SEBUAH DISKRIPSI

Posted on 6 April 2009

0



PADA SEBUAH CAMPING PGI
Minggu (2-03-2008) pagi masih berselimut mendung. Uadara dingin mendirikan bulu kulit. Aku dikejutkan degan bunyi Hemphon (HP) “Nininit… Nininit ….. Nininit 3x”, aku tidak begitu mempedulikannya. “siapa pagi-pagi begini miscol”, seruku agak malas karna aku dalam keadaan antara sadar dan tidak sadak sadar tidur. Dengan rasa malas aku cari sumber bunyi HP ku. Beberapa saat aku sudah pegang HP ku. Kebetulan HP ku aku taruh di pinggir lesehan keranjang tidur sebelah kiri. Setelah aku buka R. Junika “oh Tuha……an, hari ini kan mau jalan”, Aku baru ingat bahwa kemarin ada kesepakan semua kru UAPM Inovasi unuk jalan-jalan di Malang. Kesepakatanya kemarin jam 05.30 berkumpul di BTN di depan Uin.

“Sin bangun, dasar si dodol tidur terus, ni udah dimiscol sama Junik”, Junika adalah kordinator untuk memandu anak-anak. Dia juga yang menetapkan waktu 05.30 harus kumpul di BC. Dan usulan dia pun disetujui oleh selur yang meng hadiri rapat pada waktu itu.

Aku coba terus membangunkan si Muhlasin. Aku pangil dan setengah teriak tetapi tetap saja si muhlasin tidak bangun-bangun juga. Muhlasin tetap tiarap tidur. Aku tarik kakinya “bangun dodol sudah hamper jam enam (6)”, kemudiam dia baru bangun, dia telungkup kemudian tidur lagi. Sudah kebiasaan tidur pagi

“Woi !!! udah siang dodol”,

“Jamberapa siah”, muhlasin menayakan waktu suara masih rada-rada serat.

“Jam 6”, tegasku.

“Aku mandi dulu, ini kepagian”, muhlasin perlahan bangundari tempat tidur, dengan langkah lemas dia berjalan, sesaat tangannya mengambil gayung di atas lemari, kemudian dia menyelinap menghing di balik pintu menuju ke kamar andi. Hp ku bunyi lagi. Aku raih dari samping kerangjang, kemudian aku tulis SMS “Tunggu dulu sebentar ni baru bangun tidur, mau mandi dulu”, setelah SMS lalu aku bergegas menuju kamar mandi. Muhlasin sudah selesai mandi.

“Dimana anak kumpu?”,

“Di BC”, kataku.

“BC itu dimana ? di pangung itu ta”, Muhlasin menanyakan dimana anak kumpul.

“Dasar dodol, BC itu di BTN do……….ool”, seru aku sambil ketawa, masa dak tau BC.

“aku berangkat duluan akan kubilang kumu belum bangun sama junik”, muhlasin terkikik sambil berjalan memegang tas yang terlihan budek alias kotor, ya… karna dak perna dicuci, kalau dihinggapi lalat mungkin akan mati keracunan.

Setelah si muhlasin berangkat, kini di kamar Cuma tinggal aku dan kedua temanku Naseh dan Oxi. Oxi masih tidur di atas kerangjang, aku coba membangukannya beberapa kali tapi tetap saja, Cuma sesaat menguap lalu tidur lagi. Ya mungkin dia payah setelah hamper semalan suntuk main Game.


Oxi masuk kamar kira-kira jam 02.30 pagi. Sebul tidur si Oxi sempat ngerjain teman-temanya. Dia miscol teman-teman ceweknya. “Gus kan bangunin orang dapat pahala juga”, tutur oxi sambil tertawa kecil.

Ya mungkin saja”, aku jawab dengan nada cuek. dia terus ngejain teman-temannya, sesekali dia bicara sendiri. “ayo bangun dulu”, seru Oxi dia ngomong sendiri. Aku Cuma memperhatikan tingkah lakunya. Waktu pada saat itu udah menunjukkan jam 03.00. pagi aku tutup baku yang aku baca. Kemudian bergegas untuk solat tahajjud. Ya aku coba untuk mendekankan diri pada sang pencipta dengan cara solat malat Insaya Allah Tuhanakan memberikan solusi pada persoalan yang kuhadapi.


Naseh terlihat sedang memainkan HP nya. Dia duduk sambil menyilapkan kakinya. “Kamu dak ikut jalan-jalan”, tegur aku pada naseh yang sedang mengkotak atik HP nya. Kemudian sesaat dia menggelita kemudian “Aku dak bias ikut karma sekarang ada ujian Java, dua kelas sekaligus sekarang”,

“ya gak apa-apa”, lanjut aku.

