KUMPULAN PUISI TANPA JUDUL

Posted on 18 Januari 2009

0


Tanpa kau:
Malam masih bergandeng keramaian
Anginpun merangkul pohon cemara dengan mesra
Gemerincik air diantara batu mengulas indahnya laju hidup
Di mana engkau berada disenggang waktu semalam.
Malang 01/11/2008
Jika tangisan adalah ungkapan bahasa
Lantas dengan apa kau memaknainya
Perlu kau ketahui bahwa himpitan hidup
Mendesaknya untuk hal itu
Tentu kamu tau atau sekedar berpura-pura
Jika setiap tangis adalah doa lantas dengan apa
Kamu mengabulkannya
Ketenangan tentu takcukup karna kompleksnya hidup
Lantas jaminan hidup macam apa yang akan kau suguhkan
Tentu hal ini adalah tanya yang orang2 bilang kesesatan
Namun bila hal itu penting biarlah tersesat sesaat karna pencarian tentangmu
Jangan biarkan tanyamu menjaukan langkah.
Malang 24/10/2008
KENAPA
Kenapa aku begitu mencintaimu
Kenapa juga aku menghawatirkanmu
Kenapa aku sangat gelisah ingin jumpa denganmu
Kenapa pula dirimu tak jua mengerti akan gelisahku
Kenapa sulit rasanya aku menepis semua perasaanku padamu.
Malang 29/09/2008
Kerinduanku melekat pada senja
Melambai harap dititian doa
Jangan kabarkan mimpi tentang malam
Yang bertabur bintang
Aku akan selalu mendambamu
Selagi siang/malam menjadi nafasku.
Malang 29/09/2008
Hidup adalah pilihan
Percikan kata terkadang menjadi luka
Hingga senyum tulus menjadi hampa
Jika pertemanan ini masih bisa dirajut
Maka biarkanlah kenangan mengurai makna
Pada tiap hela’an nafas.
Malang 25/09/2008
Sebatas aku mampu menggapai
Sebisa kaki malangkah
Lantasa kenapa mesti berpasrah pada ketentuan
Yang tak mesti
Ada kenyataan yang bisa dilampaui
Lantas kenapa pula
Hanya mengamininya
Tak adakah gerak nyata
Malang 23/10/2008
Mengingatmu laksana
Membuat lukisan di padangpasir
Hembusan angin yang tak pernah mau tau akanku
Semakin menjauhkan harap dan mimpiku
Tentangmu
Gesekam bumi hatiku menghalau
Segala hasrat akanmu.
Jangan tanyakan lagi
Malang 23/10/2008
Selebihnya maafkan aku
Maafkan atas kesengajaanku yang
Telah mencintaimu
Tapi kenapa mesti minta maaf?
Alah !! biar itu hanya apologi saja
Tapi jangan kau racuni aku lantaran cinta ini
Biarkan aku menikmatinya
Kuharap kamu bisa paham
Pasti kamu akan bertanya, kok bisa ?
Aku tidak perlu menjelaskan hal itu
Karna cinta tidak bisa dijelaskan
Tapi untuk dirasakan
seperti aku yang merasakannta saat ini

