KISAH ANAK TULUNGAGUNG

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

Naseh begitu sapaan akrabnya waktu dia sekolah di kota Tulungagung. Ahsanun Naseh Khudori lahir pada tanggal 29 Juli 1988 di kota Tulungagung dari pasangan Jaelani dan Jamilah yang keduanya berasal dari satu desa yang bernama Rejo Sari. Keduanya berpenghasilan sebagai pedagang kambing dan kelapa. Anak yang memiliki tinggi badan 163 cm dan berat badan 54 kg ini memiliki 4 saudara, kakak tertua bernama Khoiruddin, yang kedua bernama binti Istianah dan yang ketiga adalah Miftahul Hasan. Keluarga Naseh beragama Islam.

Dia tidak pernah mengenyam pendidikan TK dikarenakan malu sama teman sebayanya karena dia anak yang paling kecil dibanding dengan teman-teman sebayanya, sehingga sering kali teman-teman dia mengejek dan mengerjain dia. Maka dari itu ibu dia mengajari tentang baca tulis di rumah sendiri. Dan dia mulai mengenal bangku belajar waktu dia kelas 1 di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum di Tulungagung dari tahun 1995-2001 dan diteruskan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Sunan kali Jaga tahun 2001-2004. setelah lulus dari madrasah tersebut dia pindah ke kotanya Tulungagung sendiri waktu dia meneruskan di SMK 1 Veteran Tulungagung dari tahun 2004-2007. Dia tinggal di pondok pesantren Ma’hadul Ilmi Wal Amal yang biasa di singkat MIA. Jadi dia sekolah sambil tinggal di pondok.

Suatu hari ketika dia duduk dibangku MI, waktu dia sebagai ketua kelas 6 dan diserahi tugas untuk mengurusi masalah uang pembayaran kaos olah raga oleh gurunya dengan jumlah uang sebesar Rp 42.000,00 dengan tidak sengaja uang tersebut hilang karena takut dimarahi sama ibunya, dia tidak pulang kerumah setelah jam sekolah berakhir tapi berada di suatu tempat yang orang setempat menamai pampang (seperti rumah pohon). Sang ibu panik dan mencari dia kemana-mana dan tidak menemukan, akhirnya ibu datang ke tempat yang biasa ia kunjungi, yaitu tempat tersebut dan ibu menemukan dia sedang tertidur pulas dan digendongnya pulang, setelah sadar sang ibu bertanya ke anaknya : “Nyapo kowe gak muleh? Enek opo sak jane?”(mengapa kamu sampai tidak pulang? Ada apa sebenarnya?), setelah sedikit dipaksa sama ibunya, akhirnya dia mau bercerita tentang kejadian tersebut. Dan pada akhirnya uang yang hilang itu diganti 50:50 dengan kesepakatan sang ibu dengan guru/ pihak sekolah. Jadi orang tua Naseh harus membayar Rp 21.000,00 kepada pihak sekolah untuk mengganti uang tersebut.

Pengalaman organisasi, dia menjabat sebagai anggota OSIS MTs pada waktu dia duduk di kelas 2 dan mendapatkan prestasi ringking 1 selama sekolah di Madrasah Tsanawiyah mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. dan juga pada waktu kelas 2 SMK dia merangkap OSIS dan Pramuka sekaligus dan juga ditugaskan untuk mewakili LKS ( Lomba Keterampilan Siswa) se-Jawa Timur yang bertempat di Tulungangung tentang debat bahasa inggris, karena kurangnya persiapan dan kurang lancarnya berbicara dalam bahasa inggris dalam sesi pertama kelompok dia langsung kalah melawan SMK 6 Madiun.

Seseorang yang selalu tersenyum, berhidung mancung, beralis tebal dengan mata lembut dan mamiliki pandangan yang tajam, berjanggut kecil dan juga berbibir tebal ini suka sekali dengan warna hitam dan biasa memakai kaos jankis, terkadang dia memakai hem lengan pendek dengan ukuran M serta paduan celana jeans berukuran 27 dan lebih suka memakai sendal kemanapun dia pergi.

Berkulit sawo matang dan rambut pendek ABRI, sebenarnya dia lebih suka dengan gaya rambut panjang, dikarenakan kesalahan pencukur rambut yang masih amatiran maka dia memilih untuk potong pendek layaknya ABRI. Dengan tegap dia berjalan seperti tentara, cara bicaranya pun tegas tetapi dengan suara lembut dan lambat, suka bergurau tapi terkadang agak jayus.

Waktu kecil akrab dipanggil dengan sebutan Anas/ Nas berwatak keras kepala, bandel, dingin, suka melawan dan tidak pandai bergaul. Karena wataknya tersebut, Dahlia, gadis yang pernah ada rasa suka kepada dia enggan mengutarakan isi hatinya kepada Naseh dan baru mengatakan akhir-akhir ini dan mereka menjadi lebih dekat ketika gadis tersebut sudah bertunangan dengan laki-laki lain.

Naseh yang lebih sering makan makanan mie dan sebagai orang asli jawa dia lebih suka minum kopi, mempunyai cita-cita menjadi seorang guru komputer dan menjadi seorang penulis dengan harapan bisa membahagiakan kedua orang tua.

 

 

Posted in: Uncategorized