Aku kemudian kebelakang ke kamarmandi. Waktu sudah menunjukkan 05.55. pagi.

Setelah selesai mandi aku mempersiapkan segala kebutuhan, buku catatan, bulpen, dan dua buku bacaan. Untuk meyakinkan sudah dak ada yang ketinggalan, aku periksa tas yang akan kubawa. Kemudian aku segera berangkan dengan berlari-lari kecil, menuru tangga. “Kok terburu-buru” salah seorang santri menyapaku, aku tidak begitu jelas siapa yang menyapaku “ya ni ada kepentingan dikit” aku jawab dengan singkat.

Setelah berjalan bebera jurus kemudian aku bertemu dengan si Muhlasin, dia berjalan dari arah utara sedang bercanda dengan teman-teman. “Hei dodol dari mana, tak kirain udah ada disana?”, aku sapa si Muhlasin.

“Aku dari teman, ayo cepetan”, ujar muhlasin sambil guyu dan menarik tanganku.

Kami pun berjalan dengan agak di percapat sedikit. Saat berpapasan dengan dua gadis “hai selamat magi”, agu menyapa dan teman si muhlasin guyu saja, sebenarnya aku menyapa gadis itu hany sekedar menghidupkan suasana, karma aku amat malas sebenarnya melakukan perjalanan ini, tetapi sebagai tanggung jawabku di keradaksian aku menjalaninya. Bukan berarti aku merasa tertekan atau keberatan dengan kegiatan yang baru di rintis ini, tidak. Justru menurut aku, ini merupakan suatu langkah baru untuk semakani mempererat ka akrapan diantara anggota. Dan menurut hemat aku ini merupakan suatu upaya bagi diri kusendiri untuk lebih mengenal malang dan bagai mana cara melihat rialitas.

Tiba muhlasin memecah suasana, “Di, itu bapakmu”, temanku yang aku yang aneh tiba-tiba ngomel, dan lebih lucunya meneurut aku, dia menunjuk seorang laki-laki yang lewat paru baya sedang membersihkan halaman rumahnya, menurut dia itu ayah aku, dasar teman yang aneh. “sin kamu ada-ada saja”, tegasku

“Tapi gak apa-apa sih dia jadi ayahku, dia itu Doktor Uin kaprok!!!”, tambahku. Memang laki-laki yang menyapu di halaman rumah itu merupakan salah satu doktoe Uin. Aku dak begitu ingat siapa namanya. Tapi yang masih ku ingat dia itu salah satu Dosen Tarbiyah, aku ingat ketika dia memberkan sambutan saat di SC dalam memberikan wawasan ke fakultasan.

Kiatapun terus berjalan, hilir mudik pejalan kaki saling berlawanan arah, sesekali kendaraan Motor melintas di samping kiri kita. Beberapa langkah kaki lagi aku akan lewat di depan rumahnya. Kira-kara dua meter dari jarak bapak yang sedang menyapu, pandangan aku tersita oleh pancara marahari pagi. Sungguh pagi yang indah sinar matahari yang menguak celah-celah awan seakan memberikan isyarat pagi akau. “Sinar Surya yang indah penoh rona”, Tiba-tiba kata-kata itu terlontar dengan sepontanitas. Bapak yang menyapu di halaman, menurut aku sih bukan halan tapi di depan pagarnya rumahnya tersenyum menatap aku dan kedua temanku. Mungkin dia mendengar ucapanku tadi, dengan ekpresi aku. Aku hanya membalas senyuman itu, sambil merundukkan badan sebai penghormatan.

“Sin aku kesini”, aku seraya berbelok keselatan pas di samping rumah bapak yang menyapu. “Kemana disana ditutup”, temanku seraya mereunduk melihat keselatan melihat jalan pintas di samping Masjid Tarbiah.

“Ya udah aku ada perlu”, aku tidak mengindahkan imbuhan teman aku tadi, tapi si Muhlasintetap mengikuti aku. Sebenarnya aku tidak hendak lewat jalan lintas. Aku hanya ingin solat dulu di Masjid. Ya…. Aku hanya ingin solat dtuha. Sinar mata hari itu seakan menyuruhku untuk solat dulu. Sebenarnya semenjak aku meninggalkan Ma’had perasaan aku was-was, mungkin nanti aku bisa menghilang atau pisah dari kelompok untuk mencari Masjid terdekat sebentar untuk solat. Sungguh Allah seakan membukakan jalan degan memperlihatkan sinar matahari, sinar itu menjadi petunjuk, bahwa waktu dtuha sudak masuk. Karna sinarmata hari itu sudah lewat satu tombak. Jadi aku sempatkan dulu kemasjid Tarbiayah untuk solat. Saat jalan-jalan aku tidak harus repot-repot mencari masjid sekedar solat.

