MADU MALANG

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

Kediaman keluarga Suparman berbentuk kotak segi panjang berukuran 3 x 2 m. Di sebuah rumah triplek dan beratap esbes, Juminah berdiri tepat di tengah pintu sambil menggendong anaknya. Sesekali istri Suparman tersebut menoleh kesuaminya yang sedang beraktivitas di sebelah kanan rumah tersebut.

 

Rumah tanpa jendela depan dan samping, hanya pintu depan yang terpasang. Terdapat pohon cerie setinggi dua meter di depan rumah tepat di samping jalan. Disisi kiri rumah terdapat kebun jagung dan di kanannya ada peternakan lebah madu yang dikelilingi rumput panjang dan ilalang. Terdapat 65 kotak berisi lebah dan 1 lagi kosong, diatur menjadi empat baris. 200 lebih lebah dan satu induk disetiap kotaknya.

 

Sebenarnya, Bapak berusia 57 tahun ini, selain merawat lebah-lebahnya, juga diserahi villa untuk menjaganya selama pemilik villa tersebut pergi. Villa itu berada di depan rumahnya seberang kanan jalan. Tepat berhadap-hadapan dengan peternakannya.

 

Suparman ditemani Budi memberi makan lebah yang kekurangan bunga untuk dihisap madunya. Beberapa hari ini, dia mengerjakan hal itu. “Jarang sekali terdapat bunga di musim sekarang ini. Jadi kami harus memberi gula cair sebagai ganti makanan lebah-lebah tersebut.” Ujar Suparman.

 

Sabtu, 08 Desember 2007 pukul 16.45. Ditemani anjing kecil berbulu hitam, Suparman dengan kaos lengan panjang biru, topi berkerudung nerawang sampai leher dan celana coklat panjang, mengelilingi petermakan sambil membawa ember biru berisi gula cair. Setelah membuka tutup kotak dia berteriak “Djampuuut!Jangkrik! Tembus!” sambil mengepakkan tangan kanan karena tersengat lebah yang kelima kalinya sambil berlari menjauh. “Hua ha ha ha!!” Budi tertawa.

 

Ya beginilah, resiko dekat-dekat sama lebah. Sebenarnya kalau tidak mengganggu mereka, kita tidak akan disengat,” ujar Suparman menenangkan dirinya sambil mengolesi luka itu dengan minyak kayu putih Cap Lang, sesekali meniupnya dengan mulut moncong ke depan. “Sebenarnya sudah sering saya tersengat kayak gini. Kaget aja!”

 

Suparman mengaku, baru kali ini dia merasa gagal dan kecewa. Dia tidak mau ambil pusing, dia memindahkan kotak-kotak tersebut dari Ambolo, Jember. Dia menyewa bus mini, hampir tiga minggu lebah-lebah tersebut berada di Malang. Kalau masih tetap di sana, mereka akan mati cepat atau lambat karena kurangnya perawatan. “Saya pergi keluar kota bulan lalu dan menyewa pekerja untuk merawatnya, tetapi dia minggat setelah panen.” terangnya

 

Dia memindahkan ke Malang untuk sementara waktu, setelah semuanya pulih kembali, lebah-lebah tersebut akan dibawa lagi ke Jember. “Jember cocok untuk lebah madu karena terdapat banyak bunga sepanjang musim.” Tuturnya sehabis menghisap rokok Djarum biru yang baru saja dinyalakan.

 

“Sebenarnya, di sini tidak cocok untuk peternakan lebah madu. Disamping tidak terdapat banyak bunga, cuaca juga mempengaruhi lebah dalam berkembang biak. Apa boleh buat, saya harus memulihkan kembali jumlah lebah.” Ujar Suparman.

 

 

“Pak! Itu, di kotak sebelah sana ada lebah besar.” Budi teriak dengan menunjuk ke arah kotak paling pojok. “Mana?” sahut Suparman melotot sambil berjalan membawa sapu ijuk ke arah pojok. Lebah besar biasanya memakan labah madu dan itu merupakan salah satu faktor penghambat perkembangan lebah madu karena itu lebah besar diincar dan dibunuh seketika ia terlihat.

 

“Mana? Gak ada.”ujar Suparman.

“Tadi saya lihat ada di situ. Coba cek lagi!” timpal Budi.

Mata kau yang rabun, wong enggak ada apa-apa.” Tegasnya Suparman.

“Ya sudah, kalau emang nggak ada.” Kata Budi dengan wajah berpaling.

“Guk guk guk.” Gonggongan anjing ke arah Suparman.

 

Dia tidak akan menyerah begitu saja, walaupun selama di sini dia belum pernah memanen dari hasil lebahnya tersebut. “Pokoknya, saya akan mengembalikan semuanya seperti sedia kala.” Ujarnya sambil merapatkan alisnya dengan nada jelas dan terang.

 

Juminah keluar rumah dengan membawa ember berisi pakaian siap dijemur di taman villa yang dipasrahkan kepada Suparman. Tidak lama kemudian, Suparman berjalan mendatangi sang istri untuk membantu menjemur pakaian yang sebagian milik Suparman. Tetapi, belum sempat membantu, suara tangisan bayi terdengar dari dalam rumahnya. “Bapak ke rumah saja, gendong dulu dia.” Ujarnya sambil mengibaskan baju. “Baik!” jawab Suparman pelan.

 

Posted in: Uncategorized