Resensi Buku Dilarang Beredar Di Beberapa Negara

Posted on 14 Februari 2009

0


Judul   : Beriman Tanpa Rasa Takut “Tantangan Umat Islam Saat Ini”

Penulis : Irshad Manji (Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan

Perubahan Positif dalam Islam)

Penerbit : Nun Publisher (www.nunpublisher.com) dan Koalisi Perempuan\

Indonesia
halan    : 345 hlm

Harga   : Rp 55.000,_

Beriman Tanpa Rasa Takut, merupakan buku terjemahan dari The Trouble with Islam Today dalam edisi arabnya diberi judul Muslimun Wa Ahraar mengajarkan kritis terhadap segala sesuatu bahkan hal-hal yang kadang menurut kita adalah tabu, seperti agama misalnya. Dalam fersi Indonesia Beriman Tanpa Rasa Takut kita bisa menemukan kritisisme seorang muslim terhadap agamanya sendiri. Pada fihris pertama kita bisa melihat pemberontakan dia terhadap al-qura’an. Dia mempertanyakan universalitas Al-Qur’an sebagai the first epistimologic setelah Hadits.

Kemudian dia juga menyinggung isu gender. Adapun sebab timbulnya pertanyaan pemberontakan tentang Al-Qura’an darinya adalah lebih dikarenakan posisinya yang tidak paham bahasa arab yang menyebabkan dia tidak bisa memahami al-qur’an baik tersirat maupun tersurat, dari sinilah dia mengungkapkan, kenapa Al-Qur’an tidak disalin saja kedalam bahasa dimana orang muslim tinggal seperti halnya dia yang mengalami kesulitan dalam memahami Al-Qu’an. Adapun masalah isu gender, karena_maaf harus menggunakan kata-kata ini_dia mengalami kelainan sex, Irshad adalah lesbian. Tidak mengherankan bila dia mempertanyakan kenapa perempuan tidak bisa jadi imam sholat. Dan masih banyak lagi pertanyaan pemberontakan lainya dalam buku tersbut.

..Taslima Nasrin, seorang penulis dan dokter feminis yang dikucilkan di Bangladesh, memberiku contoh konkret tentang apa yang telah dia alami jauh sebelum orang Saudi menjadi kaya. “Saat kecil,” katanya, “aku diberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu berarti segala sesuatu. Jadi, Allah seharusnya tahu bahasa Bengali, bukan?” Dia bertanya kepada ibunya, “Bagaimana mungkin aku harus shalat dalam bahasa Arab? Ketika aku ingin berbicara dengan Allah, kenapa aku harus menggunakan bahasa orang lain?” Ibunya tidak mengungkapkan alasan yang memuaskan, kecuali sebuah jawaban yang itu-itu saja. (Hlm. 218).

Pertanyaan-pertanyaan yang tertuang dalam buku ini mengundang banyak perhatian masyarakat Dunia, khusunya Islam, tak jarang orang yang membaca buku ini dibuat terbela-lak, dan sadar bahwa selama ini, kita hidup dalam tiran agama, yang berkutat pada persoalan pahala-dosa, surga-nereka. Dengan dengan gaya tutur, pemakaian bahasa sederhana, buku ini mudah untuk dipahami oleh pembaca.

Buku ini memang insfiratif sekaligus kontroversial saat ini. Sejak terbit, Irshad Manji penulis menerima banyak ancaman pembunuhan dari para penentangnya, kelompok fundamentalis. Sejumlah negara Arab melarang buku ini masuk ke wilayahnya. Namun, jutaan umat Islam terinspirasi oleh perjuangan Irshad Manji setelah membaca buku ini, dan segera bangkit untuk berjuang melawan penindasan atas nama agama di komunitas-komunitas mereka sendiri.

Irsad Manji mempertanyakan setiap tindak kekejaman, penindasan yang dilakukan oleh ummat islam, dengan legitimasi agama dan dalil-dalil Al-Quran. Menurutnya mereka hanya menafsirkan al-quran secara kontekstual tanpa melakukan peninjauwan lebih dalam. ……… Sebagian besar kaum muslim memperlakukan Al-Quran sebagai dokumen yang harus ditiru (diimitasi) ketimbang harus diinterpretasikan. Dan hal itu membunuh kemampuan kita untuk berpikir bagi diri kita sendiri. (Hlm. 75).

