RINTIHAN PETERNAK LEBA DAN PEDAGANG BAKSO

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

.

 

 

 

Dua puluh Meter dari Villa Enggal Mukti, pada waktu yang hampir bersamaan, di padang rerumputan, dua orang yang sedang memakai jaring diatas kepalanya, sedang sibuk mengibaskan serumpun sapu ijok di udara, leba-leba berterbangan kesana-kemari kejar mengejar, sementara Pak Suparman laki-laki separuh baya yang berumur 57-an dengan sahabat koleganya Budi, masih mengibas-ngibaskan sapunya menghajar leba-leba besar yang dianggapnya bahaya dan seringkali memakan leba-leba kecil yang baru menginjak tumbuh dewasa.

 

Pekerjaan sebagai peternak madu sudah digeluti bapak yang punya 4 anak ini, selama dua mingguan, sebelumnya ia berprofesi sebagai Petani sayur. Pergi pagi pulang sore selalu menjadi kebiasaan kesehariannya dari tahun 71-87-an. Tidak heran jika hasil dari penjualan kubis, seledri, cabe, wartel cukup untuk menopang hidupnya.

 

Asap rokok Bentoel mengepul keluar mulutnya, suara nyaring leba masih saja menggema dalam telinga, bapak yang memakai topi hitam bertuliskan Komando masih asyik menceritakan pengalaman hidupnya. Seiring majunya waktu pasca 87-an, yang dulunya uang Rp 70.000 hampir didapatnya perhari, akan tetapi tanah yang selama ini disewanya untuk ditanami berbagai sayuran, hanya menjadi kenangan manis belaka, si pemilik tanah pun dengan nada merayu tidak lagi membolehkan bapak yang berkumis tebal ini menyewa tanahnya, dengan dalih untuk membangun sebuah rumah buat anak-anaknya kelak.

 

Rumah mewah nomer 87, berwarna putih ditumbuhi pohon cemara di halamannya, milik pak Purnomo merupakan solusi pak Parman untuk melanjutkan hidupnya, sebagai penjaga rumah ia kemudian ditugasi memebersihkan pekarangan rumah tersebut. “Lumayan kalau buay kebutuhan sehari-hari keluarga”, Ujarnya.

 

Pak Parman seorang yang tak pernah megenal lelah, selalu berusaha tuk memperbaiki hidupnya, Ketika SD pun pak penjaga leba sudah dibiasakan hidup mandiri ini terbukti sebelum pergi sekolah ia menjualkan hasil kayu yang diperolehnya dari hutan. bel sekolah berbunyi pukul 12.00, anak-anak yang berseragam Smp berbondong-bondong keluar kelas menuju rumah masing-masing. Lain halnya dengan pak Parman, seusai sekolah ia tidak segera pulang ke-Rumah, malah ia melangkahkan kakinya ke hutan untuk mencari kayu, hal ini dijalani pak Parman sampai menginjak SMP, selanjutanya ia bekerja di pelabuhan Surabaya sebagai kuli, karena pekerjaan ini dirasa berat, dan melelahkan, bapak yang tidak pernah meminta uang kepada Orangtuanya semenjak kecil hingga menikah, bahkan sampai sekarang ini, berupaya mencari pekerjaan lain yang ringan-ringan, sekirnya tidak memberakan.

 

Awan semakin gelap, menjelang azan Magrib, lantunan ayat suci Al-Quran terdengar dengan merdunya, sembari bercerita pak Parman tidak henti-henti mengawasi leba-leba milik buk Luluk pengusaha asal Jember. Leba-leba tersebut berjumlah 65 kotak yang terletak tidak jauh dari rumahnya, berkisar 10 meter-an.

 

Gubuk kecil, beratapkan seng putih, dikelilingi tanaman jagung disekelilinnya menjadi wadah dimana pak Parman sekelurga berlindung, walau sempat tidak menuai hasil dari lebanya. Karena factor keteledoran penjaga leba sebelumnya, sehingga mengakibatkan leba-leba tersebut sakit dan tidak menghasilkan madu dengan baik. Disamping itu juga bunga-bunga yang biasanya menjadi santapan pokok, nyaris tidak ada sama sekali karena bukan musimnya.

