SEBUAH KISAH DALAM PELTIHAN JURNALIS

Posted on 6 April 2009

0


Semua orang pada dasarnya berkeingin menjadi penulis. Akan tetapi tidak semua orang bisa “melakukan” menulis, dalam artian menulis secara baik dan benar. Ketika aku bertanya kepada orang yang sudah banyak menghasilkan karya pada umumnya mereka tidak memberkan spisifikasi yang kongkrit, “banyaklan baca dan menulislah, tuangkan segala yang ada dalam benak”.
Aku tidak pernah mendap jawaban yang bisa rinciperngkat mekanik kompoter yang bisa diklasifikasikan “Memori, Hardis, Mainbord, CD Rom Monitor” dll. Orang-orang yang sudah berkelibar dalam dunia kepenulisan hanya memberikan pemahaman yang bersifat universal “perbanyaklah baca”.
Semenjak kecil aku menyukai dunia informasi. Seperti info berita dari radio TV dan lainnya. Ketika itu saat aku bermain dengan teman, waktu itu aku masih belum punya radio. Ada tetangga aku yang memilki radio, aku sering ada di rumahnya sekedar mendengarkan berita atau musik.
Adanya berita di diradio hanya pada waktu-waktu tertentu. Pagi pada pukul 07.00. Siang pada pukul 11.00-11.15 / 12.00-12.15. Wib waktu itu. Pada pukul 14.00 siang, aku menengarkan sebuah acara “surat muhbah”.
“surat muhibah” acara itu merupakan sebauh
Sabtu, 25 Oktober 2008. Sebuah Angkot (len) TSG memasuki pintu gerbang UIN (Universitas Islam Negeri) Malang. mobil itu bergerak perlahan, dan berhenti menghadap selatan tepat di depan gedung SC Sport Center (SC). Suasana depan gedung terlihat lengang. Hanya beberapa anak terlihat berlalu-lalang, mereka menutup wajahnya dengan buku untuk menghindari sengatan matahari. Memang pada siang itu cuaca cerah. Tak ada mendung. Hembusan angin sesekali menim bulkan debu.
Gedung (SC) memilaki tiga lantai. Lantai satu sebagai pusat segala aktifitas mahasiswa. Di lantai satu inilah segala kegiatan Organisasi Intra kampus (OMIK), mulai dari MPM (Majlis Permusyawaran Mahasisw), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), BEM-F (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) semua dipusatkan di SC. di sebelah kiri kira-kira 15 kaki dari pintu masuk ada ruang khusus pertemuan. Ruangan ini disebut Ruang Sidang SC.
Di lantai dua terdapat sebuah ruangan yang cuku untuk menampung 2000, mahasiswa. Di sebelah barat terdapat dikor permanen di samping kanan terdapat foto Susilo Bangbang Yudoyono (Presiden RI), fonya gagah perkasa. Bibirnya merah. Terlihat dengan jelas dia tersenyum. Senyum itu seakan menuai harapan bagi penduduk Indonesia.
Dan di samping kiri terlihat foto Yusuf Kalla atau akrap dipangil J.K. sebagai wakil Presiden RI. Penampilannya terlihat sergap, dan pandai bergoyon. Tak jarang ketika menyampaikan pidato membuat audien tertawa.
Dua pasang foto yang menempel itu melukiskan karakter berbeda namun memiliki kesamaan tujuan “memajukan bangsa, meninggalkan keterpurukan menuju bangsa yang berwibawah dan mampu menyejahtrakan seluruh rakyat”. Cita-cita itu disampaikan ketika keduanya masih belum resmi menjadi presiden. Tentu berbeda saat keduanya memegang tampuk kekuasaan. Artinya selogan-selogan itu bukan hanya untuk diopinikan, tapi dibuktikan. Dibalik kesuksesan kepeminpinannya, ada semacam trau matik yang sangat perih dari kebijakan-kebijakan yang diterepkan seperti, kasus BBM yang langsung berdampak pada masyarakat bawah.
Apabila persoalan bangsa ini diumpakan sebuah barang atau rotan dan semacamnya tentu gedung SC yang mempunyai tiga lantai tidak akan muat mewadahinya. Ada banyak ketimpangan dalam relita hidup ini. Pada umumnya masyarakat bawah tidak dapat menolak ketentuan di atasnya. Seperti pemekaian SC pada awalnya SC dirancang sebai tempat pelatihan anak UKM Unior. Akan tetapi karna kebjakan itu kini SC dijadikan tempat berbagai kegiatan, seper seminar, wisuda dll.
Janji awal untuk dijakan tempat pengembangan anak Unior hanya menjadi selogan saja, seperti janji elit politik pada umumnya. Dan segai rakyat yang tidak memiliki kepanjangan tangan yang bisa mempertahankan haknya maka mereka hanya bisa pasrah menerima apa adanya. Melakukan demo percuna hanya akan menimbulkan kesalah pahaman.
Membicarakan trik rekot keduanya tidak akan pernah akan menemukan ujung penyelesaian. Karna pada setiap masing-masing mereka mempunyai alasan, dan pembelaan terhadap apa yang dilakukannya. Kalau persoalan bangsa ini dilukiskan pada dinding-dinding SC tentu akan memunculkan berwarna-warni, seperti warna-warna partai politik yang sangat membingungkan rakyat.