Pemberlakuakn yang tidak adil oleh lelaki-laki kepada perempuan dengan mengatasnakam agama juga menjadi pertanyaan Irsad Mandi dalam buki ini. Ia juga mempertanyakan posisi wanita dalam pandangan Al-Quran, yang sering dijadikan legitimasi mati yang harus dipatuhi, menurutnya Al-Quran tidak secara transparan bersifat egaliter terhadap perempuan, Al-Quran tidak secara transparan bersifat apa pun selain menimbulkan banyak teka-teki. “………..kaum muslimlah yang memproduksi banyak keputusan dengan mengatasnamakan Allah. Keputusan-keputusan yang kita buat berdasarkan Al-Quran tidak didiktekan oleh Tuhan: Kita membuatnya melalui kehendak bebas kita sebagai manusia. (Hlm. 82).

Dia juga mempertanyakan apakah benar kumpulan ayat al-quran itu sepenuhnya dari allah atau masih ..……. apakah Al-Quran ditulis Allah dari awal sampai akhir? Sepanjang dekade-dekade pertama Islam, dengan sedikit waktu mencerna keyakinan yang baru itu, orang Arab meraih sukses militer internasional atas nama Allah. Bisa dipahami jika pengumpulan ayat-ayat Al-Quran harus dipercepat untuk memenuhi tekanan sebuah dinasti. Dalam sebuah esai revolusioner yang berjudul “Apakah Al-Quran itu?”, The Atlantic Monthly menceritakan seorang panglima yang kembali dari Azerbaijan. Sang panglima memperingatkan khalifah ketiga, Usman, bahwa para mualaf mulai bercekcok tentang apa yang dikatakan Al-Quran. Dia memohon kepada Khalifah Usman untuk “mendahului orang-orang ini” sebelum mereka terseret ke dalam pertikaian, sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Yahudi dan Kristen. Khalifah Usman segera menitahkan untuk membukukan Kitab Suci. Wahyu-wahyu yang dihafal akan ditulis dan perkamen-perkamen ayat-ayat suci yang terpencar-pencar akan dikumpulkan, semuanya akan didistribusikan sebagai sebuah versi Al-Quran. Salinan-salinan “tidak sempurna” atau “tidak resmi” akan dimusnahkan. Pertanyaannya: Setelah disetujui dengan terburu-buru, bagaimana jika versi yang “sempurna” ternyata kurang sempurna? (Hlm. 222).

Irsad Manji telah melampaui apa pun, dengan pemikiran dan keritivasnya, banyak orang menjadi sadar terhadap jalan yang mereka lalui, dengan gaya bahasa santai dan memikat. Isi dari buku ini mengajak kita untuk selalu melakukan tela’ah terhadap keyakinan kita, menurutnya Islam harus ditafsirkan terus-menerus sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang dalam masyarakat. Saat ini Islam mengalami krisis yang akan mengancam dan menyeret seluruh dunia ke dalamnya. Memang semua agama memiliki kelompok fundamentalis sendiri-sendiri yang menerapkan tafsiran harfiah, namun di agama Islam kelompok fundamentalis merupakan kelompok mainstream. Obsesi kelompok fundamentalis untuk menelan ajaran Islam secara harfiah merupakan penyebab semua masalah yang melanda Islam saat ini. Pola pemikiran seperti itulah yang menyebabkan muslim menganggap dirinya sebagai kelompok superior dan mendiskriminasi perempuan serta orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Pola pemikiran seperti itu pula yang menjadi sumber kekerasan, serangan bunuh diri, dan terorisme.

`Tafsiran fundamentalis yang anti-demokrasi dan anti-perempuan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Masih ada alternatif. Dan satu-satunya alternatif untuk itu adalah dengan menghidupkan kembali Ijtihad, tradisi berpikir independen dalam Islam. Tradisi itu mengajak setiap muslim untuk tidak secara mentah-mentah atau harfiah menerima ajaran Islam. Jika saja lebih banyak dari kita yang tahu bahwa Islam adalah produk puluhan sejarah yang saling-berkaitan, bukan sebagai sebuah jalan hidup utuh yang orisinal—jika saja kita memahami bahwa kita adalah makhluk hasil persilangan spiritual—akankah kita lebih mau menerima “yang lain”? Kenapa kita begitu enggan untuk mengakui pengaruh-pengaruh luar, kecuali ketika kita menyalahkan Barat atas aneka luka kolonial yang kita derita. Yang, pada gilirannya, memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah Islam lebih picik daripada agama-agama dunia lainnya? (Hlm. 143).

Keterbukaan, transparan dalam menerima, menyikapi itulah keistimewaan Irshad Manji, faktualisasi pemikirannya yang amat jarang kita temukan pada orang lain bisa kita dalam karyanya. Dia adalah produk dari ketidak adilan, yang pada masa kecilnya terkucilkan oleh system, tirani-pahan, agama, bahkan ditengah perjalannya saat ini dia menjadi cacian, bukan hanya karma kekeritisannya mengenai agama, akan tetapi pada kenyataan dia alami, seperti telah disinggung di atas dia seorang yang lesbian.

