Menulusuri Makna, Dibalik Teks Tuhan.

Posted on 10 Februari 2009

0


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (QS. Al’ Alaq : 1)
Ayat di atas merupakan ayat Al-quran yang pertama yaang disampaikan Tuhan kepada Nabi Muhammad Sw. di Gua Hiro. Dalam ayat itu ada sebuah intruksi iqro’ (bacalah) kata iqro’ berasal dari kata arab qoro’a (bacaan). Dalam kata baca telah mengisyaratkan sebuah makna yang cukup mendalam dimana membaca merukan sebuah pintu gerbang menuju pintu-pintu yang lain. Kemudian kata bacalah disertakan kalimat tauhed “bacalah dengan nama Tuhanmu” kata Tuhan menunjukkan sebuah keagungan dimana Ia adalah sumber dari segala aspek kehidupan ini. Pembacaan tanpa didasi oleh keyakinan pada Tuhan hanya akan mengalami kesia-sian ”buntu”, karna Tuhan merupakan kata kunci ” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.
Ayat pertama ini sekaligus seagi pembuka terhadap krangka pikir manusia secara umum muslim khususnya. Dengan kita membeca maka kita akan menemukan jawaban dari setiap persoalan kita. Tak salah jika ada yang mengatakan membaca adalah jendela dunia. Denan membaca kita akan mengetahui dunia diluar kita, tanpa kita harus mengun junginya.
Alquran sebagai kitab yang disucikan oleh pemeluknya memang memili legitimasi yang sangat kuat, bahkan selalu peka terhadap zaman. Di dalam-Nya segala sumber ilmu telah Allah berikan tinggal bagai manan ummat itu bisa menggali, dan mengaplikasikannya. Dalam konteks nyata memang al-quran tidak serta meta langsung mereduksi secara jelas, hanya sebuah isyarat yang mana orang-orang tentulah yang bisa menangkapnya.
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali bila kaum yang bersangkutan berusaha mengubah sendiri keadaannya” (Qs. Ar-Ra’du : 11).
Kalau kita mencermati dengan teliti dan melakukan telaah secara mendalam ayat di atas kita dapat memberikan sebuah simpulan tersendiri. Lantasa masihkah kita mengantungkan segala eksistensi kita kepa-Nya. Tidak salah jika Max dan Freud menganggab bahwa (orang yang meyakini keberadaan Tuhan) manusia itu gila, berada dalam kegilaan. Jika kita tetap mengantungkan apa yang kita lakukan itu semata-mata karna tuhan maka kita telah masuk dalam kata gori yang dikatan oleh Freud tersebut.
Ayat tersebut secara tegas memberikan ruag dan eksistensi manusia bagi manusia sendiri. Siapa yang tidak ingin hidupnya lebih baik, tentu setiap manusia normal menginginkan hal itu. Begtu juga saya, memiliki keinginan untuk hidup lebih baik. Saya hidup dan dibesarakan di kalangan keluarga yang serba berkekurangan. Bukan maksudnya saya untuk mengingkari nikmat Tuhan yang telah diberikan pada saya dan juga keluarga. Setidaknya meski saya hidup dalam keluarga yang sedrhana, saya bersyukur dengan segala yang telah Allah berikan pada saya juga keluarga, karna sampai saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mengenyam pendidikan sampai ke perguran tinggi, ini merupakan nikmat Tuhan yang tiadatara bagi saya.
Saya mengatakan demikian, karna orang-orang yang memiliki kemampupuan secara finansial mereka tidak melanjutkan pendidikan anaknya sampai kejenjang yang lebih baik/sampai pada tataran perguruan tinggi. Entah kenapa ?, kalau saya cermati diantara teman-teman saya mereka seperti terbelenggu dengan sebuah sistem dan teradisi yang lebih kuat dan mengakar, yang ada di masyarakat itu sendiri. Sebenarnya mereka memilki keinginan seperti halnya saya ”melanjutkan keperguruan tinggi/ sekedar menyelesaikan sampai SMA. Alih-alih keterbelakangan para orang tua menjadikan mereka pesimistis.
Apala lagi ada sebuah selongan ”taat pada orang tua, adalah serminan anak yang baik, percuma melanjutkan (menuntut ilmu sampai jauh tapi tidak, dijalankan) sampai keperguruan tinggi, th nantinya hanya menjadi kuli biasa”. Secara garis besar teman-teman saya yang putus sekolah ”karna taat pada orang tua” takut kena laknat jika mengkal tidak patuh pada orang tua. Kedua karna mereka pesimis terhadap masa depan mereka, karna seperti apapun tingkat pendidikan yang diperoleh tidak bisa menjamin akan masa depannya, untuk lebih baik.

Posted in: Uncategorized