Di sebelah timur disamping jalan S.C terlihat beberapa pekerja proyek sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ada lima orang pekerja sedang mendirikan kawat bangunan. Hampir saja kawat itu roboh karna orang yang mendirikan tidak bisa menyeimbangnya. Tapi itu hanya kehawatiran sesaat saja. Kemudian para pekerja berhasil memasukkan kwat itu pada sebual lobang yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Para pekerja itu terlihat begitu bersemangat. Dia melakukan pekerjaannya dengan bangga. Meski terkadang banyak yang menyepelehkan mereka. Karna dianggap pekerjaan tukang, sebuah pekerjaan yang hina. Tidak seperti para pejabat yang setiap saat terlihat rapi. Setiap orang yang melihatnya akan mengaguminya. Bahkan tak jarang orang sering memberikan penghormatan yang lebih pada seorang pejabat.
Padahal kalau kita sadar pekerja keras seperti tukang adalah pekerjaan yang mulia “lebih terhormat”. Tukang tidak pernah korupsi uang negara. Lain halnya seorang pejabat yang sering mengkorupsi uang rakyat.
Jarum jam menunjukkan pukul 01.15 wib. terlihat enam oarng anak (Roli, Naseh, Jusram, Muklasin, Iva, dan andre) sedang duduk dan berbincang-bincang di amperan SC. Keenam anak itu adalah anggota UKM INOVASI. Merka sedang menunggu anggota yang lain yang belum datang.
Tepat di depan pintu masuk dua satpam sedang dudu di sebuah kursi menunggui anak yang akan mengambil kunci UKM. Tepat di atas meja terlihat beberapa keoran, Jawa Pos, Kompas, Radar Malang. Dua gelas berisi kopi ada di samping kiri meja. Kepulan asap rokok menyembur dari hidung dan mulut kedua satpam. Tangannya meraih gelas yang berisi kopi, sesaat kemudian satpam itu menenggaknya. Kemudia kedua satpam itu terhat sedang membincangkan sesuatu. Pandangan matanya tertuju pada sebuah berita yang ada di koran, namun hal itu tidak seberapa lama. Sambil melanjutkan perbincangan yang barusan terhenti keduanya membolak bolik-balik koran yang ada di depannya.
“ Yang lainnya mana kok belum juga datang” ungkap Roli PU UAPM INOVASI. Wajahnya terlihat mengerut. Sorotan matanya meredup. Sesekali dia memperbaiki tas yang sedang dipanggulnya. Ada beban berat yang berkecamuk di batinya, seberat tas yang berisikan Leptop buku dan beberapa materi pelatihan akan disampaikannya nanti.
“gak tau, kesepakatan kemaren kita kumpul sebelum pukul 12.00. dan pukul 13.00. berangkat” ungkap Jusram salah satu dari keeanam yang sedang duduk di amperan SC. “Fitri mana coba di SMS “ suara Roli serasa amat berat. “sudah barusan saya SMS, masih ada di jalan”, suara lembut mengalir dari Iva. Suara itu mengheningkan suasana, sesaat semuanya terdiam.
Iva adalah salah satu wanita yang cekat dan murah senyum. Kekeritisannya tak jarang membuat sesama anggota terkagum-kagum padanya. Bukan hanya itu saja, banyak sisi yang membuat gadis yang belum genap 20 tahun ini dikagumi oleh anggata UKM dan bahkan orang-orang diluar UKMpun akan merasakan hal yang sama bila melihat gadis ini.
Iva memiliki kilit putih. Di sela bola matanya yang buta terdapa bulu mata seperti bunga tanjung, mekar bercaha, Hidungnya mancung. Alisnya terlihat menipis dan rapi, seperti orang yang sering melakukan perawatan ke salon setiap saat. Namun dia bukan tipikal gadis yang sering membuang-buang duit, sekedar melakukan perawatan tubuh demi memper ndah tubuh. Keindahan wajahnya alami. Setiap orang yang memandangnya akan jatuh tersipu. Semua anggota mengakui akan kesempurnaan yang melekat pada diri Iva.
Keindahan wajahnya dan sikapnya yang ramah pada setiap orang sering disalah artikan. Andre asalah satu dari sekian lelaki yang memiliki kedekatan pada Iva. Andre memang menaruh perhatian yang lebih pada Iva. Dan kedua mahuk yang berlainan jenis ini terlihat akrap. Setiap kali bertemu di UKM keduanya menghindar dari keramaiyan, sekedar ngobrol-ngobrol atau saling curhat satu sama lain.
Andre memang telah jauh melampui perasaan dan arti kedekanya pada Iva. Disetiap kesempatan Andre sering curhat pada jusram teman satu kosnya, bahwa dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Tak jarang di UKMpun sering bertukar pikiran dengan teman-teman satu UKM, mengenai apa yang dirasakannya.
Andre adalah seoarang laki-laki yang lugu, dan karna keluguannya dia terkadang terlihat culun. Dia benar-benar telah buta karna cinta. Akan tetapi dia bukan laki-laki yang beruntung yang setiap saat bisa meraih setiap apa yang dia impikan. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Waktu menunjukkan 13.15. wib. Tapi anggota yang sedari tadi ditunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Perbincangan yang terhenti oleh suara Iva kembali berlanjut. “siapa yang tau tempatnya” Roli menanyakan pada keenam anak yang sedang duduk-duduk. “gak ada yang tau mas, saya kemarin berencana lihat-lihat tempatnya sama Fausia tapi dia dak bisa, tapi katanya ada temannya yang akan yang jadi petunjuk jalan” tegas Andre.
