MENELUSURI JEJAK KELUARGA SANG PENSIUNAN PURNAWIRAWAN

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

Kamis 6 Desember 2007 Pukul 23.00 WIB di dalam sebuah kamar yang berukuran sedang diatas empuknya spring bed terdapat sosok yang familiar sedang duduk dan asyiknya bercengkrama dengan kolega kamarnya, nama tersebut adalah Jusram yang kesehariannya akrab dipanggil dengan “RAM”.pria yang lahir di kepulauan ternate 3 juli 1988 ini sampai saat ini masih berprofesi sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri Malang Universitas Islam Negeri dan kebetulan sahabat yang biasa dipanggil Ram ini mengambil dan menggeluti bidang syari’ah

Ram orangnya yang agak lucu dan murah senyum dan ramah dengan sekelilingnya. Sehingga tidak heran kalau kemudian banyak orang yang menyukainya. Apalagi dengan logat khas ternatenya Ram terlihat berbeda dengan lainnya, sebagai anak bungsu dari 6 saudara 4 laki-laki termasuk Ram (Pudin, Haris, Hendra) yang sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai pekerja disalah satu pabrik Triplek dan tambang emas di ternate dan 2 saudaranya lagi perempuan yakni Harbiyah yang sekarang sudah bersuami dan si Rahmawati yang masih mengeyam pendidikan di perguruan tinggi Ambon “UNPAD” Universitas Patimura dan saat ini masih semester 3, kakak yang satu ini memang sesosok yang dibanggakan oleh Ram selain anaknya mandiri terbukti bahwa sambil kuliah sang kakakpun bekerja di SMP 1 Ternate bagian Tata usaha, dan dengan perhatiannya dengan Ram sang Kakak tidak henti-hentinya memberikan motivasi dan semangat untuk selalu maju dan terus berkembang.

Anak yang berkulit kecoklat-coklatan dan mempunyai alis yang tebal ini ketika di Sekolah Dasar sudah dilatih untuk hidup mandiri, sepertihalnya mengembala kambing yang hasil dari gembalaannya dialokasikan untuk kebutuhannya sehari-hari. Hal itupun terus berlangsung ketika di SMP di Pondok Pesantren Hidayatullah yang diasuh oleh KH Abdul Qadir Abdullah ternate, sebagai generasi pertama dalm pondok Hidayatullah maka peran Rampun sangat andil dalam pembangunan dan perkembangan pondok tersebut. dan keberuntungan masih berpihak kepadanya. Yakni ram memperoleh pendidikan gratis selama 3 tahun untuk memperdalam ilmu di pondok Hidayatullah tersebut.

Dengan suara yang lantang disertai dengan lantunan musik ketahuan dari Mata Band Ram sempat menceritakan sosok sang ayah yang selama ini sangat berjasa baginya. Ia sang ayah Abdurrahman kemudian dibubuhi dengan gelar Rewa dibelakang namanya sekaligus sebagi pensiunan Purnawirawan TNI Angkatan Darat. Bapak yang masih meniti karir di wirasusta percengkehan, palah dan jual beli pertanahan ini sambil menangis menceritakan pengalamannya kepada Ram Walaupun karakter sang ayah agak keras karena factor dari keturunan dan kebiasaan mengkonsumsi daging kuda serta basicnya pendidikan tentara akan tetapi sambil mengangis sang ayah bercerita tetang pengalaman pahit kehidupanya.

Ketika masih kecil bapak Abdurahman yang berkumis tebal ini sudah ditinggal oleh kedua orang tua selanjutnya diasuh oleh paman dan bibinya, walaupun perhataanya sangat kurang jika dibandingkan dengan kasih saying kedua orang tuanya.

Bapak yang tidak menamatkan pendidikan sekolah dasar ini mulai meniti karirnya dengan merantau dan mengembara ke berbagai daerah untuk sebuah pekerjaan dan keberlangsungan hidupnya. Dengan bekerja di rumah-rumah sebagai pembatu seperti mencuci mobil, baju dan alat-alat lainnya pak Abdurahman dapat mempertahankan hidupnya. Mulai dari pintu kepintu, rumah ke rumah pak Rahman berusaha untuk mencari sosok yang diharapkan memperhatian terhadap pendidikannya karena pak rahman sendiri sangat mengharapkan ia bisa melanjutkan sekolahnya yang sempat putus dipertengahan jalan.. Akhirnya dengan usaha yang keras ayah yang beristrikan Maryam Syafar ini menemukan seorang yang benar-benar perhatian akan dunia pendidikan dan berprofesi sebagai jendral, kemudian Bapak tegap yang mempunyai enam anak ini bekerja dengan tekun dan membantu keberlangsungan rumah tangga pak Jendral. Mulai mencuci mobil, baju, piring-piring kotor dan alat-alat rumah tangga lainnya. Sehingga dengan keprihatinannya bapak jendral dengan Pak Rahman akhirnya dianggap anak sendiri oleh pak jendral.

Dengan modal kerja keras Bapak yang berasal dari desa Jeneponto daerah plosok Sulawesi Selatan ini tidak henti-hentinya berusaha untuk memperbaiki kehidupannya, dan masih dengan nuansa yang ramai, baik bisingan musik maupun obrolan teman-teman pelatihan juranlistik sastrawi yang sedang asyiknya berbincang, Ram yang mempunyai rambut lurus dan hidung sedikit mancung tidak henti-hentinya bercerita tentang sosok Rahman pensiunan Purnawirawan ini. Ram menuturkan bahwa pada suatu ketika pak Jendral mengutus Pak Rahman Untuk mengantarkan suatu Surat Ke Suatu Lembaga Ketentaraan. Dengan kesetiaannya kepada jendral pak rahman segera mengantarkan surat tersebut, Setelah surat itu sampai dan dibaca oleh penerima, sempat terjadi suatu keanehan dan ketidak percayaan akan isi surat itu, karena bagaimana tidak bapak yang tidak sampai lulus SD ini di delegasikan untuk mengikuti Ujian ketentaraaan. Karena surat tersebut datang dari atasan. maka mau tidak mau harus ditati. Jam jarumpun terus berputar pak ramanpuna mendapat celotehan dari penerima surat bahwa besok bapak yang pernah menembak musuh ketika kerusuhan timur-timur dengan peluru disenampannya dan mengenai mulut sehingga tembus ke belakang kepala diperintah datang untuk mengikuti ujian, karena tidak tau apa-apa tentang apa yang ada dalam surat tersebut pak rahmanpun terkejut laju mobil jip terus maju dengan kecang sdisertai dengan perasaan penasaran yang menggebu-gebu dalam hati, setelah sampai dirumah kediamannya pak rahman menayakan langsung tentang keganjalan yang ia temui ketika penyampaian surat misterius tadi. Akhirnya pak Jendralpun menceritakan semuanya.

Seiring dengan majunya perkembagannya Zaman Bapak karir pak rahman pun semakin meningkat dan pengalaman pahit getirnya kehidupan dirasakan oleh pak Rahman bahkan ia juga sempat menjadi pimpinan pertahanan tatkala kasus timur-timur sedang hangat-hangatnya terjadi. Tidak heran kalau sampai saat ini bekas-bekas perang masih saja membekas dibadan pak rahman mulai dari peluru yang nyasar di kedua belah tangganya sampai terkena ampas bom diatas kepala Pak Rahman.

 

 

Posted in: Uncategorized