Objek Pembelaran

Posted on 29 Maret 2009

0


 

Dalam Kamus besara Bahasa Indonesia, secara etimologi belajar memeliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu” Definisi ini memelki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atu ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipnyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat mlaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.

Menurut Hilgrat dan Bower, “belajar memiliki pngertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui penglaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan.1 Jadi belajar merupakan aktivitas yang kontinyu dan berkesinambungan, serta penguasaan tentang sesuatu.

Konteks belarjar dan pembelajaran meruapakan dua kata yang memiliki makna yang berdiri sendiri, belajar dapat diartiakan seperti di atas. Sedangkan pembelajaran atau yang akram disebut KBM (Kegiatan Belaja Mengajar) mrupakan langkah kongrit kegiatan belajar siswa dalam rangka memperoleh,mengaktualisasikan, atau meningkatkan kompetensi yang dikehendaki. Atau, dengan katalain bisa dikatakan, KBM merupakan proses aktif bagi siswa dan guru untuk mengembangkan potensi siswa sehingga mereka akan ”tahu” terhadap pengetahuan dan pada akhirnya ”mampu” untuk melakukan sesuatu.2

Belajar/ menacrai ilmu kalau ditinjau dari asal katanya, kata ilman yang berasal dari bahasa Arab bersifat nakirah (umum), artinya mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak ada larangan dalam Islam untuk mempelajari pengetahuan apapun selama tidak bertentangan dengan aqidah Islam. (lihat: Sistem Pendidikan di Masa Khilafah, Dr. Abdurrahman al-Baghdadi). “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi).

Sabda Rasulullah saw di atas menggambarkan bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai ilmu pengetahuan. Banyak nash al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyebutkan juga keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah Swt antara lain berfirman: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (TQS al-Mujadalah [58]: 11). Nabi saw juga antara lain bersabda:

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga.” (HR. Muslim dan at-Turmudzi).3 Hal itu merupakan belajar ditinjau dari virsus islam.

Kalau ditinjau dari beberapa teori tentang belajar/pembelajaran, baik yang beraliran behaviorisme, kognitivisme, humanisme, dan sibernetika aliran-aliran teori tersebut sekedar mengarahkan dan memilah jenis teori belajar mana yang akan menjadi pijakan dan kegiatan belajar.

Thorndike, salah seorang pndiri aliran tingkah laku, mengemukakan teorinya bahwa belajar adalah peruses intraksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike, perubahan tingkah laku dapat berwujud sesuatu sesuatu yan kongkret (dapat diamati), atau yang nonkonkkret (tidak bisa diamati)4

Beberapa Hal Yang Musti Diperhatiakn Dalam Proses (Objek) Pembelajaran.

Pengelolaan Ruang Kelas.

Ruang kelas atau tempat belajar, terutama kursi dan meja siswa serta posisiguru, ditata sedemian rupa sehingga menunjang kgiatan pembelajaran aktif, yang memungkinkan muncul kondisi berikut :

  • Aksesibilitas, yaitu siswa mudah menangkau alat dan sumber belajar.

  • Mobilitas, yaitu siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian kebagian yang lain dalam kelas.

  • Intraktif, yaitu siswa mudah untuk saling berinteraksi dan berkomonikasi baik antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa.

  • Variasi kerja sama, yaitu siswa bisa bekerja secara perorangan, berpasangan, atau kelompok.

Pengelolaan Kegiatan Siswa.

Kemampuan siswa dalam satu kelas tentu beragam, ada yang pandai, sedang, dan ada pula yang kurang. Sehubungan dengan keragaman kemampuan tersebut, guru perlu mengatur secara cermat, kapan siswa harus bekerja secara perorangan, berpasanagn, berkelompok dan klasikal.

Hal yang perlu mnjadi pertimbangan diantaranya,

  • Jenis kegiatan

  • Tujuan kegiatan

  • Keterlibatan siswa

  • Waktu belajar

  • Ketersediaan sarana/prasarana, dan

  • Karakteristik siswa.5

Keluarga sebagai pembentuk Perilaku/ahlak baik.

Faktor keluarga merupakan faktor yang paling penting dalam mempengaruhi tingkah laku siswa. Apabila faktor negatif yang datang dari keluarga, misalnya orang tua tidak rukun, sering bertengkar dihadapan anak, akibatnya remaja mengalami keterbelakangan kecerdasan, kegoncangan emosi akibat tekanan perasaan, kehilangan rasa kasih saying dan sebagainya. Maka usaha keluarga adalah mencari jalan preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan konstruktif (pembinaan). Sehingga para remaja menjadi manusia yang teguh imannya, kokoh pendiriannya, terpuji akhlaknya dan tinggi semangatnya untuk membangun bangsa dan masyarakatnya kepada kehidupan bahagia yang diridhai oleh Allah SWT.6