Setelah aku sampai di serambi masjid kemudian aku melepas sepatu, dan kaos kakiku. “Anjing…..”, teman aku mengumpat.

“Aku solat dulu”, tegas aku pada temanku, kemudian dia balik dan meninggalkan aku.

“Bilang sama yang lain tunggu aku sebentar”, teriak aku pada Muhlasin yang terus berjalan meninggalkan jauh Masjid.

Saat aku di Masjid aku melihat satu orang di dalam sedang memegang sebuah kitab Al-quran yang berukuran kecil, melutnya terlihat bergerak-gerak membaca teks-teks suci. Dan dari lantai atas terdengar sebuah diskusi, apa yang didiskusikan aku sendiri tidak tau, mungkin cara rutinan. Aku tidak menghiraukan aktifitas yang ada di Masjid, Kemudian aku segera solat.

Usai solat seperti biasa memanjatkan Doa supaya Allah memudahkan dalam segala urusan. Setelah itu aku segera meninggalkan Masjid. Aku berjalan dengan setengah tergesa-gesa, karma aku tidak ingin teman-teman yang lain bosan menunggu aku. Situasi jalana tidak begitu ramai seperti saat Mahasiswa balik dari PKPBA (Program Kegiatan Pengembangan Bahasa Arab) atau pulangnya. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang jalan-jalan santai. Beberapa langkah dari pintu gerbang, sebuah taksi melambai-lambaikan tangan sambil mulutnya bergerak-gerak memanggilku, aku hanya melambaokan tangan sebagai tanda (tidak butuh /naik taksi itu). Kemudian taksi itu pun melaju, lalulintas kendaraan di depan pintu gerbang Gajayana menuju Ma’had terlihat ramai. Aku terus berjalan nampak terlihat dari kejauhan teman-teman sudah kumpul menunggu aku. Sekitar tiga menit akupun sudah bergabung dengan mereka.

Kemudian salah satu di antara sembilan teman-teman itu kemudian memberhentikan Taksi AL. “Mas Roli dak ikut ta”, Tanya aku pada teman-teman.

“Dia dak bisa ikut karma sibuk”, sambung bak Lilik yang sedang mengendong tas kamera. Bak Lilik memang sangat dekat dengan mas Roli. Dengar-dengar sih dia akan segera menikah, ya mungkin Cuma nunggu usai sekripsinya.

“Yang lain mana di”, Tanya bak Lilik padaku.

“Dak tau jug saya udah SMS si Adil”, Ya… semalam aku sempat ngasi tau sama Adil bahwa UKM INOVASI ada acara jalan-jalan sambil hanting foto. Memang seharusnya kalau hadir semua, teman seangkatanku saja 20 orang, tapi yang aktif hadir ke UKM Cuma yang itu-itu saja. Yang hadir ikut dalam acara jalan-jalan teman-teman seangkatanku, MU (Maria Ulfa), Fitri, Yesi, Muhlasin, dan aku sendiri, yang lainnya adalah anggota senior, Junika, Lilik, As’ad, dan A’yun. Yang ikut dalam acara jalan-jalan itu sebanyak sembilan (9) orang.

Aku termangu sebentar melihat teman-teman yang saling bergurau satu sama lain. Aku jadi teringat suatu “angka” 9 (sembilan)”, angka ini konon adalah angka yang paling tinggi, dan konon memeliki filosofi tersendiri, sayang aku tidak tau. Walau aku sendiri tidak begitu percaya pada hal-hal seperti itu, aku jadi ingat perjuangan wali songo dalam menyiarkan agama. Disebut wali songo karma jumlahnya sembilan (9) orang. Tapi bukan berarti aku menyimbolkan kesembilan orang “teman-teman”, adalah wali, lagian kedelapan teman-teman dan sembilan dengan aku, itu kan campuaran, antara cowok dan cewek, sementara wali-wali itu identik denga laki.

Terlapas dari kepercayaan pada angka-angka itu. Yang jelas aku memiliki satu harapan yag amat besar, seperti yang pernah aku sampaikan kepada teman-teman waktu mengadakan rapat rencana jalan-jalan.

Jam menunjukkan pukul 06.00 semua cru telah berkumpul di depan BTN Uin Malang. Setelah itu salah satu dari kami memberhentikan angkot. Hilir mudik kendaran seakan tidak putus-putus, kendaraan terus dari arah yang berlawanan

Posted in: Uncategorized