FORUM BUDAYA

Posted on 6 Februari 2009

0


 

Sebuah Cerita Dari Para Pelukis Di Malang”

 

…….Kami disi sempat diusi sam pak satpol pp karna disangka kami jualan luisan, setela kami jelasakan, akhirnya mereka menerima, kami kumpul-kumpul disisni sebagi entuk solidaritas sama pelukis, selain itu kami ingin memeperikan peltihan melukis bagi anak jalan”

Suasana alun-alun kota Malang terlihat sangat sibuk dengan orang yang beraktifitas, ada pengamen yang meminta-minta pada pengunjung, sebagia ambil foto dan yang lain sibuk memberi makan burung Merpati. Alun-alun kota Malang memang selalu ramai setiap harinya. Pengunjung pun beragam mulai anak-anak sekolah (pelajar) dan mahasiawa. Bahkan orang tua dan ibu-ibu rumah tangga. Mereka sengaja datang sekedar refrising untuk menghilangkan kepenatan. Sekaligus menikmati indahnya alun-alun kota Malang. Suasana alun-alun yang sejuk dengan rimbun pohon semakin membuat setiap pengunjung betah dan nyaman.

Di sudut alun-alun barat daya terlihat sekelompok pelukis tengah berkumpul. Mereka sedang sibuk melukis. beberapa satpol PP melihat apa yang dilakukan kelompok pelukis.

Kami melangkah mendekati kerumunan orang yang sedang asyik ngobrol dan sebagian lagi sedang melukis seorang teman perempuannya di depannya. “Silahkan gabung di disi mas”, salah satu diantara mereka menyapa aku dan teman-temanku. “ini ketua kami kalau mau nanya-naya” tegas seorang laki-laki yang berambut gondrong sambil menunjuk pada salah seorang yang usianya di atas 50-an.

Di tengah kerumunan duduk seorang laki-laki yang usianya berkisar diatas 50an memperehatikan lukisan-lukisan yang berderet di pagar alun-alun. Di tangannya terlihat menggenggap permen Jehe. Sesekali kepulan asap rokok dari para pelikis salaing berbaur. Suara bising mobil dan sepeda motor tidak mengusik konsentrasi Komonitas pelukis yang sedang melukis menumpahkan ide cemerlangnya diatas kanfas. Kemudian laki-laki itu berdiri “Mas sini gabung gak apa-apa” ketua pelukis itu memanggil aku dan ketiga teman. Kemudian dengan senang hati kami berempat denngan antusias menghapirinya. Kemudian kami pun saling berkenalan.

Nama saya Junika”,

Abdul Ahmat (P. Ahmat)”, dengan simple dia memperkenalkan diri.

Dan ketiga teman saya ini, mahmudi, A’yun, Muhlasin”, Junika memperkenalkan kita sekaligus.

Kemudian kita pun bersalaman. Tapi Cuma dengan P. Ahmat karna yang lain sedang sibuk melukis. Maunya aku mau bersalaman dengan yang lain juga, tapi aku urungkan niat itu karna takut mengganggu. Setelah saling berkenalan kemudian kita saling bercakap-cakap.

P. Ahmat (Abdullah Ahmat) (68), berkulit sawu matang. Hidung tidak terlalu mancung dan juga tidak pesek. Tinggi badan sekitar 65. rambutnya lurus tipis. Dan sorot pandangan sangat tajam. sikapnya lebut ramah dan mudah bergaul. Termasuk dengan teman-tamanku. Baru saja kenalan, dia sangat akrab dengan kami. Dia banyak menceritakan kisah pengalamannya melukis. Menurutnya dia menjadi pelukis tidak melalui pendidikan formal. Tapi dia belajar secara otodidak. Meskipun belajar secara otodidak lukisan beliau sangat bagus. Ada sekitar 6 lukisan yag dijajar berderet disandarkan pada tembok pagar alun-alun. Ada lukisan yang mengambarkan kota, dengan kepadatan serta gedung-gendung btinggi. Ada yang menggambarkan suasana alulun dengan enggel pohan dihiasi serabut belukar dan di bawahnya terlihat seorang gadis dengan rambut terurai sedang duduk menyendiri. Dan gambaran pada lukisan itu persis sama dengan pohan yang di sekitar alun-alun. Dan sebagian yang lain mengambarkan sesosok laki-laki yang gondrong dll. Karya Lukisan-lukisan yang dihasilkan mencerminkan hiruk pikuk kehidupan di perkoataan.

