SEBUAH MEMOAR PADA PELAKSANAAN OSPEK 2007

Posted on 6 Februari 2009

0


 

Pertengahan musim panas 2007, suasana kota Malang nampak cerah, suasana pagi masih terasa kental. Sisa-sisa embun merangsak berbaur kabut, saat matahari mulai merangkak perlahan di ufuk timur, udara pagi dingin terasa menusuk tulang. Memang kota Malang selain dikenal kota apel, malang juga adalah kota dingin. Hamparan gunung-gunung terliht indah. Kerap kelip lampu di perkotan nampak jelas dilihat dari ketinggian. Di musim panas 2007, pertama aku menginjkkan kaki di kota ini. Suasana memang amat berbeda jau dari tempat daerah asalku, Kota Sumenep (Madura) yang terletak di ujung timur pulau Madura.

Malang juga terkenal sebutan kota pendidikan, terdapat banyak perguruan tinggi di kota ini, tiga perguruantinggi negri dan lainnya suasta. Aku datang ke Malang untuk menempuh studi lanjut pada salah satu perguruan tinggi yang ada di Malang, di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dengan berbekal keingin, aku coba untuk banyak belajar di kota ini. Entah kenapa aku memilih kota ini aku sendiri tidak punya alasan kuat untuk hal itu.

Tapi aku kira alasan kenapa aku memilih studi di Malang bukan suatu yang urgen, ….. ya, dengan berbekal keinginan,dan doa dari ayah, ibu beserta keluarga besar aku sampai di malang.

Saat menginjakkan kaki pertama kali, Aku sempat kaku. Perbedaan budaya dan sistem, memerlukan waktu tersendiri bagi aku untuk lebih mengenal dan paham akan kota dingin Malang. Malang dalam kesehariannya memakai bahasa jawa, dan ahal itu juga membuat aku harus banyak belajar, karna aku belum begitu bisa bahasa jawa. Sebenarnya sedikit-sedikit aku mengerti, tapi untuk berkomonikasi langsung dengan logat Jawa, aku belum bisa. Satu–tiga bulan, aku belum tetap belum bisa berkomonikasi dengan logat Jawa.

Malang terasa asing bagiku, terutama dengan logat jawanya. Mungkin hal ini karana ketidak bisaan aku dengan logat Jawa, aku hanya tersenyum setiap kali menyaksikanorang yang berkomonikasi dengan bahasa Jawa, sedikit-demi sedikit aku menirukan, namun aku tetap kaku. Untung ada bahas persatuan baha Indonesia, dengan bahsa Indonesia aku mencoba berintraksi satu dengan yang lain.

UIN merukan perguruan tinggi negeri yang basis Islam, pada saat aku sampai di perguruan islam UIN, UIN sendiri masih dalam tahap renovasi. Para pekerja dan traktor terlihat sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Pada tahun ini UIN mengambil “menerima angkatan baru” berkisar 1.500.00,” mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, eperti Papua, Aceh, Jakrata dan beberapa daerah lainnya.

Sekitar 1.500,’00, mahasiswa dari latar belakang Dareah yang beda berbaur menjadi satu saat pelaksanaan OSPEK (Orentsi Pengenalan Kampus) angkatan 2007. Dari perdan itulah, beragam bahasa dan intonasi menampakkan perbedaan meski dalam penyampaian bahasa yang sama, Bahasa Indonesia. Memang Indoniasi dengan terkenal dengan keragaman bahsa dan budayanya.

Keragaman bahasa dan budaya, tidak menjadikan jarak diantara mahasiswa baru saat pelaksanaan OSPEK. Mereka tetap terlihat seperti biasa, berbaur satu dengan yang lain. Perbedaan dan keragaman etnis, buday dan bahasa merupakan keyaan yang unik, namun pad einsinya mereka memiliki satu tujuan dn prioritas, untuk mendalami keilmuan di UIN Malang.

Pada pelaksanan OSPEK inilah mahasiswa/i memilki kesempatan untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Pembauran dari beberapa fakultas dan jurusan memungkinkan bagi maba bisa menjalin intinsitas dan keakraban diantara mereka.

OSPEK sebagai salah satu program rutin dan sekaligus persatan bagi MABA, karma dalam pelaksanaan OSPEK diharapkan MABA dapat mengenal secara cepat dan tepat keberadaan kampus. Kepanitian yang terdiri dari beberapa elemen, yang diangkat adri senior (kakak kelas) memungkinkan bagi maba untuk lebih dekat dan bisa mengali informasi yang keberadaan kampus. Salain itu adanya pendampingan dri tiap kelompok juga membantu sekali bagi MABA, karma dengan adanya pendampingan “kakak pendamping” MABA bisa bertanya atau menumpahkan keluhan, yang berkaitan dengan pelaksaan OSPEK, dan hal-hal yang dibutuhkan nantinya.

OSEPEK yang yang dilaksanakan selama tiga hari telah membawa kesan tersendiri bagi MABA, tak jarang mahaiswa memanfaatkan pelakasanaan OSPEK sebagailangkah awal melakukan pendekantan terhadap satu sama lain, “mencari pasangan”, OSPEK sebgai ajang mencri pasangan memng bukan hal yang baru, terkadang dari angktan senior “kaka kelas” pun dapat mengait pacar, teru tama bagi panitia.

Menjelang akhir pelaksanaan OSPEK MABA diberitugas untuk mencatat nama dan no henpohon tugas ini merupakan tugas akhir dan serangkaian tugas yang diberikan oleh panitia. Panitia tidak memberikan batasan berapa banyak nama dan no yang harus didapat. Tugas itu dijadikan kesempatan oleh Maba untuk memndapat kenalan di lur kelompaknya.

Malam sebelum penutupan OSEPEK pada ke esokan harinya setiap kelompok berkumpul membentuk lungkaran msing-masing. Pada sat itulah kelompok 43, kelompok aku juga saling mencatan nama alamat dan juga no henphon, pada saat itu aku belum punyak hp, jalan pintas aku mengasi no hp teman sekamar di Mahad. Aku juga mencatat no dari teman-temanku.

bersambung

Posted in: Uncategorized