Juminah Istri Petani Madu

Posted on 6 Februari 2009

0


 

Songgoriti, Batu Malang. Daerah pegunungan yang mempesona. Deretan vila berbaris rapi di sepanjang jalan. Tak terhitung jumlahnya. Model dan fasilitasnya pun beragam. Mulai dari yang sederhana sampai yang mewah. Harganya pun bervariasi. Dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Tamu-tamu bebas memilih vila mana yang akan ditempati.

Namun ada yang berbeda di antara bangunan vila-vila yang indah. Terdapat beberapa kotak kayu berjejer di atas sebuah lahan berumput. Ukuranya tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Segerombolan lebah berputar-putar diantara kotak-kotak kayu. Suaranya mendengung. Ternyata kotak-kotak kayu itu adalah sawah petani madu.

Semakin bergeser ke samping pemandangan semakin berubah. Rumah berdindingkan triplek yang tampak usang dan reyot. Pintunya tak tertutup. Tampak dari luar lantai rumah yang terbuat dari tanah. Dinding tripleknya pun tak berubah warna. Alias tak bercat. Kebun jagung dan ubi jalar berada tepat di samping rumah itu.

Rumah itu bukanya tak berpenghuni. Sesosok wanita paruh baya terlihat berdiri di beranda rumah. Tangan kananya sibuk mengaduk-aduk mangkok yang dipegang tangan kirinya. Mangkok itu berisi nasi putih dan kuah rawon. Teksturnya sudah hampir hancur. Kemudian disuapkan kepada bayi laki-laki yang digendongnya. Umurnya baru delapan bulan. Badanya pun terlihat lebih kurus dibanding anak-anak lain seusianya.

Juminah. Wanita kelahiran Pesanggrahan Batu. Badanya kurus. Matanya cekung terkalahkan oleh tulang pipi yang menonjol. Tinggi badanya tak lebih dari 150cm. warna kulitnya coklat tua, kecuali di bagian kaki yang terlihat lebih hitam dan pecah pecah. rok bunga-bunga yang dipadu dengan kaus oblong warna merah terlihat begitu kontras. Begitu pula dengan selendang gendongan anaknya yang telah usang.

 

“Suami saya memang petani tawon walaupun belum genap satu bulan. itu pun bekerja pada orang lain. suami saya hanya pekerja bukan pemilik,” ujarnya. Sebelumnya suami Juminah bekerja sebagai penjaga vila yang ada di Songgoriti. “Tidak hanya satu, ada beberapa vila yang suami saya jaga,” ujar Juminah sambil menunjuk beberapa vila yang berada tak jauh dari rumahnya. Gaji tiap bulanya 75 ribu dan hanya berkewajiban menjaga vila dari luar. Sedangkan kunci dipegang orang lain.

Tatapanya lurus kedepan. melihat kebun jagung yang ditanamnya dengan kedua tanganya sendiri. Di samping itu dia juga bekerja membersihkan vila. Gajinya 50 ribu tiap minggu. “ gaji suami segitu ya cukup-cukup saja lah,” ujarnya tak yakin. Ekspresi wajahnya berubah. Dia tak berkenan menyebutkan nominal gaji suaminya. Dia kembali menyuapkan nasi rawon tanpa daging ke mulut anaknya. Anaknya meronta dan menolak. Bosan.

Tiba-tiba Juminah menekuk lututnya. Merunduk kemudian melipat keduanya. punggung betisnya bersandar pada paha. Terlihat sedikit sulit. Mengimbangi beratnya beban bayi yang digendongnya. Dia jongkok menghadap jagung setinggi lutut orang dewasa.Hasil berkebunya sendiri. “lumayan buat menambah isi dapur,” ujarnya kalem. tanganya menyibak sebagian rambut yang jatuh menutupi pipi tirusnya.

kali ini ia berdiri. Lelah. Tanganya kembali menyendokkan nasi rawon ke mulut anaknya. Bayi berumur 9 bulan itu mengeliat dan hampir menangis. Juminah mulai gusar. Ditepuknya punggung anaknya itu. “ Saya sedang menggoreng tempe, takut gosong,” ujarnya sambil masuk ke dalam rumah dan tak terlihat.

 

Posted in: Uncategorized