Bukan hanya lukisan yang dihasilkan kelompok yang beranggotakan 20 orang ini yang bagus, tetepi kepedulian untuk melestarikan budaya “keriatifitas”, (seni lukis) seharusnya pendapat apresiasi dari pemerintah. Akan tetpi menurut penuturab P. Ahmat selaku kordinator sekaligus ketua perkumpulan senilikus, perhatian dari pemerintah terutama Dinas Parawisa dan Kebudayaan (DIS PAR BUD) kurang dan bisa dikatakan tidak terlihat dan kurang menyentuh pada masyarakat. Akan tetapi kelompok yang beranggotakan 20 meski tidak memiliki label DIS PAR BUD yang bertugas memelihara dan melestarikan kebudayaan. Kelompok ini memiliki kepedulian dan perhatian yang sangat tinggi pada keberadaa budaya terutama senilikus. Ini bisa dilihat dari kepedulian mereka untuk memeberikan palatihan secara geratis kepada anak jalan, dan sebagian anak TK. Orang seperti inilah pejuang sejati. Karma ditengah kehidupan yang serba hidonis dan matreialisme apa lagi di kota besar seperti kota Malang. Ternyata mereka masih peduli memberika bimbingan kepada anak-anak termasuk jalanan dengan geratis.

Semangat mereka untuk melestarikan seni lukis memang sangat besar. Buktinya walau hanya berbekal alat seadanya mereka tetap melaksanakan kegitan pemimbingan pada anak-anak yang sebagian terdiri dari anak jalanan. “Tikar ini ada orang yang memeberi”, ungkap P. Ahmat sambil menunjuk pada alas tikar yang sedang kami duduki. Kelompok ini hanya berbekal tikar dan kanfas sedanya dalam emberikan pelatihan. Saat kami tanyai kenapa mereka memilih alun-alun sebagai tempat mereka. Karana menurutnya alun-alun mereuapakan tempat yang setrategis mudah dijangkau oleh mesya rakat. Sebelumnya mereka pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Alasan yang paling menguguh karma mereka melihat anak-anak yang sering berkeliaran ditempat itu, termasuk anak jalanan. Mereka iningin menamkan nilai seni dengan memeberika pelatihan secara Cuma-Cuma. Akan tetapi mereka mengakui sulit untuk mengkordinasi mereka, selain karma tempat dan kehidupan mereka yang dituntut untuk mencari uang.

Kelompok yang menakan komonitas seni lukis Malang ini, menempati alulun sekitar 4 bulanan. Komonitas ini pernah diusir oleh satpan (petugas Satpol PP) saat hendak mennempati pertamakali, dan diminta surat ijinnya. “Jelas kami tidak memeliki ijin”, ujar P. Ahmat. Mereka dikira akan berjualan lukisan ditempat ini oleh petugas satpol. Memang alun-lun kota Malang tidak diperbolehkan bagi Pedangang Kaki Lima (PKL) meski kenyataannya masih ada PKL yang nekat mencuri-curi setat. Pamphlet-pamflet larangan berjualan hampir ada disetiap sudut alun-alun. Tetapi karna tuntutan untuk makan para PKL itu tetap mencoba berjualan disan, selain karna memang tepat itu sangat padat pengunjung.

Tetapi P. Ahmat selaku ketua (kordinator) tidak menyerah begitu saja. Selain mereka memang tidak berniat berjualan di alun-alun, melainkan tulus untuk menghidupkan nilai-nilai seni yang hampir punah oleh menjamurnya tegnologi yang menawarkan hidup serba instant. Kemudian P.Ahmat menjelaskan maksud dan keberadaan teman-temannya di alun-alun. “lihat anak-anak jalan itu pak, siapa yang mempedulikan mereka”, ungkap P. Ahmat seraya mengesprisakinan kepada aku dan ketiga temanku. Kemudian setelah melewati perdebatan yang alot akhirnya mereka dibiarkan untuk melakukan kegiatannya.

