Di Balik Kisah Pedagang Kerajinan Tangan Pasar Songgoriti

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

Pasar Songgoriti terletak di kawasan pegunungan kecamatan Batu, kurang lebih 5 km dari kota Malang Jawa Timur. Pasar ini sering menjadi tempat singgah para pengunjung objek wisata setempat, untuk sekedar lewat ataupun membeli oleh-oleh sebelum kembali ke rumah masing-masing. Apalagi kolam renang Tirta Wisata, satu dari tempat wisata di Songgoriti, berada tepat di sudut kanan sebelum perempatan pasar dari arah kota Malang. Hal ini tentu menguntungkan para pedegang. Terlebih saat akhir pekan. Setelah menghabiskan waktunya untuk berenang, umumnya pengunjung Tirta Wisata menyempatkan diri mencari barang-barang yang mereka minati di pasar Songgoriti.

Toko-toko pasar Songgoriti tertata rapi bergandengan dengan hanya tersekat papan pembatas antara toko satu dengan yang lainnya.

Terdapat banyak macam barang yang dijual di pasar tersebut. Salah satunya pernak-pernik kerajinan tangan dari kayu seperti tas, dompet, sandal bakiak, alat musik tam-tam, gendang, replika motor, sepada, mobil hingga wajan, panci, nampan dan sebagainya.

Sumarni, seorang pedagang kerajinan tangan mengaku telah menjalani profesinya selama lima belas tahun. Bisnis ini merupakan warisan dari orang tuanya. Selama kurun waktu ia berdagang, posisi bidak (satu petak pertokoan) miliknya selalu berpindah-pindah, seiring pembaharuan sarana dan prasarana pasar oleh pemerintah desa setempat. Tapi ia selalu mendapat tempat ganti di pasar Songgoriti ini, karena telah membeli bidak di pasar ini pertengahan tahun 1998 lalu saeharga Rp.20 juta. Sehingga namanya telah tercantum pemenintahan desa Songgoriti, sebagai pedagang berhak menempati salah satu bidak.

Selain kerajinan tangan tersebut di atas, ia juga menjual aneka ragam boneka, slayer, selendang dan syal yang tidak terdapat di toko kerajinan tangan lainnya. Barang-barang ini ia datangkan dari Bandung. Untuk alat-alat musik gendang dan tam-tam kecil, Sumarni menjalin kerjasama dengan pengrajin asal Blitar. Sementara tas, dompet dan Syal dengan logo tim sepak bola Arema berasal dari daerah lokal Malang. Harga satiap dagangan Sumarni bervariasi. Mulai dari Rp.7.500 sampai Rp.100 ribu.

Dari hasil usahanya, perempuan setengah baya ini meraup keuntungan antara Rp.1 hingga Rp.2 juta per-hari. “Biasanya kalau hari-hari libur, seperti sabtu minggu, bisa memperoleh laba Rp.2 juta. Tapi kalau senin sampai jumat, paling banyak cuma Rp.1 juta,” jelasnya sambil tersenyum ramah.

Untuk melepas daganganya pada pembeli, Sumarni tidak banyak mengambil untung. “Pokoknya masih untung Rp.1000 atau Rp.2000, barang saya lepas,”kata Sumarni.

Di seberang jalan tempat Sumarni berdagang, juga terdapat toko serupa. Terlihat seorang pria berumur 25-an tahun sibuk melayani pembeli.

“Berapa mas?” Tanya salah seorang wanita. Pria bernama Sumanto itu sejenak memperhatikan tas buatan Malang di tangan calon pembelinya. “Dua puluh,” Sumanto menawarkan harga. “Ah, mahal amat, delapan ya?” tawar wanita itu. “Wah mbak, belum dapet mbak. Lima belas deh?” kata Sumanto. “Udah pasnya berapa?”

Setelah sepakat pada harga Rp.12 ribu, Sumanto membungkus tas produk lokal itu dalam sebuah plastik kresek hitam dan memberikannya pada wanita itu. “Dompetnya nggak sekalian mbak?” Tanya Sumanto. “Nggak, kapan-kapan lagi aja kalau ke sini lagi,” jawab pembeli. “Terima kasih mbak,” ungkap Sumanto. Setelah saling melempar senyum, hubungan pembeli dan penjual ini pun berahir.

Sumanto adalah pria asal Kepatihan Tulung Agung. Ia baru berdagang di pasar Songgoriti ini dua tahun lalu. “Saya dulu jualan alat-alat dapur seperti wajan, panci, ulekan dan semacamnya. Waktu itu saya tidak punya tempat seperti ini (bidak). Saya biasa ngemper (membuka lapak di pinggir jalan pasar),” cerita Sumanto. “Kemudian setelah satu setengah tahun, seorang pelanggan asal Batu bernama Sukoco yang sedang membeli wajan pada saya, menawarkan pada saya untuk berdagang disini,” kata Sumanto.

Dalam mamperoleh bidak, Sumanto tidak bersusahpayah mengeluarkan uang Rp20 juta seperti Sumarni. Sukoco yang telah lama berjualan rujak manis, menyerahkan pengelolaan bidaknya pada Sumanto. Sebagai gantinya, Sumanto hanya menyetor bayaran pada Sukoco sebesar Rp.1 juta 200 ribu pertahun.

Meskipun kini ia berdagang kerajinan tangan seperti Sumarni, tapi ia masih menjual barang-barang yang ia jual sebelumnya, misalnya panci dan wajan. Selain itu ia juga menjual lukisan kaligrafi arab yang dititipkan orang dari Jogjakarta.

Berbeda dengan Susi, pedagang yang menempati bidak tepat di samping kanan gerbang utama kolam renang Tirta Wisata. Ia berdagang pernak-pernik kerajinan tangan di pasar Singgoriti baru seusia anaknya, yakni empat tahun. Hal ini, menurutnya dilakukan karena terpaksa. Sebenarnya, pascakelulusannya dari SMK Islam Bisnis Manajemen (IBM) Batu Malang, ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia sempat mendaftar sebagai peserta SPMB di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.

Sebelum ujian dimulai, sebuah kecelakaan hidup terjadi. Ia melakukan hubungan intim dengan kekasihnya yang notabene pemuda satu kampung. Harapan Susi semakin berantakan setelah dokter menyatakan dirinya positif hamil. Akibatnya, Susi terpaksa memadapkan harapan mengenyam bangku kuliah dan harus menikah dengan kekasih yang membuatnya mengandung seorang janin.

Kini susi telah hidup bertiga dengan suami dan anaknya. Setiap hari suami susi bekerja sebagai calo. Sementara sang buah hati diasuh neneknya. Terhitung dari jam 09.00 pagi hingga jam 20.00 Susi menjaga toko demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

Posted in: Uncategorized