ABOUT FAUZIAH FROM MU WITH LOVE..

Posted on 6 Februari 2009

0


 

 

 

OSPEK 2007, Pagi pkl 05.00 wib, Semua mahasiswa baru yang tidak saling mengenal satu sama lain di perintah untuk mencari kelompok OSPEK mereka sendiri-sendiri, diantara banyak anak yang tidak saling kenal satu sama lain, semua raut wajah mencerminkan keadaan takut dan malu yang bercampur jadi satu dalam satu wajah yang lugu, kemudian di berbagai sudut kampus terdengar lengking teriakan yang bersumber dari mahasiswa baru yang membawa tulisan angka-angka kelompok OSPEK mereka, kemudian terlihat satu cewek berkulit kuning langsat yang mempunyai pandangan tajam meneriakkan angka dua satu berkali-kali, belakangan ku ketahui namanya Fauziah. Perawakannya tidak begitu pendek walaupun juga tidak terlalu tinggi. Waktu terus berjalanan dan akupun telah menjadi seorang mahasiswi semester satu, di dalam lalu lintas perkuliahan yang terus berjalan aku selalu bertemu teman-teman baru, kemudian tersebutlah Fauziah, mahasiswa semester satu jurusan ekonomi manajemen, menjadi salah satu dari teman baruku itu, langkahnya tegas seakan-akan berani untuk menantang apa saja yang akan dihadapinya, tapi langkahnya juga mencermikan seorang pribadi yang rendah hati.

Tidak banyak orang yang tau kalau gadis yang masih tinggal di mabna ummu salamah itu mempunyai nama lengkap Ifa Fauziah Hasan.Gadis yang biasa dipanggil Ifa oleh teman-temannya itu lahir dan besar di Probolinggo, dia merupakan seorang yang mempunyai pribadi supel dan hangat.”… dia tuh orangnya supel, ramah, dan juga suka bercanda,” kata Naseh, teman satu organisasi Ifa.

Ifa kecil dan keluarga tinggal di kecamatan Kraksan, desa Semampir, kota Probolinggo. Dikisahkan bahwa Ifa adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, kakaknya merupakan seorang aktivis kampus, ” semangat membaca untuk menulis” merupakan sebuah kata dari kakaknya yang menjadi influence untuk Ifa dalam menjalani aktifitas kepenulisan yang baru-baru ini mulai aktif dijalaninya.

Gadis yang memiliki sifat penyayang ini juga merupakan mahasiswi yang bertanggung jawab dalam tugas perkuliahannya, juga konsisten untuk menjalani apa yang sudah ia dapatkan saat ini. Semakin hari, aku bertambah dekat dengan Ifa, dan banyak kisah yang tersurat dari cerita hidupnya. Masa kecilnya merupakan proses melarikan diri untuk sekedar bisa bercengkrama dengan teman sebayanya, bermula dari kakak perempuannya bernama Lailatul Saidah (6 th) yang keluar rumah tanpa meminta izin dari ayahnya, kemudian tanpa terduga meninggal dunia akibat tertabrak mobil di jalan raya.Sejak saat itu Ifa kecil tak pernah bisa dengan leluasa untuk bermain-main dengan teman sebayanya, Seperti yang banyak orang tau dunia anak kecil adalah bermain, coba sebutkan anak kecil mana yang suka dibatasi tiap gerak-geriknya?, pasti semua anak akan mencari cara untuk bisa mengekspresikan apa yang mereka pikirkan termasuk Ifa. Satu-satunya waktu yang dipunyai untuk bisa “kabur” dari rumah adalah ketika kegiatan les tiba, bagi anak lain keluar bermain setelah kegiatan les berakhir adalah sesuatu yang biasa, tapi tidak bagi Ifa, keluar bermain bersama teman-temannya bagaikan hadiah paling berharga, waktu les yang menyenangkan bersama teman-teman usailah sudah, akhirnya saat bermainpun tiba, kesempatan yang sempit itu digunakan Ifa untuk bermain ke rumah teman-temannya yang jauh, kegiatan itu berlangsung sering meskipun tidak setiap hari dilakukan.

Waktu kembali bergulir terus menerus seperti biasa, sampai akhirnya Ifa kecil telah lulus dari MI.Nahdhatul Ulum, kemudian dia meneruskan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertamanya di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, di tempat baru yang ditinggali, Ifa bahkan merasa senang, karena mempunyai banyak teman baru. Semua yang dikerjakan bersama-sama dengan teman barunya dilakukan dengan senang hati, bahkan di Pondok dia lebih sering jalan keluar dengan teman-teman barunya tapi semua kegiatan dilakukan dengan meminta izin kepada orang tuanya terlebih dulu. Hmh…. sungguh anak yang baik. Pernah satu kali Ifa dijuluki sebagai anak pingitan, hanya karena dia selalu izin ke orang tua tiap kali akan melakukan sesuatu. Belakangan dia mulai menyadari kalau dia mempunyai rasa sayang yang begitu besar kepada kedua orang tuanya, dan ayahnya melakukan semua proteksi selama ini adalah bentuk kasih sayang bercampur rasa takut kehilangan yang begitu besar terhadapnya, terlebih orang tuanya pernah kehilangan anak perempuan karena kelalaian.Sampai sekarangpun ketika Ifa sudah menjadi seorang mahasiswa proteksi itu tetap berlanjut dengan tidak diperbolehkannya Ifa untuk naik angkot apalagi untuk naik bis sendirian. Ifa masih seperti anak kecil yang terus diantar ketika berangkat dan dijemput ketika pulang.

Di luar semua aturan antar-jemput tadi, Ifa yang sekarang menjadi temanku adalah seorang pribadi yang tangguh walaupun kadang dia tidak tau apa yang menjadi keinginannya, dan bagaimanapun, di balik sifatnya yang penyayang dia merupakan seorang yang cukup bisa diandalkan.

 

Posted in: Uncategorized