Kemudian Roli menghubungi Fausia lewat henpon. “Ayo ndeuk sudah ditungguin sedari tadi”. Selang beberapa saat kemudian fausia terlihat mengayuh sepeda Meni berwarna biru, menuju depan SC. setelah sampai di depan SC dia memarkir sepedanya tepat di sebelah angkot di samping teras SC. “kamu masukkan saja sepedamu ke UKM” ungkap naseh sembari goyon.
Kemudian beberapa anggota menyusul datang, seperti Fitri dan Maria Ulfa. “sori mas takkira berangkat pukul 14.00.wib. “lo kata sipa berangkat pulul dua”, sambung PU. Memang sesuai kesepakatan anak-anak harus kumpul sebelum jam 13.00. sesuai kesepakatan pada hari jum’at. tapi karna Fitri dan Maria Ulfa tidak ikut waktu rapat terakhir hari itu jadi mereka tidak tau.
“benar mas saya minta maaf, tadi saya ketiduran tak pikir berangkat pukul 14.00. juga” ulfa dengan suara khas yang genet dan tak jarang sikapnya yang blak-blakan menjadikan suasana meriah dan menjadi penyemangat bagi anggota yang sedang capek atau sekedar sumpek oleh beban reportase. Tapi tak jarang juga karna sikapnya yang cuap-cuapan membuat angga yang lain terganggu. Namun karna sudah menjadi karakter maka semua anggota memakluminya.
“Udah kumpul semua” tanya Roli
“ya sudah mas” semua yang hadir serempak menjawap.
“Ayo masuk mobil” Roli memerintahkan pada semuanya untuk masuk mobil.
“tapi tunggu dulu mas” sele fau sia, kemudian dia mengajak andre untuk menghidupkan kendaraan “motornya” sebentar kemudian dia sudah ada di belakang andr, kedaraan melacu dengan cepat.
Andri adalah pengemudi sepeda motor yang lihai, sesekali dia terhat mering membuat orang yang melihatnya khawatur sebentar tegak melewati jalanan yang berliku di sekitra kampus. Setelah beberapa detik sudah tidak kelihatan.
“ Emang ada apa lagi” tanya roli.
“ Menjemput teman yang akan menjadi petunjuk jalan” ungkap naseh coor dinator pelatihan filsafat. Tidak seberapa lama kemudian dia andri muncul diirinng seorang laki-laki yang mengendarai motor Yamaha jupiter.
“ Ayo cepat masuk mobil !!, siapa saja yang ikut motor.
“ Cuma berempat mahmudi dengan pray. Junika dengan andre” senggah Iva dari dalam mobil.
Tepat 13.35.wib angkot TSG melaju meninggalkan SC. para pengendara bermotor menjadi petunjuk kalan. Selang sesaat kemudian Uin telah dinggalkan. Pengendara motor tak jarang sering berhenti karna menunggu laju angkot pelan. Perjalan ditempuh sekitar 10-20 menit.
Pukul 13.40. peserta tiba di perumahan Cemara Tdar sakti. Lingkungan perumahan itu terlihat tertata rapi. Di sebelah utara jalan sekitar 20 m terdapat sebuah kolam. Ditengah kolam terdapat sepasang patung laki-laki dan perempuan yang berdiri sebelah tangannya saling melipat ditubuhnya masing-masing dan yang sebelah memegang sebuah bunga dan tunggu. Bunga dipengan oleh perempuan dan sebuah tungku dipegang oleh laki-lakinya. Di sekitarnya dikelilingi beberapa burung sebangsa Itik. Air kolam itu terlihat membiru dan terdapat banyak jamur. Tinggi kolam penampungan itu sekitar di atas pusar. Ukuran tepi tidak begitu lebar tapi untuk diduduki agak nyaman. Namun harus hati-hati karna kalau tidak maka baju akan basah karna mesuk kolam.
Ternyata tempat pelatihan tidak jauh dari pusat taman itu. Hanya sekitar 2/3 menit ditempuh dengan nauk mobil. Dan sekitar 5 menit kalau jalan kaki. 13.43. semua anggota tiba disalah satu kontrakan yang akan menjadi tempat pelatihan. Rumah itu menghadap selatan. ukurannya tidak besar dan terlihat kecil. Di samping kanan terlihat beberapa tanaman hias, dan beberapa tanaman toga. Pasa didekat tanaman itu terdapat Pet air. kemudian satu persatu anak-anak turun dari angkot. Sebagian menurunkan bawaan seperti kelengkapan, papan tulis, beserta alat tulisnya, dan beberapa camilan.
“ lo ini tempatnya, kok kecil yaaa?” ungkap junuka.
“ lo ada orangnya” tiba-tiba Ulfa mengendap-gendap masuk kedalam.
“ ya terus masuk” tuan rumah menyilahkan semua anggota masuk.
Empat anak yang mengeendarai motor tiba lebih awal, selisih 2 menit. Saat yang lain baru turun dari angkot keempat anak itu telah ada di serambi belakang rumah. Ada beberapa pelaralatan seperti piring dan alat memasak serta dua kompor. Disudut ada pet air. Ada sebuah pembatas setinggi lutut. Di atasnya terdapat sebuah rafiah tempat menjemur pakaian. Pada saat itu terdapat sebuah cucian yang masih menumpuk belum dijemur.
