukan nasipnya.

Detik-Detik Menjelang Uan.

Pada saat itu aku dan juga teman-teman yang lain tengah sibuk mengikuti peralajan tamban BIMSUS (Bimbingan Khusus). BIMSUS adalah salah satu progran sekolah menjelang UAN (Ujian Akhir Negara). BIMSUS sendiri dikonsentraskan pada tiga mata pelajaran khusus sesuai jurusn masing-masing, untu IPS yang wajib yang masuk BIMSUS Pelajaran Bahasa Indonisia, Bahasa Ingris, dan Ekonomi. Pelajaran yang tidak masuk UAN jam pelajarannya dikurangi, yang biasanya tiga jam-menjadi dua jam.

Kegiatan BIMSUS sendiri dilaksanakan pada jam dua siang samapai jam empat 15 menit sore hari. BIMSUS diwajibkan bagi seluruh siswa/i, dan jika tiga hari absen secara berturut-turut maka akan dipanggil oleh BP, dan telat masuk maksimal 15 menit. BP adalah badan pengawas yang bertugas secara khusus dalam bidang konseling dan permasalahan-permasalahan siswa/i. Tak jarang setiap hari pasti ada yang dipanggil kekantor BP.

Aku sendiri bersukur karna tidak pernah telat, karna tempat tinggalku saat itu dekat dengan tempat sekolah, hal itu menjadi keberuntunganku karna semenjak aku kelas XII aku tinggal di rumah guru kompeterku. Sebelum itu aku tinggal di Musollah sekolah dengan teman-teman yang lain, waktu itu yang tinggal di Musollah sekitar nam-delapan orang anak, rata-rata yang tinggal di tempat itu adalah orang yang kurang mampu sepereti hal-nya aku. Waktu itu aku juga teman-teman yang lain ikut membantu di rumah guru komputer pak Didit, pak Didit adalah Guru komputer baru di MAN Sumenep, belum sampai stu tahunan mengajraj di MAN, perta aku juga teman-teman yang lain bolak balik dari rumah pak Didit, malamnya terkadang tidur di konternya, dan subuh-subuh kita segera bergegas solat di Masjid, ebetulan rumah pak didik dekat dengan Masjid sekitar 20 m dari depan rumahnya, selesai solat aku dan juga teman yang lain bersisp-siap pulang ke Musollah dan berangkat sekolah, sehabis pulang dari sekolah sekitar jam 13.15 kita pun balik ke untuk menunggui rental di pak Didik. Kurang lebih 3-5 bulan aku bersama dengan teman ada di rumah pak Didik menunggui Rental yang baru dirintisnya, setelah itu aku tidak algi di sana. Aku diminta oleh Guru komputer senior Azam Prayitno untuk menunggui rental yang sama, tepatnya di jl pahlawan di pangarangan.

Sebenarnya pak Didik dan dan Azam adalah patner dalam merintis rental dan penjualan komputer, karna ketidak cocokan akhirnya mereka memisahkan diri, dengan mendirikan konnter lain, konter yang dijalankan pakdidik tetap berjalan, dan pak azam merintis ulang dari awal, sesuai dengan pengakuan yang diceritakan oleh pak azam, sebanarnya konter dan rental penjualan koputer yang dijalan oleh pakdidik adalah sebuah usaha bersama, karna pak azam sering dirugikan (saat menjual komputer kekonsumen pak didik tidak jujur) akhirnya dia memutuskan untuk merintis usaha lain.

Awalnya saya tidak begitu kenal akrap siapa Azam, waktu itu saya sedang mengikuti pelajaran Komputer yang ia bimbing, saya duduk tepan di depan komputer menghadap selatan, saya sedang asik mengotak atik mose mengoprasikan komputer, pak Azam yang menjadi instruktur pada waktu itu menghampiri saya,

”kamu sedang buka apa….?” pak azam menghapiri saya, dia duduk di angku pas disamping kanan saya, saya sempat grogi dan agak canggung, tidak biasanya dia menghampiri saya seperti ini.