Ketika orang islam rami-rami menolak segala eksistensi barat karna barat dianggap sebagai titik tolak kehancuran moral, hal itu tidak dengan Irshad Manji denagn pemikirannya ia mencoba menempuh jalan lain, justru dia menaganjurkan untuk ambil bagian. Menurutnya …….. ketidakmampuan muslim untuk turut ambil bagian dalam dunia modern saat ini bukan karena faktor luar seperti kolonialisme, melainkan karena adanya penindasan terhadap pandangan bebas dan kritis. Manji menantang kaum muslim untuk kembali menentukan nasibnya sendiri dengan mengembalikan pandangan bebas dan kritis guna ‘memperbaharui’ Islam untuk abad ke-21.

Hindari fanatisme konyol, setidaknya itulah yang hendak disampaiakan oleh Irshad Manji terhadap fenomena yang terjadi tubuh islam, dalam hal ini manji mengungkab hal lain ketika agama dalam kitab sucinya secara terang-terangan menolak non islam dia justru mengajak untuk melihat sejarah agama, menurutnya islam adalah turunan dari agama-agama sebelumnya.

…….. Ketika pintu ijtihad tertutup, hak berpikir independen hanya menjadi milik eksklusif kelompok mufti, ulama ahli hukum, di setiap kota atau negara. “Sampai hari ini,” kata Mahmoud Ayoub, “para mufti menerbitkan opini-opini hukum, yang disebut fatwa, sesuai dengan asas-asas mazhab mereka. Kumpulan fatwa itu berfungsi sebagai manual terutama bagi para mufti yang kurang kreatif atau kurang mampu.” Kurang kreatif? Kurang mampu? Kurang mampu ketimbang siapa? Anda atau aku? Apa kita masih membutuhkan mereka? Daripada terus menjiplak jiplakan mereka, bukankah lebih baik kita dengan sekuat tenaga mengguncang-guncang pintu ijtihad supaya terbuka? (Hlm. 114).

Manji mendorong kaum intelektual Barat untuk mengkritik Islam. Menurutnya kritik sangat dibutuhkan untuk membawa pembaharuan yang dibutuhkan. Di Barat, filsafat multikulturalisme sudah berubah menjadi pandangan ortodoks, yang membuat orang Barat cenderung bersikap cuek dengan permasalahan di tempat lain. Orang-orang Barat takut dicap bersikap rasialis jika mengkritik Islam. Namun, menurut Manji, mengkritik Islam untuk membela hak asasi manusia bukanlah tindakan rasialis. Kebudayaan layak dihormati selama budaya itu juga menghormati.

Setelah banyak bereksplorasi, interpretasi pribadiku terhadap Al-Quran membawaku pada tiga pesan yang baru saja kudapatkan. Pertama, hanya Tuhan yang sepenuhnya tahu kebenaran dari segala hal. Kedua, hanya Tuhan yang bisa menghukum orang yang tak beriman, dan itu berarti bahwa hanya Tuhan yang tahu apa itu keimanan sejati. Ketiga, kesadaran kita membebaskan diri kita untuk merenungkan kehendak Tuhan—tanpa kewajiban apa pun untuk tunduk pada tekanan dari prinsip atau faham tertentu… (Hlm. 310

Islam sebagai Din dan Islam sebagai pemahaman memang menyisakan masalah tersendiri pada pemeluknya. Bila menganggap islam sebagai Din maka kita harus tunduk dan patuh terhadap teks termaktub, tidak boleh mbalelo apalagi neko-neko. Tapi yang pasti hidup ini terus berjalan searah dengan berjalanya waktu, dimana dalam perjalananya pasti ada saja hal-hal yang datang diluar dugaan dengan segala varianya dan membutuhkan right of problem solving. Pada tataran inilah kita sering dibenturkan pada realitas teks dan konteks. Ketika teks dan kontek seirama tidak akan pernah jadi masalah, yang jadi masalah adalah saat keduanya saling membelakangi, disinilah diperlukannya Islam sebagai pemahaman agar masalah kemanusiaan tetap terakomodir.

Sikap seperti Irshad Manji perlu dikembangkan_asalkan kritisisme itu konstruktif_karena pada hakekatnya tidak ada yang tidak bisa dipertanyakan. Tetapi kita juga tidak bisa sepenuhnya menjadi seorang irsyad, sebab kita juga harus tahu diri, siapa kita dan siapa Dia, kita juga harus sadar ada hal yang tidak patut untuk terus dan selalu dipertanyakan, apalagi bila kritisisme itu hanya mengedepankan ego dan kepentingan pribadi yang ujung-ujungnya hanya berakhir pada individual satisfy and independency.

 

 

Posted in: Uncategorized