Setelah semua ada dalam satu ruangan mereka menaruh tasnya di lantas. “masukkan kedalam” suara pemilik rumah terdengan dari sebuah kamar sebelah kanan. Dia sedang mengotak atik komputer. Kulitnya hitam manis. Hudungnya mancung seperti orang turis dari AS. Rambutnya ikal. Dia memakai kopya. Kumisnya yang tipis menambah manis ketika tersenyum. Jenggotnya tebal tapi tertata rapi sehingga tidak terkesan seperti orag jenggot umumnya, yang sering acak-acakan.
“ Lo gimana kabar kamu ?” roli seraya berjatan tangan. Dia baru saja bertemu dengan teman lamanya.
“ gmana karmu rol” tanya mepilik rumah itu.
“ ya masih sepertu ini, tidak seperti kamu yang sekarang sudah penya kesibukan” tegas roli serambi menurunkan tas dari pundaknya. Kemudian dia duduk di depan komputer berdampinagan dengan pemilik rumah. Ternyata mereka adalah teman lama. Selang beberapa saat terdi obrolan yang serius. Tapi itu hanya sebentar. Karna setelah itu acara pelatihan segera dimulai.
Tepat 13.45. acara dibuka oleh roli. Dia berperan sebagai pengampu sekaligus PU INOVASI. Awal pembukan roli menyempaikan ucapan terimakasi kepeada pemilik rumah “saya mengucapkan banyak terimah kasih karna tuan rumah telah memberikan ruangan runah ini ditempati kita”
“ya sama-sama” ungkap pemilik rumah itu, dia tete[p tidak keluar dari kamarnya sedang asyik dengan komputernya.
“anak-anak nangkeni tiap minggu” sela roli sambil tertawa kecil.
selang beberapa saat terdengar bunyi kendaraan motor Fis. Motor itu berhenti tepat di depan rumah langsung masuk kepekarangan. Terlihat seorang laki-laki berjalan sedikit agak pincang.
“permisi” laki-laki itu melewati anak-amak yang sedang duduk mengikuti peltihan. Pelatihan masih belum berjalan lama. Laki-laki itu sudah datang. Kemudian dia masuk kamar di seblah krir. Terlihat sedang mengambil sesuatu. Setelah itu dia kelau dan masuk ke kamar sebelah kanan. Sekitra 3 menit dia ada di dalam. Kemudian pemilik dan yang baru adtang pamut menunggalkan rumah.
“ tak tinggal dulu semua, ayuuu Rol”pemilik rumah pamit sembari meninggalkan para peserta yang sedang diasah dengan kajian-kajian filsafat.
“ ya ya” sahutt semua pserta yang ada di tempat itu begitu pula dengan Roli.
“ thuli onthur (cepet pergi)” fausia dengan lughat Madura menegaskan pada pemilik rumah untuk segera meninggalkan rumah.
Pemilik rumah terlihat sangat akrab dengan fausia. Dia adalah temannya. Saat fau sia mengucapkan lughat Madura para peserta hanya terdiam terlong-longok (tidak mengerti) terhadap apa yang dia ucapkan. Fausia bukan anak maduara tapi dia fasih berbahasa maduara. Dia berasala dari probolinggo. sebagai penanggung jawab dari terlaksananya pelatihan filsafat jurnalis, dia yang bertanggung untuk menyewa tempat.
Fausia tidak hanya sendiri. Dia ditemani Naseh dalam mempersiapkan semua kebutuhan, seperti perlengkapan samapai pada tempat pelatihan. Fausia adalah seorang wanita yang mudah bergaul. Murah senyum. tatapan matanya yang tanjam merupakan kelebihan yang jarang dimliki orang. Kulitnya kuning langsat. Badannya semempai tidak terlalu tinggi dan tidak pendek.
Naseh sebagai patnernya terlihat akrab, keakrabannya tak jarang membuat ngiri setiap yang melihatnya. Tapi untuk menilai keakrabannya terlalu jauh harus berfikir ulang, fausia orang yang memang sangat kompleks. Dia seslau akrab dengan semua temannya, termasuk dengan semua crew UKM INOVASI.
Setelah pemilik rumah keluar dari dalam kamar di sebelah kanan, dia berjalan dengan gontai dengan mekai celana berkopya kain. Selang kemudian, terdengar bunyi kendaraan motor.
“ Dreeen dreen dreeeeeeeeeen….??” Gas Sepeda dimainkan sesaat. Setelah itu bunnyi kendaraan itu tak terdengan lagi, orang pemilik rumah meninggalkan kami semua. Tinggallah di rumah itu pembimbing “Roli” dan semua crew INOVASI yang sedang melangsungkan pelatihan.
Babak pertama diselangai dengan pertanyaan-pertanyaan dari PU INOVASi. Pertanyaan itu sekitar pada permaslahan yang dihadapi oleh anggota. Namun untuk beberapa saat tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan. Semua hanya terlihat merunduk, seperti mencari cela untuk keluar dari permintaan yang menyudutkannya.
“ ayo sekarang temen-temen bertanya, atau curhat saja apa yang membut temen-temen sampai sekarang bingung” Roli kembali memecahkan keadan yang terasa sunyi waktu itu. Tetap saja tak ada yang bertanya. Semua anggota hanya salaing melemparkan pandangan dari satu teman pada teman yang lain. Waktu itu benar terasa hening sesekali hanya senyum malu-malu dari anggota cewek.