”dak Cuma buka-buka file yang kemarin saya dapat, sambil belajar ngetik”

”Kamu masih sama Khotip di Musollah”

Pak Azam menanyai saya, dan juga tetan-teman yang ada di mosollah MAN.

”iya pak,” jawab saya dengan singkat

Kemudian dia bercerita banyak tentang Khotib. Khotib lah pertama kali yang dipercaya oleh pak Azam untuk menjaga Konter komputernya. Tapi entah tanpa alasa yang jelas menurutnya Khotip tidak kembali lagi, biasa ia menjaga Konter miliknya. Setelah itu dia meminta pada saya untuk menjaga konternya, dengan mengajak teman.

Tanpa berpikir panjang saya menerima tawaran itu, bukan tanpa alasan saya menerima tawaran tersebut. Saya tidak pernah mempersoalkan berapa saya akan dibayar, jujur saya masih belum begitu paham tentang komputer, oleh sebab itu saya bermaksud pigin sambil belajar.

Anwar yang baru saja tinggal di musollah saya ajak. Dia tinggal di Musollah karana menghindar dari orang tuanya, sepenuturan dia, dia membeli Hp tapi hp yang ia beli ternyata mengalami kerusakan. Karna dia tidak mau mendengar/ dimarahi oleh orang tuanya kemudian ia tinggal di Musollah.

Antara saya dan Anwar sering terjadi perelisihan, saya memang agak protektif pada dia, hal ini saya lakukan karna dia serin membawa teman-teman yang lain, pada waktu malam bermain Gem dll, sementara saya diberi amanat oleh Pak Azam fasilitas komputer dilarang dipergunakan tanpa sewa selain saya dan Anwar.

Hampir tiap malam ia membawa teman-teman, sebenarnya teman dia juga teman saya, tapi saya berusaha untuk seportif, karna amanat dan barang yang dipercayakan merupakan hal yang mewah bagi saya. Menjaga dan memelihara adalah tanggung jawab bagi saya. Sebenarnya saya serba juga serba salah. Mungkin teman-teman menganggap saya dengki waktu itu, tapi biarlah, hal itu saya lakukan karna amanat yang melekat pada saya.

Tempat rental komputer, memang menyediakan perainan Game, dan bberapa perm,ainan lainnya, mere datang pada tempat rentah di atas pukul 9/ sekitar 9.30/pukul 10 malam. Mereka bernmaksud untuk main Game tapi tidak mau bayar aneh bukan!!!

PAHIT MANIS BERSAMA PAK AZAM

Saya dipercaya oleh Pak azam untuk mmegang keuangan, dan saya juga sering diajak olehnya untuk mengistal komputer para pelanggan, saya merasa senag dan memang saya seperti diistemewakan, apakah hal itu hanya perasaan saya tapi yang sering diajak memang saya. Anwar sering mendapat teguran dari saya, dia sering tidak tepat waktu dan sering lalai. Mungkin penilaian saya terkesan subjektif tapi saya menjoba untuk menceritakan yang sebenarnya.

Azam adalah seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri Sumenp, dia juga menjadi dosen Matematika di STKIP, sebuah perguruan tinggi suasata yang ada di Sumenep. Sumenep memeiliki dua perguruan tinggi umum, dan dua diantaranya di bawah asuhan pondok pesantren Anno-Qoyah Gulu-gulu sumenep dan Pesantren Al-amin Parenduan Sumenep.

Dia taat dalan menjalankan perintah agama, bahkan solat sunnah selalu dia kerjakan, kalau di rumah di menjadi Imam. Kebetulan istrinya juga seorang yang taat beragama. Dia memilki dua anak perempuan, sekarnga waktu saya meninggalkan beliau (lulus sekolah) satu telah sekolah TK, sementara satu masih belum.

Posted in: Uncategorized