Belajar sebagai perubahan perilaku terjadi setelah siswa mengikuti atau mengalami suatu peroses belajar mengajar, yaitu hasil belajar dalam bentuk penguasaan kemampuan atau keterampilan tertentu. Gagne mengistilahkan perubahan perilaku akibat kegiatan belajar mengajar dengan kapabilitas. Di sini, kapabiltas diartikan berdasarkan atas adanya perubahan kemampuan seseorang sebagai akibat belajar yang berlangsung selama masa waktu tertentu. Perubahan kemampuan ini dapat dilihat dari perubahan perilaku seseorang. Perubahan tesebut boleh jadi berupa peningkatan kapabilitas (kemampuan tertentu) dan berbagai jenis kinerja, sikap, minat atau nilai. Meskipun demikian Gagne dalam definisinya menegaskan, perubahan itu berbeda dengan yang dihasilkan melalui proses pertumbuhan sehingga perubahan perilaku yang terjadi dalam diri seseorang sebagai akibat fisiologis, mekanik dan kematangan tidak dapat dikatan sebagai hasil belajar. Contohnya, perubahan kmatangan dalam bentuk perubahan tinggi badan dan berat badan disebabakan perubahan pertumuhan fisik (peroses fisiologis) begitu juga dengan kemampuan anak berjalan dan berbicara, tidaklah dikatakan sebagai perubahan, jadi dfinisi Gagne mengandung pengertian bahwa perubahan prilaku orang dapat dilihat dalam sejumlah kemampuan tertentu sebagai akibat perubahan dalam bntuk perkembangan kepribadian dan kejiwaan (psikologis).7

Menurut Gagne, proses belajar, terutama belajar disekoalah, itu melalui tahap-tahap atau fase-fase : motivasi, konsentrasi, mngolah, menggali 1, menggali 2, prestasim, dan umpan balik. Tahap-tahap atau fase-fase terebut digambarkan dalam tabel 1.1.8

Peratama tahap motivasi. Tahap motivasi, adanya dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai pengaruh besar dalam roses belajar. Indikator-indikator tersebut diantaranya : 1 )adanya hasrat dan keinganan berhasil; 2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; 30 adanya harapan dan cita-cita masa depan; 4) adanya penghargaan dalam belajar; 5) adanya kegiatan yang menaraik dalam mengajar; 6) adanya lingkungan yang kondusif sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.9 Saat motiovasi dan keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit. Misalnya siswa tertarik untuk melihat memperhatikan apa yang ditunjukkan guru (buku, alat peraga), dan mendengarkan apa yang diucapkan guru. Tahap konsentrasi, yaitu saat siswa memusatkan perhatian, yang telah ada pada tahap motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan degan apa yang akan dipelajri. Pada fase motivasi mungkin perhatian siswa hanya tertuju pada penampilan guru (pakaian, tas, model rambut, sepatu dan sebagainya). Tahap mengelola, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam Shor Term Memory, atau tempat penyimpanan ingatan jangka pendek, (meaning) berupa sandi-sandi sesuai denan penangkapan masing-masing. Tahap menyimpan, yaitu siswa menyimpan simbol-simbol hasil olahan yang telah diberikan makna kedalam Long Term Memory (LTM) atau gudang ingatan jangka panjang. Tahap pengalian 1, yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dngan informasi yang diterima. Tahap mengali 2, mengali informasi yang telah disimpan dalam LTM untuk fase prestasi, baik langsung maupun melalui STM. Pada tahap ini lebih mengarah pada kerja, seperti menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan atau soal latihan. tahap prestasi, informasi yang telah tergali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukkan pestasi yang merupakan hasil belajar. Tahap umpan balik, siswa memperoleh pnguatan (informasi) saat perasaan puas atas prstasi yang ditunjukkan.10

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.1

Distribusi kecerdasan IQ menurut Stanford Revision.11


Tingkat Kecerdasan

Klasifikasi

140 – 169

Amat superior

120 – 139

Superio

110 – 119

Rata-rata tinggi

90 – 109

Rata-rata

80 – 89

Rata-rata rendah

70 – 79

Batas lemah mental

20 – 69

Lemah mental

 

Daftar pusataka

Wahyuni, Esa Nur & Baharuddin. 2008. Teori Belajar dan pembelajaran Jogyakarta :Ar-ruzz Media group

Daradjat, Zakiah. 1995. Remaja Harapan Dan Tantangan Jakarta: Ruhama

Muslich, Mansur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Jakarta : Bumi Aksara

http: Waspada Online .com Islam Dan Pendidikan 16 Nov 06 22:49 WIB

Uno, Hamzah B. 2008. Teori Mtivasi & Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara

1 Esa Nur Wahyuni & Baharuddin Teori Belajar dan pembelajaran (Jogyakarta :Ar-ruzz Media group,2008) hal 13

2 Mansur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hal 71

3 http: WASPADA Online .com Islam Dan Pendidikan 16 Nov 06 22:49 WIB

4 Hamzah B. Uno, Teori Mtivasi & Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan(Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hal 11

5 Mansur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstua (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) hal 37

6 Zakiah Daradjat, Remaja Harapan Dan Tantangan (Jakarta: Ruhama, 1995) Hlm. 46-60

7 Ibid hal 16-17

8 Ibid hal 17

9 Ibid hal 22

10 Esa Nur Wahyuni, & Baharuddin Teori Belajar dan pembelajaran (Jogyakarta :Ar-ruzz Media group,2008) hal 17-18

11 Ibid 21

Posted in: Uncategorized