“ mas saya malu, karna sampai saat ini saya masih beleu bisa ?” fitri dengan sura yang sumbang seperti dicekam ketakutan.
“ kenapa harus malu ?” kemudia Roli melanjutkan perkataannya.
“ ini adalah kesempatan pada kalian untuk mengasah kemampuan yang telah kalian dapatkan. Pelatihan yang sudah kalian dapatkan mulai jurnalis dasar sampai pada pelatihan jurnalisme sastari itu lebih dari cukup. Kalian bisa Cuma saja kalian malas. Kan sudah saya bilang beberapa kali jangan malas, berusahalah untuk mencoba. Saya dulu juga seperti kalian tidak bisa apa-apa. Dan sekarang saya juga terus belajar, jadi yang pertama yang harus kalian tanamkan jangan malas selalaulah mencoba”. Kata-kata bijak Roli menghangatkan suasana yang sedari tadi bungkam.
“ tapi kenyataan kita belum bisa” ulfa dengan suara genitnya memancing semua untuk tertawa.
“ yaaa mas gimana saya bingung” sambung ulfa disela tawa anak-anak yang melihat kelucuan yang ada pada dirinya.
Maria Ulfa merupakan salah satu anggota perempuan yang memilki ciri khas “lucu” setiap dia berbica sesalu mengundang orang untuk tawa teman-teman. Orangnya polos. Badannya agak pendek dan melebar kesamping, padat berisi tapi tidak gemuk. kalu dilihat dari jauh terlihat padat dengan ukuran badan sekitar 150 cm. kulitnya hitam manis. Muka bulat dengan hidung pada umumnya tidak mancung jaga tidak pesek. Sikapnya blak-blakan. Banyak yang sayang pada dia. Dia tidak hanya mampu membuat teman-temannya tertawa disaat lagi sumpek. Dia juga memeliki potensi yang jarang orang bisa, dia pandai melukis dan membuat karikatur. Tak banyak banyak yang tahu dari kelebihan yang dia miliki, yang diketehui oleh temen-temennya Ulfa hanya seorang yang bisa melucu dan membuat teman-temannya tertawa.
Di sela-sela anak tertawa melihat ekspresi Ulfa seorang peserta laki-laki mengangkat badannya lalu melontarkan komentar.
“ mas kan sekarang kita akan belajar filsafat, giman kalau langsung mas menjabarkannya pada kita” ujar Muklasin dengan suara berapi-apai. Lalu dia merunduk mengambil sebuah buku cata-tannya yang ada di depannya,
“ ya kalian akan ajari filsafat kejurnalistikan” jawab Roli
“ ya ada yang masih dipertanyakan atau kita langsung mulai masuk materi” Roli menawarkan pada peserta untuk bertanya sembari berdiri, dia terlihat dia agak sempoyongan mengangkat badannya. Kemudian dia merai satu alat tulis yang baru saja diisi ulang oleh fitri.
“ Kalau duduk saya kaku” ungkap Roli berdiri sebentar meluruskan badannya sembari menggeliat.
“ suara saya kesendatsendat karna batuk” kemudian dia merungkuk sambil tangannya memegangi kedua lutut terlihat alat tulis seperti mendoakan rasa ngelu karna kurag istirahat.
Kemudian dia duduk lagi, memperbaiki papan di samping kirinya. Dia menggeser-geser papan tulis disampingnya sambil disandarkan pada dinding rumah. Kemudian dia melongok ke atas. Tepat 2 m di atas papan ada satu paku yang tertancap di dinding. Kemudia roli kembali berdiri sampi menggangkat papan yang sedari awal diletakkan di lantau. Setelah itu dia memasang papan itu pada satu paku itu. Ya hanya ada satu paku yang tertancap di didinding. Melihat roli yang memperbaiki papan, dari arah belakang seorang laki-laki maju ke depan. Sosok laki-laki memiliki tubuh jangkung. Memakai baju lengan panjang. Rambutnya gondrong. Kulitnya agak kehitaman tapi terlihat manis. Kalau bicara selalu dengan intonasi yang tinggi dan keras. Laki-laki itu bernama Sahmawi atau kerab dipanggil Awing oleh teman-temannya.
Awing merupakan peserta sekaligus anggota INOVASI. Orangnya cerdas. Kalau berbicara atau berdiskusi selalu berapi-api dan keras. Mungkin pengaruh geoggrafis. Bisa juga pengaruh dari lingkungan keluarga. Kedua kemungkinan itulah yang membuat dia memili karakter yang terlhat keras.
Madura awing berasal dari madura tepatnya sumenep daerah paling ujung timur. Dia tinggal di salah satu paulau yang ada di pulau madura, pulau itu bernama Masa lembu. Memang madura memiliki banyak pulah terdapat sekitar 127. dan yang terhuni sekitar 17 pulau.
Sumenep memiliki banyak potensi sumber daya alam. Sumenep juga terkenal dengan kawasan pesantren. Terdapat banyak pesantren di sumenep. Mulai dari pesantern formal (modren) sampai pada pesantren salaf. Pertumbuhan psantren sangat pesat di kawasan ini. Penduduknya rata-rata alumni pesantren baik itu dari pesantren formal atau sekedar pesantren salaf.
Awing kemudian meraih salah satu paku yang tertancap di sebuah sisi kanan kusin pintu belakang rumah itu.
