Pedagang Kacang Songgoriti

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

Kawasan wisata Songgoriti terletak dikawasan perbukitan kota Batu. Daerah wisata ini hampir setiap hari dikunjungi oleh wisatawan. Wisatawan yang sering datang ke tempat ini beragam, baik dari lokal, maupun internasional. Cuaca yang dingin dan sejuk membuat Songgoriti menjadi tempat “sempurna” untuk bersiar menghilangkan kejenuhan. Jalanan di kawasan hijau ini dihiasi dengan lembah dan gunung. Lembah dan gunung yang menghiasi jalanan aspal di tempat ini tidak terlalu curam dan berbahaya, seperti jalanan yang ada pada puncak-puncak bukit di atas Songgoriti. Daerah wisata ini memiliki pemandangan yang hijau. Rumah-rumah di kawasan ini menempel pada lereng-lereng bukit yang landai. Warna putih rumah di Songgoriti, terlihat seperti kotak-kotak putih persegi yang memberi corak putih pada hijaunya bukit, jika dilihat dari ketinggian.

 

Cuaca dingin pukul 05.00 di lembah ini membuat air sumur dingin, seperti dinginnya air yang baru meleleh dari bongkahan es. Namun Sumyati tetap menjalani aktivitas rutinnya, mandi, menyiapkan pakaian, dan bersiap-siap pergi untuk membeli kacang tanah mentah di pasar Songgoriti. Sumyati orangnya agak ketus, bicara seperlunya, dan kurang suka dengan guyonan. Perawakannya agak tinggi dan kurus. Berambut lurus, alis tipis, rahang runcing, dan terdapat bercak-bercak kasar seperti bekas jerawat pada kedua pipinya.

 

Pasar tempat Sumyati membeli kacang tanah tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan pasar-pasar yang ada di kota Batu. Pasar ini berbeda dengan pasar-pasar tradisional pada umumnya. Di dalam pasar ini dagangan seperti beras, minyak goreng, sayur-sayuran, dan perlengkapan untuk makanan pokok, tidak akan ditemukan disana, kecuali di tepi-tepi jalan dekat pasar atau di dekat-dekat perumahan penduduk. Saat jarum jam menunujukan pukul 06.00, setelah mandi, ia berangkat ke pasar. Rumahnya dari pasar bisa ditempuh 10 menit dengan berjalan kaki. Setelah berjalan beberapa menit dan sampai di pasar. Di sana ia membeli beberapa kilo kacang dan dibawa pulang. Biasanya paling banyak ia membeli 15 kilo kacang per hari.

 

Setelah sampai di rumah ia langsung merebus kacang tersebut. Sambil menunggu kacang empuk, ia membangunkan anak-anak nya untuk pergi ke sekolah. Tepat pukul 10.00 ia berangkat lagi ke pasar Songgoriti, kali ini ia tidak membeli kacang, melainkan ia menjual kacang. Kacang yang telah empuk dibawa ke pasar. Kacang itu ditaruh di atas benda persegi beroda dua berukuran 120 cm X 100 cm. Gerobak yang tidak terlalu besar itu memiliki 2 warna. Setiap sisinya berbentuk persegi yang ditutupi dengan warna putih dan biru, yang masing-masing luasan warnanya berbentuk segitiga, putih di atas dan biru di bawah. Sebagai pelindung kacang rebus yang akan dijual, gerobak ditutup dengan kain perlak plastik warna biru tua. Dan tinggi gerobak dagangan mencapai dada Sumyati.

 

Dengan baju corak ke-batikan warna biru tua, dipadu dengan rok bahan katun warna hitam, Sumyati pun mulai berjalan mendorong dagangannya menuju pasar. Tidak lupa ia membawa kursi plastik warna merah dan kursi panjang dari kayu ukuran 1 meter, tinggi 50 centimeter untuk tempat duduk bagi para pembelinya. Ketika sampai di depan pasar kira-kira pukul 10.30, tepatnya di perempatan Songgoriti, agak menutupi sebuah toko perlengkapan dapur beberapa centimeter dari depan toko itu, ia berhenti dan memarkirkan dagangannya. Dalam kesehariannya, sambil menunggu pembeli datang, ia berbincang-bincang dengan tukang ojek atau pedagang kaki lima pemandian Tirta Nirwana yang di seberang jalan di samping pasar Songgoriti.

 

Keberadaan Sumyati sebagai pedagang kaki lima tidak tetap, menjadi suatu hambatan baginya untuk bebas dalam berjualan. Terkadang ia harus berebut tempat dengan pedagang tidak tetap seperti dirinya. “jualan disini ngak tiap hari. Kadang-kadang kalau ada teman pejual bakso yang duluan menempati ini, ya jualannya ngak disini” ungkapnya dengan gaya khas jawa malangan.

 

Kalau sudah ada hal seperti itu, ia hanya bisa mengalah dan menerima. “apa yang mau diperebutin, lha wong kita sama-sama pedagang, sama-sama mencari hidup” katanya, sembari merapatkan bibirnya ke depan. Dalam kehidupan, ia selalu menerima apa adanya, baginya harta dan kekayaan bukanlah segala-galanya, yang terpenting ialah prilaku saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tujuannya hanya satu saling berbaik-baikan dengan sesama pedagang kecil, dan saling Bantu-membantu jika yang lain ada kesulitan.

 

Hambatan dalam kebebasan berdagang, tidak hanya datang dari teman sesama pedagang, tetapi juga dari tukang ojek yang sering mangkal di tempat itu. Tukang ojek yang sering mangkal juga mempunyai hak yang sama dengan Sumyati, sebab statusnya dan tukang ojek sama dengan pedagang lainnya, sebagai pedagang tidak tetap. Tetapi lain halnya dengan pedagang bakso, tukang ojek kalau sudah ramai, biasanya memadati tempat Sumyati mangkal. Akibatnya keefektifan berdagang Sumyati jadi terganggu. Walaupun ia telah menempati tempat itu pertama kali, namun pengaruh dari tukang ojek tidak dapat dielakkan. Tempat itu bagi Sumyati merupakan tempat keberkahannya dalam berdagang, karena daganganya sering laris, jika diposisikan di sana.

 

Lebih sering, ia menjual dagangannya di depan pasar wisata ini ketimbang di tempat lain. Ia mulai berjualan dari pukul 10.30 sampai matahari terbenam, selepas maghrib. Setelah pasar sepi, ia kemudian meneruskan berjualan keliling di rumah-rumah penduduk dan villa di sepanjang jalanan Songgoriti sampai pukul 22.00. Besar-kecilnya pendapatan dari menjual kacang ia sandarkan pada pendapatan berdagang di pasar. Pendapatan rata-rata perharinya mencapai 50 ribu. Tetapi kalau suasana pasar sedang sepi atau diguyur hujan pendapatannya hanya 20 ribu. Jika kacang rebus tidak habis, ia menyimpan nya sampai esok harinya untuk kembali dijual. Tidak jarang ia memberikan sisa dagangannya kepada tetangga dan sanak familinya di rumah.

Posted in: Uncategorized