PERJALANAN HIDUP BAMBANG TRIANTO

Posted on 6 Februari 2009

0


 

Sore itu seorang laki-laki berdiri di serambi rumah sambil melihat sekelilingnya. Perawakannya yang tidak terlalu tinggi dengan pandangan mata yang tajam, menampakkan karakternya yang keras. Dia adalah Bambang Trianto, S.P, seorang pensiunan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Rumah bercat putih itu tampak sejuk dengan berbagai tanaman yang tumbuh menghiasi pelatarannya. Sedang di sisi kiri teras terdapat sebuah kursi panjang. Selain itu juga tampak sebuah ayunan di bagian kiri taman. Beberapa menit kemudian tampak seorang wanita setengah baya dengan kaus pendek yang dipadu dengan rok panjang keluar dari rumah menghampiri Bambang.

“Silahkan masuk mbak..kita ngobrol di dalam saja”, ujar Bambang ramah. “Oiya..perkenalkan ini istri saya, namanya Diah Peni”, imbuhnya sambil mempersilakan duduk di sertai dengan sesungging senyum ramah dari Diah. Tak lama kemudian, Diah masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat menemani Bambang bercengkrama di ruang tamu. Ruangan berbentuk persegi panjang itu tak begitu luas. Di pojok kanan terdapat ruangan yang dindingnya terdapat papan bertuliskan YD3MLJJ, “itu tempat siaran radio amatir mbak..yang biasanya dipakai “ ngebreak”, kata Bambang. Sedangkan di sisi kiri terdapat sofa berwarna hijau, tempat Bambang duduk. Lantainya berkeramik putih bersih, menandakan sering dibersihkan.

Di penghujung sore itu Bambang memakai baju koko berwarna hitam yang dipadu dengan sarung, bercerita tentang pengalamannya ketika masih bekerja di P3GI selama 34 tahun.”Saya dulu pernah ditugaskan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, tepatnya di daerah Bone sebagai perwakilan untuk membuat percobaan-percobaan tebu dan persilangan tebu dengan harapan bisa mendapatkan jenis bibit unggul yang daya produksinya tinggi”. Sejak masih belajar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) tahun 1969 di Pasuruan, kota asalnya, Bambang sudah bekerja di P3GI, “tapi saat itu saya masih menjadi buruh tebang mbak”. Saat itu baginya yang penting bisa hidup mandiri dan bisa membiayai sekolahnya tanpa membebani orang tua.

 

 

Percakapan sempat terpotong sebentar ketika Diah membawakan secangkir teh yang kemudian masuk ke dalam lagi setelah mempersilakan minum. Bambang pun kembali melanjutkan ceritanya. Pada tahun 1971, dia diangkat manjadi golongan 2. Beberapa tahun kemudian ada permohonan dari Direktur bahwa untuk menjadi karyawan tetap, harus mempunyai Ijasah dari sekolah negeri. Bambang pun bersekolah lagi di SPMA Negeri Malang selama satu tahun dengan ujian extra perseorangan agar bisa memenuhi persyaratan tersebut.

Melalui tes di bagian pemuliaan tanaman (pengenalan jenis) tahun 1975, Bambang mendapatkan promosi sebagai pegawai tetap. Sambil tersipu malu Bambang berkata bahwa dia dan Diah menikah pada tahun 1977. Hingga pada akhirnya, alumni Universitas Merdeka Pasuruan tahun 1987-1988 ini mengirimkan karya ilmiah yang dikhususkan bagi asisten peneliti muda yang nantinya dibawa ke Bogor guna diseleksi agar bisa naik jabatan. Pada tahun 1993, Bapak 2 anak ini mengaku dimutasikan ke Cimang, Sulawesi Selatan selama 10 tahun. Dengan pertimbangan kualitas pendidikan yang lebih bagus adalah di Jawa. Maka sang istri pun kembali ke Jawa bersama dua putranya setelah menemaninya selama empat tahun di Sulawesi Selatan. “Istri saya hanya berkunjung ke Sulawesi jika liburan datang”, tuturnya.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib, Bambang pun pamit ke Musholla untuk menunaikan sholat jama’ah. “Mohon maaf ya mbak, sudah maghrib saya ke musholla dulu biar istri saya yang menemani mbak”,ujarnya sembari memanggil istrinya, “Diah..Diah..”. tak berapa lama kemudian, Diah pun datang memenuhi panggilan suaminya. “Bapak itu orangnya pekerja keras, nggak neko-neko dan kalau sudah mengambil keputusan ya harus dituruti mbak”, ujarnya membuka pembicaraan. Menurut Diah, Bambang juga tipe orang jujur dan selalu berusaha membuat anak istrinya bahagia. Sekilas tadinya Diah terkesan dingin tapi ternyata dia ramah dan enak diajak ngobrol. “Dulu saya pernah sakit budeng (semacam ambeyen) sampai diopname di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) karena Rumah Sakit di Pasuruan sudah angkat tangan. Waktu itu mas Yanto di Sulawesi tapi setelah dengar kalau saya sakit, dia langsung pulang mbak”. Kira-kira setengah jam kemudian Bambang pulang dari musholla dan menghampiri kami.

Langit tampak sudah gelap, udara pun mulai terasa dingin ketika Bambang kembali bergabung dengan kami. Pada tahun 2004, Bambang kembali ke Jawa, di tahun 2006 kemarin karena dianggap sudah tua dan banyak generasi-generasi muda. Setelah dua tahun menjabat sebagai staf personalia. Akhirnya dia pensiun dari pekerjaan yang telah digelutinya selama 34 tahun itu. Saat ditanya tentang uang pensiunan, suami Diah ini menjawab dengan jujur “ya..kita transparan saja ya mbak..kalau boleh jujur ya nggak cukup mbak, lha wong santunannya cuma 700 ribu sedangaka saya masih membiayai kuliah anak terakhir saya, Bayu di Universitas Muhammadiyah Malang(UMM) belum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”. “Tapi ya Alhamdulillah mbak, wong saya sudah nggak kerja lagi tapi masih dapat uang pensiunan, ya kan bu?”, imbuhnya sambil meminta persetujuan istrinya. Diah pun tersenyum mengiyakan kata-kata suaminya.

Bambang Triyanto kini hanya berharap semoga putra bungsunya yang kini melanjutkan studinya di UMM jurusan Ekonomi Manajemen bisa segera wisuda tahun ini.

Posted in: Uncategorized