“ ini lomas paku” dia mencabut paku itu dari sisi kusen itu. Kebetulan paku itu tidak tertancap keras hingga mudah dicabut. Kemudian dia menjulurkan tangannya sembari memberikan paku pada Roli yang berdiri di samping kanannya.
“ Gak usa, biar gini saja agar dingdingnya dak rusak” Roli tidak mengabil paku yang sudah diambil oleh awing. Dia hanya memperbaiki letak papan itu pada susdut diding. Kebetulan paku yang sudah ada di dinding itu jaraknya pas, antara sudut dinding dengan panjang papan. Memang papan itu berukuran kecil sekitar setengah meter. Setelah papan dipasng pas sekali dengan jarak paku yang tertancap di dinding itu. Jadi papan itu disatu sudut menggantung pada paku dan pada sisi sudut yang lain disanggah oleh sudut dinding. Kalau dilihat posisi papan itu tidak lurus, agak miring kalau dilihat dari arah selatan di mana anak-anak sedang duduk meng hadap papan itu. Ya papan itu miring ke kiri. Tapi tidak terlalu mengganggu terhadap apa yang akan disampai oleh penyaji. Wajar kalau miring karna hanya disanggah oleh sudut dinding rumah.
Setelah papan itu bergantung pada satu paku dan disanggah oleh sudut dinding Roli melanjutkan penyampaiyan materinya yang sempat terhenti. Kini dia agak bersemangat menyampaikan materi dengan berdiri, tidak seperti awal acara dibuka dia harus duduk bersila seperti ustat yang hendak mengaji kitab kuning pada. Tapi meskipun dia menyampaikan materi dengan berdiri sesuai yang ia kehendaki dan berusaha sesemangat mungkin, dia tidak bisa menutupi raut wajahnya. Wajahnya terlihat kusup seperti ada beban berat yang tengah ia pikul.
“ maaf kalau keadaan saya seperti ini, semingggu ini saya jarang tidur” dengan pandangan yang sembab Roli menatap para peserta. Senua peserta hanya bisa merundung. Mereka tidak bisa membalas tatapan orang yang ada di depannya yang memil;iki magnet. Di mana setiap saat bisa menelanjangai kesalahan mereka. Rasa bersalah menyelimuti semua anggota INOVASI karna mereka masih belum bisa menulis,-menulis dengan narasi sastrawi”. Tapi dia sebagai PU tetap berusaha untuk menutupi kepayahan yang ia rasakan, sebagi rasa tanggung jawab.
Walau dengan wajah sayu ia tetap menyampaikan materi. Dengan menyandarkan badannya pada dinding kemudian mengupas metode kejurnalistikan dari sudut pandang filsafat. Seperti tujuan awal dari pelatihan “mengupas jurnalis dari sisi filsafat” maka ia mengupas bagai mana sejarah dan lahirnya ilmu filsafat.
Sebelum jau membahas tentang filsafat ia memaparkan terlebih dulu sejarah lahirnya jurnalisme.
“ kita mulai dari lahirnya jurnalisme positifistik, seperti yang telah kalian dapat pada pelatihan PJTD (pelatihan jurnalistik tingkat dasar)”. Roli menganggkat tangan kanannya yang memegang alat tulis, tangan kirinya bertolang pinggang menyioratkan bahwa dia bisa mengatasi keadaannya yang terlihat lusuh, kemudian ia menulis. Menurutnya sebenarnya dalam pelatihan PJTD telah banyak disinggung bagai mana logika berfikir dan sejau mana nalar kalian melihat feomena baik dari sosia maupun aplikasi media memposisikan obyek yang diekposnya.
“ gimana masih ingat” kembali Roli merefleksikan pada pelatihan PJTD pada tahun 2007 di Fila Songgoriti.
PJTD di Songgoriti
Songgoriti adalah sebuah daerah yang terdapat di malang. daerah ini merupakan kawasan wisata. Songgoriti terletak dikaki gunung. Setiap saat pengunjung datang silih berganti. Pengunjung ramai pada akhir pekan saat libura. Selain menyediakan fila penginapan di sanan juga terdapat sebuah hotel. Di tempat masuk sebelah kanan jalan pintu masuk hotel terdapat sebuah bangunan candi. Didekat candi itu terdapat air panas konon katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti gatal-gatal dll.
Setiap pengunjung bisa menikmati nuansa alam yang masih sjuk. Meski kalan raya sudah masuk, jarang terlihat lalu lalang mobil, terkecuali angkot. Tidak seperti di perkotaan yang setiap saat dipadati lalu lalang kendaraan seperti motor dan mobil lainnya.
Di tempat ini setiap pengunjung betul-betul bisa meresakan nuansa yang berbeda. Pemandangan pohon yang hujau. Ditiap sisi jalan di depan pemandian di songgoriti pengunjung bisa menik mati bernekaragam buga yang memang dijajahkan pada setiap pengunjung.
Tapi bagi yang takut anjing di sekitar penjual bunga di pinggir jalan anjing berkeliaran. Tapi hewan itu tidak pernah usil. Hewan-hewan itu seper biasa bersahabat dengan para penjual bunga di sana.
Di sinilah pertama kali anggota diberikan Pelatihan Jurnalistik Tunggkat Dasar (PJTD) pada tanggal 7-12 Septem 2007.
