SEKILAS TENTANG MARIA ULFA

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

 

Hari pertama masa OSPEK sangat menyusahkan, aku harus mencari teman sekelompokku yang sama sekali belum aku kenal, dengan semangat yang masih full, semua mahasiswa baru berusaha menemukan teman kelompoknya, begitu juga dengan aku. Setelah beberapa kali meneriakkan nama kelompokku, akhirnya kutemukan teman yang kucari-cari. Orang pertama yang kudapati adalah seorang gadis berpenampilan casual. Kulitnya sawo matang, Tubuhnya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 148 meter. sedangkan berat badannya 50 kg, menurutnya lumayan gemuk. Dengan raut wajah yang menunjukkan keceriaan dan semangat tinggi dia memperkenalkan dirinya.

Maria Ulfa, lebih dikenal dengan sebutan MU, adalah salah satu mahasiswa universitas Islam Negri (UIN) Malang. Umur studinya di Universitas ini masih seumur jagung. Dia baru tercatat sebagai mahasiswa fakultas Humaniora dan Budaya jurusan Sastra Inggris UIN Malang pada bulan September 2007, dia diterima melalui jalur SPMB. Tahun-tahun sebelumnya dia juga mengikuti SPMB dengan pilihan Universitas Brawijaya sebagai pilihan pertama dan pilihan lainnya adalah Universitas Negeri Malang, namun nasib belum berpihak padanya sehingga studinya sempat terputus selama 2 tahun.

Untuk mengisi kekosangannya itu, dia membantu kedua orang tuanya berdagang dipasar bersama kakak perempuannya. selama itu MU banyak belajar arti kehidupan sebenarnya. Dari pengalaman hidup inilah dia menjadi sosok yang mandiri.

MU berasal dari kampung Kali Putih kecamatan Sisir kota Batu Malang. Lahir pada 05 Januari 1988. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Si sulung bernama Farida Ariyani (24), dan si bugsu, anak cowok satu-satunya dikeluarga itu, bernama Muhammad Dani Anwar (13).

MU adalah sosok yang banyak disenangi oleh teman-temannya. “Supel dan berdaya humor tinggi,” jawab Firqoh, kakak tingkat sekaligus teman seorganisasinya, saat aku meminta pendapatnya tentang MU. Tak jarang orang yang mengenalnya sebagai pribadi yang tak pernah terlihat sedih.

Ke’nya MU g’ pernah punya masalah deh,”

“Dia penghangat suasana, dimana ada dia, pasti suasananya jadi rame,”

“Kalo bareng MU seru abis deh…,” kata-kata itu mengalir dari lisan teman-teman terdekatnya.

Darori, ayah MU, adalah seorang lelaki yang keras namun penuh tanggung jawab. Dia mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah putus asa. Dia juga tipe oarang yang gigih dan pekerja kesar. “tak ada waktu yang terlewatkan untuk tidak mencari uang,” kata MU menirukan kata-kata bapaknya. Dia berprinsip bahwa istirahat adalah sesuatu yang tidak terlalu penting. hal ini diwariskan kepada anak-anaknya, termasuk pada MU. Untuk menafkahi keluarganya, dia berdagang di pasar Batu.

Sedangkan Eny Suchastifa, ibunya, adalah ibu rumah tangga. Tak banyak yang diceritakan MU tentang ibunya ini. Dia hanya mengatakan kepadaku bahwa ibunya adalah sosok yang sederhana. Eny membantu suaminya berdagang di pasar.

Pada umur 3 tahun setengah MU telah mengenyam pendidikan formal di TK Hj Mariam, sekitar 300 meter dari rumahnya. Meski umurnya di bawah standar, dia bisa memahami materi-materi yang diberikan dengan baik. Hingga saat kenaikan ke Sekolah Dasar dia menemui masalah karena menurut gurunya MU masih belum cukup umur untuk menepuh pendidikan dasar. Namun, MU kecil tetap bersikukuh untuk melanjutkan pendidikannya. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan MU diperbolehkan untuk mengikuti pembelajaran di MI Miftahul Ulum. Pada tahun pertama dan kedua prestasinya sangat mengagumkan. Dia membuktikan bahwa dia bisa seperti teman-teman lainnya, dengan masuk 10 besar.

Tahun 1999, dia menamatkan pendidikan dasarnya, dan meneruskan ke MTs Hasim as-Ary. Tak ada yang istimewa dari prestasi belajarnya saat itu. Hingga dia lulus dan melanjutkan studinya di MAN Batu Malang.

Hari ini, kamis 06 Desember 2007, aku kembali berkumpul bersamanya di Vila Enggal Mukti Songgoriti. Kami sama-sama mengikuti acara Diklat Jurnalistik tingkat Lanjut Nasional, “Jurnalisme Sastrawi”.

Satu hal yang terlewatkan, MU adalah salah satu anggota magang patrotik, sebuah buletin yang diterbitkan sebulan sekali di UIN Malang. Dia aktiv di Unit Aktivis Pers Mahasisiwa (UAPM) UIN Malang.

 

 

 

Posted in: Uncategorized