 

Suara azan magrib sedang berkumandang, di pojok warung tepat 20 meter dari rumah pak Parman, terlihat sosok laki-laki yang sedang menikmati hangatnya kopi. Sambil memukul-mukul dua kayu kecil yang ada ditangannya, sembari teriak “Bakso,,,, Bakso”.

 

Niat ingin menikmati panorama alam songgoriti terhenti, ketika melihat sosok yang memakai kaos oblong dengan sepatu pantopel yang kemerlap, “Kopi Pak…” ku mencoba sok akrab di depannya.

 

“Namanya siapa Pak,?” Secara sepontan mengawali pembicaraanku dengannya, sambil merokok Jarum merah kretek, ia merespon dengan baik, “namaku Sumani.” Tuturnya, seolah-olah penasaran, sambil menghirup kopi, tidak sadar kalau sholat Magrib hampir habis, aku pun semakin asyik bertanya kepadanya.

 

Bapak yang berumur 58-an yang baru dua minggu jualan bakso di wilayah Songgoriti ini, sempat mengalami kesuksesan dalam karirnya, selama 25 tahun di Jakarta sambil menjual bakso ia bergelut di CNI, motor Honda merek Shogun, rumah sederhana berdiri dengan kokohnya, belum lagi dilengkapi dengan peralatan rumah tangga yang merupakan bagian dari hasil jerih payahnya selama di CNI.

 

Telpon berdering dengan kerasnya, dinginnya cuaca malam terasa menyentuh pori-pori tubuh, Bapak yang tidak mempunyai anak ini bangkit dari duduknya menuju suara nyaring tersebut, lesu, kaget, sedih bercampur jadi satu setelah mendengar berita tentang istrinya yang meninggal dunia di tabrak mobil Kijang tahun 1999.

 

Seolah hidup tak lagi berguna, senyum manis tidak terbersit diwajahnya sama sekali, sesalan, tangisan, jeritan tak juga kunjung reda, “nasib,, nasib, kenapa musibah ini terjadi kepada ku”, ucapnya berkali-kali, semua aktifitas dirasa hampa tak berguna, CNI yang selalu memotifasinya selama ini agar menjadi orang yang sukses, tegar dan sabar, sudah tak terpikirkan lagi olehnya, akibat berbulan-bulan tidak lagi aktif dalam bisnis yang bersifat Multi Level Marketing (MLM) ini, kartu keanggotaang Pak Sumani asal kota Malang ini diblokir oleh petugas.

 

Setelah dirasa tenang, senyum manis kembali bersemi di raut wajahnya, pak Sumani pun menikahi seorang janda yang satu desa dengannya, dan hasil dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan. gerobak bakso kembali ditariknya dari desa ke-desa, kota ke-kota, cucuran keringat semakin deras membasahi bumi, pak Sumani kembali ke profesi sebelumnya, sebagai penjual bakso. Bahkan kota-kota luar jawa seprti Sumatra, Kalimantan ditempuhnya guna mencari penghasilan yang layak, akibat bakso yang dibuat dengan tangannya sendiri tidak laku, pak Sumani pun tidak betah, banyak rintangan “apalagi mengembara di negeri orang, tidak ada saudara, mau ngapa-ngapain susah,” ujarnya sambil mencopot topinya, akhirnya ia pun kembali ke kampung halamannya. dengan profesi yang sama.

 

Wilayah wisata songgoriti menjadi salah satu tempat mempromosikan baksonya, suatu hari di pinggir jalan raya Songgoriti tepatnya pintu keluar songgoriti, rintik-rintik hujan membasahi grobak dan pakaian pak Sumani, “Daar… Celantang, Celinting…Brukk” suara mangkok-mangkok berjatuhan, grobak yang rodanya bulat menjadi bengkok, mobil sayur dengn kecepatan tinggi menabrak grobaknya bapak sumani, “beruntung nyawa saya tidak segera di cabut malaikat Izra’il,” guyonnya sambil tersenyum, dengan membawa uang ganti rugi sebesar Rp 300.000, dan langkah kaki sempoyongan pak Sumani langsung bergegas menuju rumah kakaknya di Songgokerto tempat dimana ia tinggal untuk sementa.

 

Posted in: Uncategorized