Saat ditanya harapannya kedepan, P. Ahmat berharap pemerintah memperhatikan nasip pelukis agar kegiatan lukis melukis tetap eksis dan digemari oleh anak-anak. Tiba-tiba anak-anak jalan menghampirinya. “O..o artisnya ada disini”, seru dua anak jalan, anak jalan itu sebelum aku dan ketiga temanku berkenalan P. Ahmat sudah tau teman-teman. Waktu itu di meminta uang “Kamu minta aja sama bak itu, dia itu artis” aku menunjuk A’yun. Ya begitulah kiria-kira kenapa saat aku dan ketiga temanku ngobrol tiba-tiba dia berteriak bilang artis.

Suatu nilai lebih dari P. Ahmat, dia terlihat akrap dengan anak-anak jalanan. Meski anak jalanan itu terlihat kumuh dan kotor tetapi P. Ahmat tetap memeluk dan merangkul kedua anak jalanan. “Ya mereka-meraka ini yang kita ajari” ungkap dia sambil mengusap-usap kedua kepala anak jalanan. “Bapak minta uang” ungkap indah sambil menengadahkan tangangannya. “bapak tak punya banyak uang”, kemudian tangan P. Ahmat perlahan meraba saku celanaya nampak terlihat dua lembar kertas uang Rp. 2000,. Kemudian P. Ahmat memberikan selembar uang itu kepada kepada anak jalanan. Sementara selembarnya lagi ia masukkan ke dalam saku kaosnya “Ini bagi dua”, P. Ahmat meminta agar uang dibagi dua. Kedua anak jalanan itu saling berebutan. Setelah beberapa selang kemudian merekapun membagi dua. “kamu ada uang recehan kan” ungkap indah sambil menodongkan selembar uang itu kepada teman sepermainannya Sri Wahyni. “Entar tak cari dulu”, Sri Wahyni meraba kocek hasil dari mengamennya.

Sebuah keunikan dan sekaligus pemandangan yang langka. Seorang pelukis yang tidak hanya bisa mengeksplorasi bentuk alam kedalam kanfas. Tetapi dia sekaligus memiliki kepedulian pada sesama. Mungkin suatu hal yang amat langka dan jarang kita temui sekarag, seorang relawan “pembimbing” mengajarkan tata cara melukis menumpahkan segala ilmunya demi membuminya nilai-nilai seni melukis pada diri anak sejak dini. Dan hal yang tidak bisa dihindari ketika anak bimbingnya menegadahkan tangan meminta uang dia harus mengasak sakunya. Dia adalah pahlawan sekaligus pejuang yang patut digugu dan ditiru. Ditiru karna dia tetap memperjuangkan agar supaya senilukis tetap diminati, dengan memberikan pelatihan geratis. Dan patut digugu karna dia juga memiliki kepedulian sosia tidak hanya nilai seni yang ditekuninya, akan tetpi dia rela memberikan uang pada anak bimbingnya. Sangat kontras dengan kenyataan sekarang mana banyak orang memberikan pelatihan, tapi ujunh-ujung mereka pada metere. Memungut dari pserta yang dilatihnya.

Mumgkin kita sulit melihat sosok seperti P. Ahmat yang memiliki kepedulian pada orang pinggiran, seperti pengamen dan anak-anak jalanan. Dia tidak dibayar, bukan berarti dia tidak butuh pada hal itu. Karna dia juga memiliki keluarga “istri”, akan tetapi dia bisa menyisihkan waktunya setiap minggu memberikan bimbingan pada anak-anak jalanan.

Mungkin kita akan bertanya, dan berandai bila saja pemerintah memiliki kepekaan dan kepedulian seperti P. Ahmat betapa bestari bangsa ini. Tapi bukankah memang ada dinas yang bertugas untuk melestarikan dan memelihara setiap kebudayaan “DIS PARBUD” lalu untuk apa lembaga itu dibentuk. Dan untuk apa bangunan-bangungagah itu didirikan, sementara orang seperti P. Ahmat harus membuka setan ditempat yang kurang layak.

Bukankah gedung yang dibangun itu adalah uang rakyat. Lantas mengapa fungsi dari gedung itu cenderung lebih dekat dengan orang-orang yang berduit. Sementara oaring seperti P. Ahmat, dan anak-anak jalan itu jauh dari perhatian. Apakah karan mereka orang pinggiran.

 

 

 

Posted in: Uncategorized