Pada saat itulah awal pertama pandangan teman-teman betul diuji termasuk aku. Aku baru pertama mendapat bentuk pelatihan semacam itu. Pertama sebelum masuk pada teori jurnalistik pada waktu itu teman-teman di brain storming dengan kata lain “pencucian otak”. Ya pada waktu itu pandangan teman-teman termasuk aku betul-betul dikosongkan. Semua yang kita lihat selama ini, yang dianggap benar menjadi salah. Pada waktu itu seakan-akan semuanya digiring pada paham Atheis. Penyaji tidak percaya terhadap kebenaran yang disuguhkan oleh manusia. Semua dianggap sebagai pengekangan semua dianggap penindasan. Karna sikap penyaju pada waktu itu menyalahkan semua argumen dari peserta kemudian salah satu peserta mengajukan pertanyaan.
“ Mas anda percaya dak dengan adanya Tuhan” Wahed salah satu peserta pelatihan PJTD dengan suara lantang mengintrogasi balik terhadap penyaji yang sedang duduk di atas sebuah kursi putih. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan peserta. Dia hanya tersenyum seperti menepis pertanyaan seperti yang ditanyakan oleh peseta lain. Penyaji itu bernama Yudi. Dia hanya mengubah posisi duduknya. Sebelumnya dia menghadap ke utara. Peserta waktu itu duduk lesehan mereka membentuk melingkar L. Peserta pada waktu itu lumayan banyak sekitar 22 orang.
Kemudian penyaji itu merubah arah duduknya. Kakinya kanannya diangkat diletakkan di atas lutut kirinya. Dia memiliki penampilan yang menarik. Rambutnya ikal agak gondrong. Kulitnya sawo mateng. Hidungnya mancung. Waktu itu dia memakai jeket bercorak sawu di samping kiri dadanya tertulis “Unit Aktivitas Peres Mahasiswa (UAPM) dan di bawahnya tertulis dengan huruf yang lebih kecil “memihak nurani”.
Setelah itu dia baru menjawab pertanyaan dari peserta.
“ masih ada yang dipertanyakan” penyaji itu menyilahkan bagi para peserta untuk mengajukan pertanyaan. Kemudian dia mengambil di samping kirinya yang hampir mati. Kemudian dia menhisap rokok yang hampir matu itu, sesaat kalau dilihat cara menghisapnys seperti dipaksakan. Tak ada asap yang keluar, tapi dia tetap memaksa menghisapnya. Setelah berulang kali tapi tetap juga tidak mengeluarkan asap. Rokok itu sudah mati karna terlalu lama di taruh dibawah. Setlah sadar rokoknya mati kemudian dia berdiri beranjak dari kursi yang diduduki sejak tadi. Tangannya kanannya mereba saku celana mencari korek api. Tangan kirinya menepuk saku baju sampai saku celananya. Rokok yang mati itu masih menepil dibibirnya, seperti sepasang kekasih yang dimabuk kasmaran. Berapa saat kemudian dia berhasil menemukan korek yang dicarinya di dalam saku celana belakang di samping kiri. Rokok itu kembali dibakar setelah sejenak merasakan ketengan ditinggal pemiliknya. Rokok itu hanya pasra dilumat oleh bibir yang engan melepasnya. Penyaji itu sejenak menik mati setiap hisapannya. Asap mengepul keluar dari hidung dan mulutnya. Dia tengadah tatapan mata tidak lagi tertuju pada peserta yang duduk di depanya. Dia sedang matap kaosong pada langit-langit fila. Dia seperti memutar otak sambil memain-mainkan hembusan rokokkya.
“ Udah gak ada yang ditanyakan lagi” dia kembali manatap pada semua peserta di depannya.
“ Oke saya jawab pertanyaan saydara, siapa tadi yang bertanya?” dia mencari-cari peserta yang penanya tadi.
“ Saya “ wahed bersuara sambil mengacungkan tangan.
“ Nama kamu siapa” penyaji itu mengernyutkan muka sambil tersenyum.
“ Wahed” wahed menyebutkan namanya.
“ Saya percaya Tuhan itu ada” dia menjawab dengan simpel.
“ Terus kenapa anda tidak percaya dengan kebenaran” wahed terus mendesak. Dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan.
“ Kamu sendiri tau apa kebenaran itu? “ penyaji itu balik bertanya.
“ Apa kalian mengerti, apa kalian pahan apa yang dimaksuk kebenaran” suaranya mengeras raut muka, seperti mengabaikan kondisi peserta yang kebingungan. Semua peserta hanya terdiam. Mereka salaing menatap. Mempertanyakan tentang konsep kebenaran yang selama ini pahami.
“ Kenapa terdiam” penyaji itu menatap semua peserta yang tengah kebingungan.
“ Kalian tidak pernah tau apa itu kebenaran, kalian hanya mengamini presepsi umum tentang kebenaran, padahal kalian tidak pernah menemukan sendiri hakekat kebenaran”. Penyaji itu membuka cakrawala fikir para peserta.
“ Apa selama ini kita salah mengamini tentang kebenaran dari orang” Iva menanyakan tentang keyakinan terhadap kebenaran yang selama ini ia pahami. Matanya terlihat berkaca-kaca, mukanya memirah.
“ Kalian punya fikiran untuk mengukur semua itu” penyaji itu tidak memberikan sebuah spisifikasi yang kongkrit. Dia hanya memberkan pandangan yang bersifat umum. Tentu saja peserta semakin bingung.
