JEJAK LANGKAH SEORANG DITA KRISTIARI

Posted on 6 Februari 2009

0


 

Dita kristiari tadinya tidak tertarik pada jurnalistik, mahasiswi Universitas Brawijaya ini lebih tertarik pada bidang fotografi. Saat diajak salah satu temannya yang bernama Andini berkunjung ke stand pendaftaran LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) CANOPY, gadis bermata sipit itupun langsung bertanya kepada mas Endra, “Berarti disini bisa belajar fotografi ya mas?”. “ya bisa, langsung saja ke atas”, jawab mas Endra. Karena sejak awal memang suka dan ingin belajar banyak tentang fotografi, Dita pun langsung mendaftar menjadi anggota LPM CANOPY.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada bulan Agustus 2006, mahasiswi yang lahir pada tahun 1988 ini pun mengikuti Diklat LPM CANOPY sebagai langkah awal menggeluti bidang jurnalistik. Dita mengaku sempat merasa kaget karena ternyata materi-materi diklat tersebut lebih sering membahas tentang jurnalisme dan pers yang bertolak belakang dengan tujuan utamanya yang ingin belajar tentang fotografi. “kaget juga sih awalnya, soalnya yang dibahas lebih kepada jurnalisme, tapi akhirnya dihari ketiga diklat, materi fotografi itu ada juga tapi sebenarnya sih kurang puas karena materinya cuma satu jam”, tandas gadis yang selalu membawa kamera kemanapun dia pergi.

Sinar matahari terasa sangat terik ketika mahasiswi jurusan Budidaya Pertanian itu datang ke LPM. Pada saat itu di basecamp Canopy ada mas Dias dan beberapa anggota lainya. Mas dias mengajak Dita untuk berdiskusi menentukan angel tentang berita yang harus diliput, tadinya dita sempat enggan melakukan reportase karena Dita berfikir kalau dia hanya seorang fotografer, tapi setelah mendapat penjelasan dari mas Dias bahwa semua anggota LPM Canopy harus meliput berita, Dita pun melakukan tugas perdananya.

Meliput tentang FKK HIMAGRI (Forum Komunikasi dan Kerja sama Himpunan Mahasiswa Agronomi) untuk rubrik Gazebo buletin Ca’ pony adalah tugas liputan pertama yang dilakukan oleh gadis yang biasa dipanggil Didot oleh teman-teman seorganisasinya ini. “Alhamdulillah saya bisa melaksanakan tugas dengan baik walaupun pengetahuan tentang jurnalisme saya masih terbilang minim”, ujar Dita.

Mahasiswi yang berasal dari kota Gresik ini juga mengaku pernah kena marah oleh bu Respati salah satu dosen Pertanian ketika wawancara dengan beliau tentang kejelasan alur dana praktikum untuk majalah Canopy pada tanggal 20 Agustus 2007 pada siang hari yang cerah. “itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya”, aku putri dari pasangan bapak Hari Sucipto dan ibu Ninuk Sukristani ini.

Di pagi yang cerah pada tanggal 30 Nopember Dita mendapat informasi tentang Diklat Lanjut Tingkat Nasional tentang Jurnalisme Sastrawi yang diadakan oleh Unit Aktifitas Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Islam Negeri Malang dengan pemateri Mas Budi Setiono sebagai sekretaris yayasan PANTAU dan bapak Aristides Katoppo sebagai Asisten pemimpin SINAR HARAPAN yang pernah juga menjadi wartawan freelance The New York Times, Dita pun tertarik untuk mengikuti pelatihan tersebut bersama Ayik teman seperjuangannya di Canopy.

Dita berharap dengan mengikuti pelatihan Jurnalisme Sastrawi ini akan mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan untuk Jurnalisme berikutnya.

Posted in: Uncategorized