Malang 23/10/2008
Ibu
Dengan apa aku harus berterimakasih, seluruh raga dan jiwa, adalah kasihmu
Langkah yang kugayuh berkat doamu, apa yang kusaksikan hanya engkau nampak
Ibu perjuangan dan jasamu adalah lentara di kehidupanku, keringat yang mengalir dari pundakmu adalah amanat bangsa untuk anakmu untuk selalu gigih menghadapi hidup.
Walau engaku terkadang tersandung saat menyuapiku, namun kau tetap peluk aku
Aku bagai raja kecil disimu, tahun-tahun berjalan kau bekali restu untukku
Saat ganas kota mencabik sum-sum yang kau tanam, perlahan lirih doa mengaliriku
Karnamulah aku mampu berdiri dan bisa menyaksikan isi kehidupan
Tabanyak yang bisa aku katakana tentangmu, karna akan semakin mempersempit nilai
Karna kutau semua apa yang kau berikan padaku lebih dari apapun sampai saat ini
Dan aku takkan mampu mempijakkan kaki kehidupan tanpa lantaran engkau
Malang 01-02-2008
Butir-butir kemangi
Embun pagi masih melekat pada tangkai kemangi
Burung-burung pada datang menyeka pagi
Kicaunya pada risau
Pada kuncup itu tengadah embun
Udara pagi yang dingin menghanyutkan para pejalan kaki
Selintas kukupu mencuri pandang
Dengan tarian-tariannya yang khas, “tak ada pencabulan dan persenggetaan”
Sanggup kita meniru keramahannya dan segala keunikannya
Sentuhan udara pagi bagai menyulam hidup ditegah kegersangan
Aroma itu sungguh menggagas kesamaan pada para lalu lalang adam
Tak ada konflik,
Malang 30-01-2008
Perjalan hidup
Apa yang bisa dikutip orang dari rangkaian cerita paginya
Segalanya hampa, tak ada ruas melepas asa jiwa
Sudut pagi pun enggan mengurai perjalanannya
Riak air mata di ujung sajadah tak mampu mengeja
Mungkin kita lupa pada awan yang bersolek
Dan kita pun sekan tutup mata pada keranjang Tani
Di helai keringat yang menguning
Tersirat doa
Sebentar disana ada kerumunan yang membius waktu
Jangan lupa bawa catatan itu tuk esok
Agar tak ada alas an lupa rangkaian peristiwa
Dan ingat air mata mereka bukan pemandian suci
Apa yang bisa kita petik dari pehon yang krontang
Hanya bisa menyisakan getir dan kengerian
Bukan-bukan gundukan emas yang di harap
Tapi keadilanlah dalam hidup
Malang 30-01-2008
Jangan ada senyum
Jangan ada senyum di bibir bisamu
Cukup laki menjadi lunglai olehmu
Masih ada banyak hal yang penting dari pada itu
Bukan kah engaku pun jenuh di atas keperihan hidup
Buang saja lipstik itu
Masih ada yang lebih bermakna
Sebenarnya apa yang kau sukai
Dari pada warna itu
Apa yang kau ingini
Jangan kau tebar aroma di ujung trotowar
Jalan masih bising degan mesin-mesin
Apa yang kau tarik dari keindahan tubuh
Dan palingan bibirmu
Malang 30-01-2008
Pengakuan
Yaaa …….Allah sungguh karnamulah aku ada disini. Da engakau ibu, aku banyak berdoasa padamu. Aku sesalu menyakiti perasaanmu, tapi engkau ttap tidak berubah.
Keakuan
Aku berfikir tentang aku
Dan keakuan itu terasa sulit untk kuterjemahkan
Hingga mata ini pun enggan meneggelamkan dalm felamboyan mimpi
Km sedang apa disana?
Aku disini bermuram durja dalam bayangmu.
Malang 15-10-2008
AKU MENCINTAIMU
Kesempurnaan adalah dambaan tiap manusia
Tapi keterbatasan terkadang tek ter elakkan
Diri pun terasa kerdil dalam mengartikan fluktuasi hidup
Bukan hidup yang kusesali tapi
Hidup yang tidak hidup
Malam-malam aku sendiri hanya
Dingin yang menekankan pada
Kegelapan
Tak ada angin
Tak ada apa pun
Aku tidak menyesal kete kamu
…… masih ingatkah kamu
Saat aku menyatakan cinta padamu
Sungguh aku teraliniasi dalam
Kepekatan rasa yang kau ramu dengan bercak
Bercak suara
Yaa suaramu yang khas telah merobohkan hatiku.
………. aku mencintaimu
Malang 12-10-2008

Posted in: Uncategorized