Kemudian pada sesi akhir brain storming penyaji (Yudi) memberikan sebuah pandangan yang juga membuat peserta pusing tujuh keliling. Dia memaparkan bahwa semua realita yang dihadapi ini bukan untuk diamini begitu saja. Jangan pernah menerima sebuah kebenaran dari seseorang sebelum kalian menemukannya sendiri. Jangan setuju pada sebuah kesepakan umun tentang apapun, karna semua itu belum tentu benar.
Kalian adalah kader jurnalis. Ditangan kalianlah opini pablik ditentukan. Jangan sesekali percaya pada satu sumber dalam menerima apapun terlebih dalam melakuakan liputan. Verifikasi semua data yang telah diperoleh.
Inti dari penyampaian dari penyaji adalah untuk membuka wacana fikir. Mengasah nalar, sejauh mana dia mampu merefleksikan sebuah kondisi sosial yang semakin rentan dan dimonopoli oleh penguasa.
Pukul 09.15 wib. acara pertama usai. Kemudian pada acara selanjutnya membahsa kejurnalistikan. Semua konsep dan cara mengalis sebuah informasi diajarkan kepada anggota INOVASI angkatan 2007/2008.
Di songgoriti Pada Pelatihan Gebyar Jurlisme Sastrawi se-Indonesia.
Pada tanggal 4 – 15 Desember 2007, Ukm (UAPM Inovasi) mengadakan acaran besarbesaran, Gebyar Jurlisme Sastrawi se-Indonesia yang ditempatkan di songgoriti.
Terselenggaranya acara Gebyar Jurlisme Sastrawi se-Indonesia bekerjasama dengan lembaga YAYASAN PANTAU Jakarta. Pantau mereupakan sebuah lembaga Pers & sekaligus bergerak sebagi kontrol terhadap perkembangan Pers yang cendrung mengutakan laba – dalam istila perfileman disebt reting. Pantau hadir sebagai penjaga dan berusaha mengembalikan makna dan tujuan pers sabagi wadah temapat tersalurkannya aspirasi yang tidak tersentuh oleh penguasa.
Liputannya pun pamjang-panjang. Enak dibaca. Sebagai kontrol pers pantau juga menganalis bagaiaman sebuah lembaga pers melihat sebuah fenomena yang di inklud dalam dunia jurnali “pemberitaan”. Pada sebuah edisi 10 2001, PANTAU meliris bagaimana sebuah media memberitakan konflik yang terjadi di kubu banser “NU” sebagai pendukung Gusdur. Pada edisi ini pantau melihat bagaiman Kompas memberitakan isu yang menjadi sorotan seluruh komponen bangsa (baca pantua edisi 10 2001).
UAMP INOVASI sebagai media aspirasi mahasiswa melukan kerjasam Lembaga PANTAU, tidak lain untuk melahirkan jurnalis yang betul-betul mengetahui dan memiliki tanggungjawab moral sehingga dalam pemberitaannya tidak merugikan masyarakat pembacanya.
Sebagai wadah aspirasi mahasiswa INOVASI dengan jargon memihak nurani memili andil penting untuk melihat realita yang ada di kampus dan indonesia pada umumnya. Bagaimana peristiwa “realita” dikemas dalam pemberitaan. Santai dan enak dibaca oleh penikmat-nya.
Kerjasama dengan PANTAU merupakan langkah awal bagi INOVASI untuk mereduksi keilmuan “kejurnalistikan” yang diterapkan oleh PANTAU.
Ketentuan pania mengenai peserta :
peserta dibatasi 20 orang.
Menyetor tulisan naratif diskiptif minimal 4 ditulis New Roman dengan satu setengah sepasi.
Bersdia mengikuti seleksi.
Tulisan harus diterima seminggu sebelum hari H.
Tulisan bisa diantar langsung ke redaksi UAPM INOVASI atau melalui alamat email sesuai di proposal undangan
Semua ketentuan-ketentuan tidak dapat diganggugat.
Pemberangkatan Peserta, Dalam Bingkai Uin.
Pagi itu mendung tipis berkebat melintas di atas gedung megah UIN Malng. Sinar matahari hanya bisa dirasakan dari celah pohan rindang di depan Rektor Uin yang masih dalam tahap penyelesaiyan pada waktu itu. Terlihat beberapa tukang tengah melakukan pembersihan kaca di sebelah selatan berkisar di lantai tiga.
Uin memang wah “megeh”. Bangunan yang awal-nya seperti SD kini berubah drastis menjadi gedung-gedung pencakar langit. Semua orang pangling melihat beruhan infastruktur Uin.
Memang Uin dalam sejarah perjalanannya banyak melakuakn gebrakan yang mencengangkan, mulau dari pergantian nama, IAIN, STAIN, UIS, dan menjadi UIN sekarang-Infrastrukturnya. Kalau kita cermati dari setiap perubahannya, memiliki banyak cerita tersendiri. Tapi aku tidak akan ceritakan hal ini.
Perubahan Uin secra umum tidak lepas dari peran top ledernya Imam Suprayogo selaku Rektor. Tangan dingin dia menjadi kepanjangan pada tiap pundi serta persendian pencakar langit Uin malang.
Pada satu sisi mahasiswa bangga dengan apa yang dicapai Uin. disisi lain mahasiswa kecewa terhadap realita yang mereka rasakan. Mereka hanya bisa melihat gedung-gedung pencakar lagit. Bangunan itu bukan untuk perkuliahan. Tapi untuk perkantoran.
Mahasiswa sendiri tidak dapat berbuat apa melihat realita

Posted in: Uncategorized